Korut Masih Mengimpor Bahan untuk Pengembangan Senjata Nuklir dari Tiongkok

391
Keterangan foto: Sebuah truk bermuatan penuh barang dagangan dari kota Dandong, Tiongkok menuju Sinuiji, Korut terlihat sedang berhenti di depan pos pemeriksaan dekat jembatan perbatasan pada 7 April 2009. (Getty Images)

Oleh Xu Jiadong

United Press International mengutip laporan Hankook Ilbo (Harian Korea Selatan) memberitakan bahwa dalam sebuah seminar yang diadakan oleh Universitas Johns Hopkins, analis  dari Institute for Science and International Security, David Albright kepada wartawan mengatakan, “Belum terlihat ada pembatasan jenis barang ekspor Tiongkok ke Korea Utara.”

Menurut analis tersebut, meskipun sanksi sudah dikeluarkan, namun Korea Utara masih bisa menerima pipa aluminium, pompa vakum, valve (alat pengendali aliran likuid dalam pipa), tabung silider untuk uranium heksafluorida dan berbagai bahan lainnya. David Albright juga menyebutkan bahwa sampai perangkat untuk mengontrol numerik komputer (CNC) pun masih disuplai oleh Siemens (Taiwan) dengan harga yang kompetitif.

Meskipun Korut belum menguasai teknologi untuk merakit dan mengoperasikan komponen kunci dari perangkat sentrifugal gas, namun itu pun bisa mereka peroleh dari luar negeri, demikian analis tersebut menjelaskan.

Pejabat Korut membeli sejumlah perangkat yang dibutuhkan pemerintah melalui perusahaan perantara di daratan Tiongkok dan Hongkong, dan melalui cara inilah mereka menghindari embargo.

David Albright juga membeberkan bahwa para broker yang mewakili perusahaan Pyongyang untuk membeli peralatan dari Tiongkok (termasuk yang diproduksi oleh Jepang) masih dapat menyeberangi perbatasan untuk mengatur pengangkutan barang-barang itu.

Tiongkok kurang bersungguh-sungguh dalam menjalankan sanksi kepada Korut

Meskipun rezim Beijing telah setuju untuk menerapkan sanksi Dewan Keamanan PBB terhadap Korut, tetapi dalam kenyataannya untuk melewati bea cukai kedua negara itu tidaklah sulit.

Dikatakan oleh David bahwa Tiongkok tidak sungguh-sungguh dalam menjalankan sanksi dengan menghukum para pelaku untuk menunjukkan sikap mendukung sanksi.

Data lainnya juga mengarah pada pertanyaan apakah Tiongkok mendukung dan menerapkan sanksi DK. PBB, meskipun ada saja peraturan larangan baru yang dikeluarkan oleh Beijing. Namun volume perdagangan antar kedua negara itu masih terus berkembang.

Juru bicara Kantor Bea Cukai Tiongkok Huang Songping pada April lalu mengumumkan, jumlah transaksi perdagangan Tiongkok – Korut Maret 2016 adalah USD.491.8 juta, naik 20 % dibandingkan dengan Maret tahun lalu.

Jepang mewaspadai perkembangan program senjata nuklir Korut

Dalam pidatonya di Kongres Ketujuh Partai Buruh Korea Utara, Kim Jong-un dengan tegas menyatakan bahwa Korut tidak akan meninggalkan program pengembangan senjata nuklir bahkan berencana untuk  meningkatkannya. Ia juga mengklaim bahwa Korut adalah negara nuklir yang bertanggung jawab. Meskipun demikian, baik Korea Selatan dan masyarakat internasional tidak mengakui Korut sebagai negara pro nuklir yang konsisten.

Wakil Menteri Luar Negeri Jepang Seiji Kihara mengatakan, “Menggunakan kepemilikan senjata nuklir sebagai prasyarat tidak dapat ditoleransi.”

Sementara itu Masahiko Shibayama kepada wartawan di Tokyo mengatakan, “Korea Utara perlu menunjukkan sikap dan tindakan yang mampu mengatasi kekhawatiran masyarakat internasional.”

Untuk itu ia menuntut negara itu tidak melakukan provokasi dengan uji coba nuklir. (sinatra/rmat)