Harga Bawang Putih Tiongkok Melonjak Tertinggi dalam Sejarah

327
Akibat buruknya cuaca dan terjadinya spekulasi pemilik modal, harga bawang putih di pasar tahun lalu telah mengalami kenaikan hingga hampir 2 kali lipat. (AFP/Getty Images)

Oleh Qin Yufei

Belanda menghadapi ‘tulipmania’ di abad ke17. Namun Tiongkok sekarang sedang meronta guna  melepaskan diri dari gelembung bawang putih yang terjadi.

Akibat buruknya cuaca dan terjadinya spekulasi pemilik modal, harga bawang putih di pasar tahun lalu telah mengalami kenaikan hingga hampir 2 kali lipat. Mengingat ekspor bawang putih Tiongkok menyumbang 80 % dari total ekspor dunia, membuat para importir kesulitan dalam penyalurannya.

“Saya baru saja kembali dari Tiongkok, dan sekarang Anda tidak akan bisa membeli (bawang putih apasaja)”, kata Joey Dean, seorang pengusaha Denimpex kepada ‘Financial Times’.

“Para spekulan yang bermodal besar sudah membeli banyak (bawang putih),” tambahnya.

Tiongkok tidak mengenal bawang putih dengan penyerahan berjangka, namun setelah hujan lebat dan salju merusak tanaman, harga produk pertanian dalam mata uang Renminbi telah membumbung tinggi pada akhir 2015. Lonjakan harga yang memecahkan rekor memicu spekulan untuk membeli, sehingga harga terhasut untuk naik lebih tinggi.

Daerah penghasil utama bawang putih adalah provinsi Shandong. Analis perusahaan penyedia layanan informasi komoditas Cui Xiaona kepada ‘Financial Times’ mengatakan bahwa, hasil panen yang menurun pada awalnya hanya membuat para pembeli lokal untuk melakukan penimbunan. Namun sekarang, kian banyak modal yang diturunkan ke pasar oleh para spekulan dari Beijing dan kota-kota besar lainnya.

Cui Xiaona mengatakan, banyak orang sudah mengetahui jika panen bawang putih tahun ini akan berkurang, sehingga melakukan spekulasi harga dengan melakukan penimbunan.

Sejumlah pengekangan terhadap transaksi di bursa saham yang diberlakukan oleh pihak berwenang Tiongkok pada tahun lalu menyebabkan arus modal mengalir ke berbagai pasar komoditas.

Para petani maupun pedagang bawang putih di Tiongkok sudah tidak merasa aneh terhadap ‘roller coasternya’ harga bawang putih. Pada 2009 dan 2010, para spekulan bawang putih menaikkan harga karena masyarakat percaya bahwa bawang putih bisa mencegah penyakit flu babi, ditambah lagi dengan lahan untuk menanam bawang menyusut pada saat itu. Sedangkan harga bawang putih sekarang sudah jauh di atas harganya pada  2009 dan 2010.

Bawang putih bukan satu-satunya komoditas unggalan yang diincar oleh para spekulan Tiongkok. Tetapi kacang hijau, kacang kenari, teh hitam yang difermentasi juga pernah suatu saat menjadi produk unggalan di waktu lalu.

Kurangnya pasokan dan mahalnya harga menyebabkan ekspor bawang putih Tiongkok menurun, dan jatuh ke level terendah dalam 4 tahun terakhir. Dalam 7 bulan pertama tahun ini, ekspor bawang putih segar Tiongkok menurun sebanyak 12 %, hingga mencapai hanya 895.000 ton.

Lebih parah lagi yang terjadi di pasar bawang putih kering, karena pengelolaannya harus mengikuti persyaratan lingkungan yang ketat. Karena itu menambah kesulitan dalam pemasokannya.

Tiongkok menempati 90 % dari ekspor bawang putih dunia. Pasokan bawang putih Tiongkok  sedang menurun saat ini, celakanya, Amerika pun demikian. Para pedagang bawang putih mengharapkan harga tetap bertahan.

Wakil Presiden Olam International kepada ‘Financial Times’ mengatakan, “Jika panen berikutnya berjalan normal, maka Anda baru dapat melihat roller coaster itu berjalan menurun pada akhir kwartal kedua tahun depan”. (sinatra/rmat)