Kitab Wahyu di Milenium Baru: Fenomena Aneh Pertanda Peringatan dari Langit (1)

11234
Keteranga foto: Foto suar surya, NASA Goddard Space Flight (public domain)

Oleh: Xia Dao

Hidup diantara langit dan bumi, masyarakat kuno mendapat hikmah dan ilham kehidupan dari bulan, bintang, dan matahari, mempercayai hubungan mikroskopik dengan Langit, adanya ikatan batin dengan Langit. Sinar corona, gerhana matahari, gerhana bulan, komet dan pelangi, semua fenomena aneh itu merupakan cerminan bumi dan manusia, adalah pertanda yang diberikan Langit bagi manusia. Sejak jaman dulu kala, manusia hidup terekspos di bawah matahari, bulan, api, air, dan petir, untuk memberikan sekelumit petunjuk atau secercah penerangan bagi manusia yang teramat kecil dan lemah itu, maka hamparan langit yang dipenuhi dengan gugusan bintang itu pun menjadi peta yang sangat membantu manusia untuk bertahan hidup dan mengambil tindakan.

Baik peramal istana di jaman kerajaan Tiongkok kuno maupun peramal/ astrolog dari peradaban Babilonia, semuanya memiliki kemampuan unik mengamati fenomena langit dan meramal masa depan. Di dalam “Alkitab” dan buku-buku sejarah di Tiongkok maupun luar negeri tercatat adanya kisah tentang mengamati bintang untuk meramal masa depan. Hebatnya, ramalan tersebut menjadi kenyataan satu persatu. Di alam bebas, bintang Bethlehem meramalkan kelahiran Yesus Kristus, dan di dalam “Kisah Tiga Negara (Samkok),” Kong Ming (dibaca: Gung Ming alias Zhuge Liang) meramalkan ajalnya akan tiba dengan melihat bintang, ini juga membuktikan antara langit dan manusia terdapat pertalian/padanan yang misterius.

Kini, masa dimana masyarakat kuno masih “mengamati perbintangan dan meramal situasi” sepertinya sudah terlalu jauh. Masyarakat modern telah menjinakkan “suhu udara,” duduk dan tidur di ruangan ber-AC dengan suhu nyaman 26oC, ibarat dua dunia berbeda jika dibandingkan dengan masyarakat kuno yang terpapar hujan dan angin, salju dan dingin menusuk tulang.

Langit di malam hari di masa modern ini, kian hari bintang kian redup, kian jarang terlihat dan kian asing. Di saat hujan meteor bermunculan dengan gugus Gemini di langit malam, disaat bulan yang bulat dan besar mulai menampakkan diri di kala senja, manusia menengadah memandang langit. Akan tetapi itu pun hanya sebatas menjadikan “pemandangan astronomi” itu sebagai suatu pemandangan unik untuk mengikuti tren saja, bahkan dijadikan sebagai “santapan” wisata. Sedangkan pancaindera manusia sekarang tidak mampu mendeteksi fenomena gerhana bulan cincin, gerhana matahari atau komet, yang bagi masyarakat modern, hujan meteor atau turun salju hanya semacam fenomena fisika belaka, bukan informasi yang ingin disampaikan oleh Dewata.

Akan tetapi setelah memasuki milennium baru, langit dan bumi dipenuhi dengan fenomena aneh. Sejak Revolusi Industri (tahun 1760-an) hingga sekarang, karbondioksida hasil ciptaan manusia telah terperangkap di dalam lapisan atmosfir, hal ini memicu perubahan suhu udara semakin dipercepat. Dalam seratus tahun terakhir suhu udara di bumi telah meningkat 0,74oC. Angka yang sepertinya sangat kecil tak berarti ini sudah cukup untuk membuat planet yang rentan ini bergolak dan tersiksa. Cukup untuk membuat “planet yang diciptakan Tuhan sebagai tempat yang paling cocok untuk didiami” ini mundur kembali ke jaman primitif. Di abad ke-21, pembalasan dari alam semesta mutlak tidak akan memberi ampun pada manusia.

Tanpa adanya telinga seorang imam agung dari jaman dahulu kala pun, kita sudah bisa mendengar lonceng peringatan telah dibunyikan di suatu tempat di ujung langit nun jauh di sana. Kita telah melihat langit terstruktur kembali dan kobaran api akibat Supernova yang meledak. Di antara partikel debu, suara gema cahaya akibat ledakan Supernova bergejolak terhantar sampai puluhan juta tahun cahaya, tak habis diutarakan. Milennium baru, di alam semesta ini ada sebuah Kitab Langit yang telah terbuka, meramalkan air, api, angin, dan salju.

Pembalasan Alam Semesta

Memasuki milennium baru, langit dan bumi ibarat memasuki suatu dunia baru. Tak lama setelah tsunami besar, terjadi angin tornado, terlihat pada permukaan danau dua naga menghisap air, awan petir begitu pekat. Belahan selatan bumi, api dan es silih berganti. Kebakaran hebat di hutan sebelah barat, badai pasir berwarna merah-oranye di sebelah selatan bergerak turun-naik seperti kiamat, di sebelah timur terjadi banjir besar langka. Manusia ibarat seekor semut yang begitu kecil timbul tenggelam di tengah angin dan hujan serta meminta pertolongan. Suar matahari yang begitu besar bergantung di atas langit, fenomena yang aneh, tak pelak membuat orang berpikir, “Akan terjadi peristiwa besar apa lagi?”

Di berbagai tempat terjadi beda suhu tinggi dan rendah yang belum pernah terjadi ratusan tahun sebelumnya, tinggi hingga mencapai 45oC, rendah hingga mencapai -93,2oC (kutub selatan). Air terjun Niagara yang deras dan bergejolak membeku membentuk bentangan lapisan es putih kebiruan, air yang tercurah ibarat jenggot seorang tua yang membeku, hembusan hawa dingin secara interval menerpa dari arah air terjun yang membeku itu.

Satu demi satu, Tuhan terus menurunkan kemarahanNya, hujan dan salju yang diturunkan dari langit, manusia menundukkan kepala, terombang ambing di tengah badai salju berkepanjangan. Ibarat seekor sapi Yak yang ambruk di tengah dataran tinggi, atau kambing yang timbul tenggelam di tengah sungai.

“Iklim aneh” yang menempatkan bumi di tengah air dan api ini, sebenarnya adalah semacam pembalasan tanpa ampun dari Langit. Di tengah berbagai fenomena seperti efek rumah kaca, El Niño dan La Niña “cuaca ekstrim” yang tak bisa dilawan merongrong semua tempat. Bumi yang biru mundur selangkah demi selangkah menuju alam liar jaman prasejarah, mundur ke tengah api liar yang mematikan, banjir bandang dan tornado.

Perubahan iklim pernah mengakibatkan kemakmuran juga kemerosotan suatu peradaban dan dinasti. Kemarau berkepanjangan menyebabkan kehancuran Dinasti Tang dan Dinasti Ming, dan bencana kekeringan pada abad pertengahan telah meruntuhkan peradaban Maya, Revolusi Prancis yang mengubah sejarah manusia juga dipicu oleh bencana kekeringan. Di pojok sejarah ini, kali ini, apakah peradaban manusia juga akan berakhir di tengah iklim ekstrim yang kian hari kian parah ini?

Fenomena langit di milennium baru ini adalah sebuah kitab Langit. Sang Pencipta membukakan Kitab Langit ini, menunjukkan kepada kita masa depan yang akan segera terjadi. (sud/whs/rmat)

BERSAMBUNG