Obrolan Seputar Pengobatan Tradisional Tiongkok (1)

324
Pengobatan Tradisional Tiongkok (internet)

Oleh: Tang Shi

Dua generasi mertua saya berprofesi sebagai Sinshe (dokter Pengobatan Tradisional Tiongkok/PTT), jadi ayah mertua dan kakek mertua saya adalah Sinshe, bahkan Sinshe yang cukup terkenal.

Kakek disebut “Sinshe tua” dan ayah disebut “Sinshe senior”. Turun-temurun hingga suami saya, seharusnya ia disebut “Sinshe yunior”, penerus sang ayah, namun terputus dengan meletusnya “Revolusi Kebudayaan (1966-1976)”.

Mula-mula suami dan saya berhenti sekolah karena mengikuti revolusi, selanjutnya mengalami “pendidikan ulang” dengan dikirim ke desa dan pabrik, dengan demikian tidak lagi sempat menerima pendidikan formal, setiap hari hanya disibukkan dengan pencarian nafkah.

Lagi pula saat itu bidang PTT mengalami kecaman keras, dipandang sebagai takhayul feudal dan tidak ilmiah, profesi Sinshe pun tidak begitu dikenal, beda dengan “dokter telanjang kaki (barefoot doctors, yang populer di zaman Revolusi Kebudayaan)” yang sebagian besar terdiri dari murid SMP-SMA dari kalangan petani yang mendapatkan pendidikan singkat ilmu kesehatan.

Di rumah mertua, saya pernah melihat ada banyak buku PTT, sebagian besar menggunakan aksara Tionghoa kuno, bagi saya waktu itu yang hanya menempuh pendidikan sekolah dasar kelas 3 pada 1966. Selain terminologi PTT, yang lainnya adalah bahasa literatur kuno yang susunan hurufnya tegak, dibaca dari atas ke bawah, bagi kami bagaikan membaca “buku dari langit”, tak mengerti apa isinya, namun kemudian saya mengetahui pula banyak masyarakat yang berpendidikan tinggi, tidak mengerti bahasa Tionghoa kuno itu persis seperti saya.

Walau tidak mengerti buku-buku PTT kuno, tetapi tidak dapat menghalangi minat saya terhadap PTT. Di rumah waktu ada praktek pengobatan, saya sering mengambil kesempatan mengamati dari samping, menyaksikan bagaimana Sinshe melakukan “4 metode pemeriksaan”, yaitu Mengamati, Mendengar suara dan Mengendus bau, Menanyai dan Mendeteksi denyut nadi.

Jika ingin minum obat, maka dibuatkan resep ramuan herbal, jika dilakukan Tusuk Jarum maka dipilihlah titik-titik akupunktur yang akan disasar.

Diagnosa Sinshe, sebelum mendengarkan keluhan pasien, hanya sekilas mengamatinya sudah dapat mengetahui 80%-90% kondisi penyakit pasien itu, baru meraba dan mendeteksi denyutan nadi, akan didapatkan diagnosa terakhir yang tepat. Tidak memerlukan beraneka jenis pemeriksaan laboratorium, bahkan pemeriksaan secara konvensional dengan stetoskop juga tidak dibutuhkan.

Mungkin karena tidak memiliki peralatan modern dan data pengujian, sehingga PTT dikecam sebagai takhayul dan tidak ilmiah. Saya menyaksikan banyak penyakit dapat disembuhkan dengan metode PTT yang memiliki efek khusus jika dibandingkan secara ilmu kedokteran modern, lagi pula lebih sederhana dan lebih murah, juga kecil efek sampingannya.

“Sinshe senior (bapak mertua)” sejak kecil belajar mengikuti “Sinshe tua”, kemudian masuk perguruan tinggi kedokteran, namun karena memiliki dasar PTT pewarisan dari sang ayah, ia menerima pendidikan dari ayahnya secara lisan dan sepenuh hati dalam praktek klinis, maka saya berpendapat PTT sebagai pusaka negara Tiongkok, diturunkan secara turun-temurun melalui keluarga adalah sangat masuk akal, anak meneruskan pemberian ayah, intisarinya tidak akan hilang, bahkan mungkin generasi penerus lebih unggul dari orang tuanya, sehingga dapat dikembangkan lebih maksimal.

3 Bungkus Ramuan Menghidupkan Pasien Yang Divonis Mati

Bagaimanakah kemampuan teknik pengobatan “Sinshe senior”?

Suami saya pernah menceritakan sebuah kisah mengenai sang ayah. Awal 1970-an, “Sinshe besar”turba ke rumah sakit tingkat kabupaten, suatu hari ia dan beberapa sejawat dicegat di depan pintu rumah sakit, sejumlah orang memandu seorang pasien tua dan bertanya siapakah dokter ahli penyakit dalam?

“Sinshe senior” tampil ke depan menjawab: ”Saya”.

Beberapa anak pasien tua itu dengan cemas mengatakan: ”Ini adalah ayah kami, rumah sakit kabupaten menyatakan ayah tidak ada harapan lagi, disuruh bawa pulang saja untuk menyiapkan pemakamannya. Tadi dokter kabupaten menunjukkan kalian datang dari kota, suruh kami mencari dokter ahli penyakit dalam.

“Sinshe senior” langsung memeriksa nadi pasien di tempat, lalu membuka sebuah resep ramuan herbal dan memberitahu para anak itu, “3 bungkus resep ini setelah diminumkan, jika ada kemajuan bisa datang lagi, jika tidak ada kemajuan tidak perlu kembali, itulah batas kemampuan saya.”

3 hari kemudian para anak itu mengusung kembali ayahnya, mengatakan sudah ada kemajuan. Setelah diberi resep lagi untuk diminum beberapa kali, orang tua itu pulih kesehatannya dan bisa kembali bekerja.

Kemudian baru diketahui bahwa si pasien tua itu adalah tukang kayu ahli bangunan kuno yang jarang dijumpai lagi di dalam negeri, ia memiliki teknik pertukangan yang sangat mumpuni.

Selanjutnya keluarga mereka menjadi teman akrab kami, perabot pernikahan keluarga kami pun semua dikerjakan oleh orang tua itu, sekian puluh tahun perabot itu tidak ada yang berubah bentuk, bahkan kian lama kian mengkilap, layak dipajang sebagai peninggalan budaya.

Di kemudian hari saya bertanya kepada “Sinshe senior”, rumah sakit melalui pemeriksaan laborat, foto X-ray dan lain-lain, akhirnya menyatakan si pasien tidak dapat ditolong lagi, bagaimana Anda dapat menghidupkannya dari kematian?

“Sinshe senior” menjawab, ”Mesin-mesin itu tidak memiliki hati, saya justru dengan sepenuh hati mengobatinya, resep ramuan dipilih dari berbagai jenis herbal harus dengan sepenuh hati. Saya menanyakan mengapa hanya diberi 3 bungkus herbal, dan disebutkan jika berhasil baru kembali?

Ia mengatakan, “Karena penyakitnya sudah sangat parah, resep jamu harus keras, umpama obat “Xixing (Asarum sieboldii)”.

Ia merupakan herbal yang memiliki racun cukup kuat, pada umumnya penggunaannya dalam satu resep tidak melebihi 10 gram, saya berani lebih dari dosis umum, karena saya mengenal sifat herbal itu. Pemberian herbal sudah sampai batas maksimum masih tidak dapat mengatasinya dan apabila tidak dapat tertolong ya sudah, tidak dapat berbuat apa-apa lagi, tidak boleh menipu orang, ini masalah etika profesi dokter.  (tys/whs/rmat)

BERSAMBUNG