Rahasia Jurus Pelestarian Lingkungan di Jerman yang ‘Hijau’ (2)

504
Keterangan foto: Panorama hutan di Thüringen, Jerman Tengah. (wikipedia)

Keterangan foto: Panorama hutan di Thüringen, Jerman Tengah. (wikipedia)

Oleh: Wen Jing

Debat Penggunaan Insektisida Di Seberang Lautan

Pada 1962, buku berjudul “Silent Spring” karya ahli biologi kelautan AS Rachel Louise Carson telah menjadi pemicu perkembangan pesat pelestarian lingkungan hidup di AS maupun di seluruh dunia.

Kejadian berawal dari sepucuk surat yang dilayangkan seorang pengawas kawasan suaka burung kepada Rachel, memberitahu kepadanya bahwa DDT telah menyebabkan satwa unggas terancam punah, dan berharap agar Rachel menggunakan pengaruhnya untuk menghimbau agar pejabat pemerintah menyelidiki dampak penggunaan DDT tersebut. Rachel merasa cara yang paling efektif adalah menulis artikel di majalah untuk mengingatkan masyarakat, namun kalangan media tidak tertarik memuat artikelnya, akhirnya dia memutuskan untuk menulis buku tentangnya. Waktu itu status Rachel di bidang ilmiah sangat penting, sehingga dia bisa mendapatkan bantuan dari sejumlah pakar biologi, kimia, patologi, serta entomolog (pakar serangga), dan dia menguasai berbagai bukti akan dampak penggunaan DDT dan herbisida yang berlebihan terhadap mahluk hidup, seperti dampak DDT terhadap telur sejumlah unggas yang mengakibatkan telur unggas tersebut tak dapat menetas.

Dengan gaya literatur plus dan lebih mengesankan dia menulis buku itu yang dirampungkan dalam 4 tahun. Sebelum buku itu sempat terbit, Rachel mendapat serangan dari berbagai media massa yang didukung oleh produsen DDT dan Departemen Pertanian, dengan menudingnya sebagai “seorang wanita yang histeris”. Pada 1962, buku “Silent Spring” resmi diterbitkan, banyak perusahaan besar memberi tekanan menuntut agar buku itu dilarang untuk terbit, namun sebaliknya justru semakin memicu perhatian masyarakat, Rachel menerima ratusan pucuk surat yang memintanya untuk berpidato, buku itu pun menjadi salah satu buku terlaris dunia saat itu.

Insektisida mulai menarik perhatian luas masyarakat dunia, dan pada 1963, dalam acara di stasiun TV Columbia Broadcasting AS, Rachel diundang bersama dengan seorang juru bicara dari perusahaan kimia untuk berdebat. Di akhir tahun dia terpilih sebagai akademisi di American Academy of Arts and Science serta meraih berbagai penghargaan. Hal yang terpenting adalah, hal ini mendapat perhatian khusus dari pemerintah Amerika, terakhir kalinya Rachel menampakkan diri di depan publik adalah saat bersaksi di depan Komisi Investigasi Dewan Senat AS, dan sejak 1972, di seluruh Amerika penggunaan DDT pun dilarang. Produsen AS pun mulai memindahkan pabriknya, namun berbagai negara di dunia pun meniru langkah AS, dan saat ini hampir di seluruh dunia sudah tidak ada lagi pabrik produsen DDT.

Manusia Akhirnya Menyadari: Pencemaran Lingkungan Merusak Kesehatan

Di era tahun 50-an manusia baru mulai mengkhawatirkan masalah pencemaran lingkungan terhadap kesehatan manusia. Sebelumnya, cerobong asap yang terus mengepul adalah simbol kemajuan industri dan kehidupan yang makmur. Aliran sungai yang berkelok-kelok dibuat menjadi lurus, menebang pohon, membuka lahan, menguras air di rawa-rawa, semua upaya “mengubah alam” ini dipandang seolah manusia telah menang melawan “musuh”-nya, yakni alam.

Tapi perkembangan industri yang cepat itu juga telah mendatangkan bencana bagi manusia, alam pun mulai membalas. Di dalam sungai mulai tertimbun gunung busa, baju putih yang dijemur di luar rumah menjadi abu-abu karena asap, di musim dingin kabut dan asap menjadi kabut yang membahayakan tubuh manusia dan tidak bisa pudar. Masalah telah mencapai tahap yang tak terabaikan. Seiring dengan semakin meningkatnya rasio terjangkitnya berbagai penyakit di daerah yang tercemar, masyarakat mulai sadar, ternyata yang didatangkan oleh industri tidak hanya kekayaan dan kenyamanan semata.

Kini, kesadaran Jerman melindungi dirinya sendiri agar tidak terkena dampak pencemaran lingkungan telah mencapai posisi terdepan di dunia. Pada 1993 penggunaan asbes telah dilarang di Jerman, sebenarnya setengah abad lalu, masyarakat telah mengetahui bahan bangunan itu berdampak buruk bagi kesehatan. Dan sekarang, begitu suatu jenis produk diketahui membahayakan lingkungan atau tubuh manusia, publik akan meminta agar produk tersebut diturunkan dari etalase toko. Seperti yang ramai diberitakan oleh media massa Jerman belum lama ini, sejumlah insektisida mengandung Neonicotinoid yang berbahaya bagi lebah. Dampak yang ditimbulkan oleh Neonicotinoid terhadap lebah adalah sama dengan efek nikotin pada tubuh manusia, sehingga lebah akan “ketagihan”, sehingga lebih suka mengambil serbuk bunga dari tanaman yang disemprotkan dengan Neonicotinoid. Riset membuktikan, Neonicotinoid dapat merusak kemampuan reproduksi lebah, oleh karena itu organisasi pelestarian lingkungan hidup Jerman pun menghimbau pada kalangan bisnis agar mengembangkan insektisida jenis baru untuk menggantikan Neonicotinoid.

“Salah Kaprah” Pelestarian Lingkungan, Salah Kaprah Terindah di Dunia?

Sejak awal era 80-an, media massa Jerman terus memberitakan bahwa hutan sedang di ambang kematian. Pada 1983 majalah “Der Spiegel” memuat artikel berjudul” “Yang Kita Hadapi Adalah Hiroshima Dalam Ekologi”. Pulau Hiroshima di Jepang adalah tempat dijatuhkannya bom atom pada masa PD-II dan menjadi puing. Pada artikel lain pada 1986 di majalah “Der Spiegel” tertulis, “Barisan pohon semakin lama semakin jarang, ibarat prajurit yang berguguran di tengah tembakan meriam.”

Foto dan video di media kebanyakan diambil dari Pegunungan Erz di timur Jerman. Disana sebidang demi sebidang hutan mati, bukan karena hal lain, melainkan karena karbondioksida dalam jumlah besar yang dikeluarkan dari tambang batubara di dekatnya, saat hujan turun abu batubara menempel di daun-daun pohon, menyebabkan pohon menjadi layu. Tapi ini bukan berarti layu dan matinya pohon adalah tren yang menyeluruh. Tapi dua orang pakar yang dikutip pernyataannya oleh media massa, entah kenapa fakta ini terabaikan. Mungkin ini adalah salah satu salah kaprah terindah di dunia: media massa yang memberitakan secara bertubi-tubi membuat masyarakat hanya terfokus pada satu hal: pelestarian lingkungan. Dan tekad masyarakat sangat serempak: hutan sedang di ambang kematian, politisi harus ambil tindakan. Efek berantai yang timbul setelahnya pun jauh melebihi kondisi kematian hutan itu sendiri.

Tak sulit dibayangkan, pada 1983, Partai Hijau yang mempelopori pelestarian lingkungan pun untuk pertama kalinya berhasil duduk di Dewan Kongres. Waktu itu Kanselir Kohl (kanselir dari tahun 1982 hingga 1998) juga melihat era baru dari konsep “hijau” ini, topik pelestarian lingkungan ini pun dimasukkan ke dalam agenda tetap, undang-undang baru pun dikeluarkan, tambang batubara Jerman wajib memasang filter untuk menghilangkan kandungan sulfida pada asap buangan. Kohl bahkan mencetuskan ide baru untuk memastikan kondisi hutan. Ia mengutus tim ke hutan melakukan survey secara acak, mengamati kepadatan hutan dan warna daun untuk mendiagnosa pertumbuhan hutan. Tapi ada juga yang berpendapat bahwa cara ini tidak cocok, karena selain masalah pencemaran lingkungan, juga ada unsur alam yang dapat membuat daun pohon rontok atau menjadi kuning, seperti hujan badai, kecukupan asupan air dan sinar matahari, dan lain sebagainya. Cara Kohl ini tidak akan dapat mengetahui kondisi sebenarnya.

Entah cara itu efektif atau tidak, setiap tahun pemerintah Kohl mengeluarkan “Laporan Tingkat Kerusakan Hutan” (Waldschadensbericht). Tradisi ini terus dipertahankan hingga sekarang, hanya saja namanya telah berganti menjadi “Laporan Kondisi Hutan” (Waldzustandsbericht).

Saat ini, sepertiga wilayah Jerman ditutupi hutan, rasio ini jauh lebih luas daripada di era tahun 80-an. Ada yang mengatakan bahwa begitulah pertumbuhan alami hutan. Ada juga yang mengatakan, ini adalah hasil yang menggembirakan dari kesadaran pelestarian alam. Mungkin pertumbuhan alami hutan memang berkembang secara perlahan, tapi tidak bisa dipungkiri, jika waktu itu media massa tidak memberitakan pencemaran lingkungan secara terus menerus, pemerintah tidak akan mendengarkan aspirasi rakyat untuk melestarikan alam, maka akan ada lebih banyak lagi hutan yang akan ditebang, “membuka pintu terlihat alam hijau” pun hanya akan tinggal impian belaka. (sud/whs/rmat)

TAMAT