Nielsen : Tingkat Keyakinan Konsumen dan Tidak Resesi di Indonesia Meningkat

204
Survei Nielsen (Dokumen Nielsen Indonesia)

JAKARTA –Tingkat Keyakinan Konsumen online Indonesia terus meningkat. Indonesia masih menjadi negara paling optimistis ketiga di dunia setelah India (133) dan Filipina (132) dengan skor indeks 122, meningkat 3 poin persentase (pp) dari kuartal kedua 2016 lalu. Demikian menurut hasil Global Survey of Consumer Confidence and Spending Intentions Q3 2016 yang dirilis Nielsen baru-baru ini.

Peningkatan ini didorong oleh dua indikator yaitu Keyakinan Konsumenakan Kondisi Keuangan Pribadi dalam 12 Bulan Ke Depan dengan skor 84 (meningkat 3 pp dibandingkan dengan kuartal sebelumnya), dan Keinginan Berbelanja dengan skor 60 (meningkat 6 poin dari 54 persen di kuartal sebelumnya).

Sebaliknya, indikator Keyakinan Konsumenakan Prospek Lapangan Pekerjaan menunjukkan sedikit penurunan dengan skor 68 persen, dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang sebesar 70%.

Pada satu tahun terakhir, persepsi konsumen Indonesia akan keadaan resesi ekonomi juga terus mengalami pemulihan. Di kuartal ketiga tahun ini, konsumen online yang berpendapat bahwa Negara sedang tidak dalam keadaan resesi ekonomi adalah sebesar 53 persen, terus meningkat sejak kuartal kedua 2016 (49%), kuartal pertama 2016 (42%), kuartal keempat 2015 (31%) dan kuartal ketiga 2015 (27%).

“Upaya pemerintah mengeluarkan paket deregulasi ekonomi disusul dengan kebijakan Tax Amnesty tampaknya direspon dengan positif, baik oleh konsumen maupun dunia industri,” kata Managing Director, Nielsen Indonesia, Agus Nurudin di Jakarta, Rabu (2/11/2016).

Menurut Agus, optimisme konsumen Indonesia yang terus meningkat menunjukkan bahwa pasar Indonesia masih menjanjikan bagi para pelaku industri yang ingin mengembangkan bisnisnya di Indonesia. Namun demikian, pada sisi lain kondisi ekonomi masih menjadi kekhawatiran utama konsumen Indonesia, meski skornya menurun ke 31 persen dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 38 persen.

Hasil survei juga menunjukan, kekhawatiran akan teroris dan medan stabilitas politik muncul pada di kuartal ini. Sebanyak 17 persen konsumen online menyatakan khawatir akan terorisme. Kekhawatiran ini juga meningkat di wilayah Asia Pasifik, Eropa dan Amerika Utara.Sementara itu sebanyak 13 persen konsumen menyatakan khawatir akan stabilitas Politik.

“Terjadinya penembakan di Orlando, AS, bulan Juni dan peristiwa penabrakan truk pada perayaan Bastille di Paris bulan Juli lalu membuat konsumen menjadi khawatir akan aksi terorisme.Sementara itu persiapan mulainya periode Pilkada serentak juga telah menimbulkan kekhawatiranakan stabilitas politik,” ujar Agus.

Meski demikian, pemerintah diyakini akan dapat menjaga kondisi politik tetap kondusif, dan tentunya ini harus didukung oleh semua pihak, termasuk yang paling penting adalah media dalam menyiarkan berita-berita politik.

Terkait penghematan biaya rumah tangga pada kuartal ini, konsumen online Indonesia yang memilih untuk Menunda Mengganti Teknologi Baru meningkat menjadi 47 persen dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 46 persen.  47 persen konsumen mengatakan mereka mengurangi belanja baju baru dan 42 persen menunda mengganti peralatan rumahtangga.

Pada kuartal ini, konsumen yang mengalokasikan kelebihan dana mereka untuk menabung meningkat menjadi 77 persen. 42 persen menyatakan menggunakannya untuk berlibur, dan 29 persen mengalokasikannya untuk investasi di saham atau reksadana. Secara global, tren Keyakinan Konsumen sangat bervariasi.

Nielsen Global Survey of Consumer Confidence and Spending Intentions dilaksanakan pada 10 Agustus – 2 September 2016 dan mensurvei lebih dari 30.000 konsumen online di 63 negara. Meskipun metodesurvei online dapat menjangkau skala yang besarsecara global, survei ini hanya memberikan perspektif dari kebiasaan pengguna internet, bukan populasi total.

Pada negara-negara berkembang dimana penetrasi online masih bertumbuh, populasi pengguna internet sangat mungkin berusia lebih muda dan berasal dari kelas sosial yang lebih tinggi dibandingkan dengan populasi umum di negara tersebut.

Tiga negara Sub-Sahara Afrika (Ghana, Kenya dan Nigeria) menggunakan metodolog isurvei melalui perangkat mobile dan tidak diikut sertakan dalam data pada laporan ini. Sebagai tambahan, hasil survei ini adalah berdasarkan perilaku yang diklaim oleh responden, bukan data yang diukur secara aktual.

Perbedaan budaya dapat mempengaruhi hasil pengukuran mengenai pandangan responden terhadap keadaan ekonomi di masing-masing negara. Hasil yang dilaporkan tidak ditujukan untuk mengontrol atau mengkoreksi perbedaan-perbedaan tersebut, karena itu butuh perhatian khusus pada saat membuat perbandingan antar negara danwilayah, khususnya pada saat melewati batas-batas wilayah regional. (asr)