Obsesi Manusia Kian Meningkat Pada Ponsel (2)

278
ponsel
Menurut temuan, rata-rata orang dewasa menghabiskan waktu lebih banyak menggunakan media dan layanan komunikasi per hari dibandingkan dengan waktu tidur. (SHUTTERSTOCK)

Kecanggihan ponsel makin memesona kita. Di Inggris, orang menjadi begitu terobsesi dengan layar persegi panjang agar dapat selalu terhubung dengan kecanggihan dunia maya, menurut sebuah laporan baru-baru ini.

“Seharusnya orang tua menghabiskan waktu 5 menit bersama anaknya, benar-benar mendengarkan dan berbicara dengan anak tentang kegiatannya. Benar-benar menyedihkan jika saya harus mem-berikan nasihat ini kepada orang-orang yang sangat sukses, tapi itulah kebenarannya. Sedikit kecanduan, persisnya mereka sangat teralihkan,” katanya.

Phil Reed, profesor psikologi di Swansea University, sependapat bahwa teknologi sangat berguna, tetapi juga sangat adiktif. Dia mengibaratkan internet sebagai obat penenang. Dalam penelitiannya menemukan bahwa, sepertiga dari kelompok usia 16-30 tahun memiliki kecanduan ringan pada ponsel pintar mereka. Tanda-tanda kecanduan ponsel ringan diantaranya termasuk perasaan gelisah jika tanpa ponsel, berbohong tentang penggunaan telepon Anda atau menghabiskan waktu di ponsel bukannya melakukan apa yang Anda inginkan.

“Ini hampir menjadi bentuk lain dari pemisahan dari kenyataan,” katanya.

Bagi mereka yang merasa sangat tergantung, dia menyarankan detoks digital merupakan langkah pertama yang baik, akan tetapi lebih penting dapat mengetahui alasan mendalam di balik kecanduan mereka.

“Menurut saya, kita harus berpikir ini mirip dengan bentuk lain dari ketergantungan,” katanya. “Anda harus mencari tahu penyebab kecanduan.” Dia menunjukkan bahwa beberapa orang yang kecanduan ponsel mereka, hanya dikarenakan mereka menyukainya, sementara yang lain mungkin akan menemukan karena melihatnya sebagai cara untuk melarikan diri dari permasalahan hidupnya.

Efek plasebo

Ada sebuah perusahaan bernama NoPhone, yang awal berdirinya sebagai lelucon pada tahun 2014. NoPhone adalah kotak plastik yang tidak memiliki baterai, tidak ada layar, dan tidak ada fasilitas telepon.

Selain itu, NoPhone mengeluarkan produk yang tanpa memiliki fitur sama sekali bernama Zero, atau ada juga Selfie yang mencakup fitur “cermin selfie”, yang berfungsi untuk melakukan “narsis sesungguhnya”. Telepon palsu adalah sebuah produk satire terhadap penggunaan berlebihan ponsel pintar, dan sejauh ini mereka sudah menjual 5.000 lebih.

Rekan pendiri NoPhone, Ingmar Larsen, mengatakan mereka tidak mengira produknya laku terjual, orang sering membelinya sebagai hadiah. “Orang-orang membeli untuk teman mereka, siapa pun, muda atau tua, orang yang ingin membuat pernyataan kepada teman-teman mereka seperti: ‘Ayo, luangkan sedikit waktu dengan kami, jangan terlalu banyak dengan ponsel Anda’,” kata Ingmar.

Hal ini biasanya diterima dengan baik. Beberapa orang menggunakan NoPhone sebagai pengganti ponsel mereka sebenarnya, ini seperti plasebo, tambahnya.

“Saya tidak bersikap negatif terhadap penggunaan ponsel pintar, tapi jika berlebihan bisa sedikit masalah,” katanya. “Selalu ada cara untuk membuat orang sangat bersemangat terhadap ponsel saat ini, melebihi hubungan sosial.” Ia berharap suatu hari, tidak akan ada kebutuhan untuk NoPhone.

Obrolan pub

Demi mendorong orang mau berbicara dengan bertatap muka, Steve Tyler, pemilik pub bernama Tub Gin yang baru dibuka di Sussex, Inggris, membangun sebuah sangkar Faraday disekitar pubnya sehingga pelanggan tidak akan menerima sinyal telepon. Dan dia tidak akan memberikan kata kunci wifi.

Berbekal 15 tahun pengalaman bekerja di pub, Steve merasa muak melihat orang mulai mengabaikan orang-orang di sekitar mereka, malahan lebih suka berbicara dengan orang-orang yang tidak ada di sana. Dia ingin menciptakan suasana pub yang dia ingat sebelum adanya ponsel.

“Saya tidak berniat untuk mengubah dunia, saya tidak berniat untuk mendapatkan publikasi media, namun saya berangkat untuk mendirikan bar kecil saya, membuat orang berbicara dengan orang. Cara terbaik untuk mewujudkannya adalah dengan tidak memberitahu mereka untuk tidak menggunakan ponselnya, menolak akses mereka ke internet. Cara termudah untuk melakukannya adalah membangun sebuah sangkar Faraday yang sederhana, dan itulah yang saya lakukan,” katanya.

Sangkar Faraday adalah sebuah sangkar pelindung yang menghalangi medan listrik. Menurut Steve, yang dia bangun bukanlah sebuah “kelas militer” tetapi hanya sebuah usaha semata. Interior pub didisain dengan menggunakan jala tembaga pada langit-langitnya, dan dinding bangunan dilapisi dengan foil perak tebal di balik hiasan penutup wallpaper.

“Orang-orang mulai untuk mengingat kembali bagaimana rasanya berada di sebuah pub 20 tahun yang lalu ketika orang saling berbicara satu sama lain,” katanya.

Pada saat itu, mungkin sudah waktunya untuk menutup laptop saya dan mengalihkan ponsel ke menu diam (silent).

Pengembangan bahasa

Phubbing (kata kerja). Tak memedulikan orang dalam suatu lingkungan sosial dengan berfokus pada ponsel, kata ini merupakan kombinasi dari kata ‘phone’ (telepon) dan ‘snubbing’ (tak peduli).

Nomophobia (kata benda). Sebuah versi singkat dari ‘fobia tidak ada ponsel’, istilah yang diciptakan untuk menggambarkan rasa takut jika tidak memiliki ponsel.

Sindrom getaran hantu. Merasakan ponsel Anda bergetar, seperti mendapatkan pesan teks atau panggilan, padahal tidak bergetar sama sekali. Ini juga disebut sebagai ‘phantom sinyal telepon’, ‘fauxcellarm’ atau ‘ringxiety’.

FOMO (kependekan dari Fear of Missing Out). Takut ketinggalan. Takut bahwa Anda kehilangan sesuatu yang menarik atau menarik, seperti acara sosial, terutama di media sosial.

FOGO (kependekan dari Fear of Going Out). Takut pergi keluar. Media sosial memiliki efek yang berlawanan dari FOMO, menurut Alexis Swerdloff, penulis untuk NYMag tahun lalu. Dia sependapat dengan banyak pembaca ketika ia menulis bahwa FOGO bukan “secara harfiah takut keluar” tapi “tidak berkeinginan aktif menghadiri acara massal Instagrammed yang menyumbat semua feed sosial-media saya”. (Epochtimes/Ajg/Yant)

Selesai