Menanam Bambu untuk Atasi Banjir Bandang dan Longsor

255
Bambu (Via Shutterstock)

JAKARTA –  Bambu merupakan salah satu tanaman yang cocok untuk memperbaiki kondisi hulu dan sempadan sungai yang saat ini telah banyak mengalami kerusakan akibat banjir bandang dan tanah longsor.  Jenis tanaman ini memiliki sifat perakaran yang serabut, sehingga akarnya mampu menyetabilkan tanah dan menanggulangi erosi.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Enny Sudarmonowati mengungkapkan, penanaman bambu di hulu dan sepanjang sempadan sungai adalah langkah tepat daripada melakukan betonisasi. Sebab pembetonan di sempadan sungai hanya menyetabilkan tanah secara kinetik dan sebenarnya tanah sempadan tetap tidak stabil. Akibatnya ketika air datang, maka sempadan tidak mampu menahan erosi.

“Di sisi lain, betonisasi juga berdampak buruk pada sumber mata air di sekitar sungai. Mata air ini akan hilang,” sambungnya dalam Launching Policy Brief: Penanaman Bambu Solusi Penanggulangan Banjir dan Longsor serta Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat di Gedung LIPI, Jakarta,  Rabu, (23/11/2016).

Enny melanjutkan, penanaman bambu mampu mencegah agar sumber mata air tidak hilang karena tanaman ini mampu mengonservasi air. Bahkan Batangnya dapat menghisap dan menampung air karena bersifat kapiler, sehingga air dapat dialirkan ke bawah dan menimbulkan mata air saat musim kemarau. Dalam jangka panjang, maka kelangsungan air pun dapat terjaga walau terjadi kemarau yang lama.

Peneliti bambu dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Elizabeth A Widjaja, menambahkan, penanaman bambu di hulu dan sempadan sungai tentu harus digalakkan. Sebab, banyak manfaat yang bisa diambil untuk jangka pendek maupun panjang dalam mencegah bahaya banjir dan tanah longsor. Selain itu, bambu juga bernilai ekonomi untuk masyarakat setempat terutama bila ada pemberdayaan industrinya.

“Tak hanya itu, bambu juga mampu menjaga kebersihan udara karena menghasilkan 30 persen oksigen lebih besar ketimbang pohon lainnya,” imbuhnya.

Menurut Elizabeth, jenis bambu yang cocok ditanam di hulu dan sempadan sungai tidaklah sembarangan. Jenis-jenis ini biasanya adalah Bambusa vulgaris (bambu ampel, haur) atau Bambusa vulgaris var. striata (bambu ampel kuning, bambu kuning) untuk daerah yang terendam air hingga lima bulan. Kemudian, ada lagi Schizostachyum iraten (buluh suling, buluh tamiang), Schizostachyum silicatum (buluh suling), Schizostachyum lima (butuh toi). “Jenis lain adalah Neololeba atra (loleba) digunakan di Indonesia yaitu Sulawesi Utara, Maluku, dan Papua,” tambahnya.

Sementara itu Elizabeth menekankan, gerakan penanaman bambu di hulu dan sempadan sungai maupun area lain yang dianggap perlu akan berhasil dengan baik bila mendapat dukungan dari pemerintah dan para stakeholder terkait. Selama ini, langkah penanaman bambu belum mendapat kebijakan yang mendukung, bahkan keberadaan bambu malah dianggap masyarakat kurang perlu sehingga mereka cenderung menebangnya.

Berdasarkan latar belakang ini, LIPI merasa perlu untuk menggerakkan kembali penanaman bambu sebagai solusi banjir dan tanah longsor. Untuk itu, lembaga penelitian ini pun menggelar kegiatan bertajuk Launching Policy Brief: Penanaman Bambu Solusi Penanggulangan Banjir dan Longsor serta Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat.

Policy brief yang diluncurkan ini secara simbolis akan diserahkan kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI. Selain itu, kegiatan peluncuran tersebut juga diisi diskusi dengan sejumlah narasumber, antara lain Hilman Nugroho (Direktur Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung, KLHK RI), Gellwynn Jusuf (Deputi Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Kementerian PPN/Bappenas), Rudy Gunawan (Bupati Garut), Heru Sutiastomo (Komunitas Bambu Nusantara), dan Ahmad Syarmidi (Dewan Pertahanan Kehutanan dan Lingkungan Tataran Sunda). (asr)