Cerita Inspiratif di Hari Ibu

430
peran ayah dalam mendidik anak

Ini adalah kisah tentang bagaimana seorang ayah menipu anaknya yang bandel. Seorang anak yang gagal dalam pelajarannya, hingga akhirnya menjadi seorang murid peringkat teratas, anak dengan rapor penuh nilai “A”. Cerita ini dikisahkan oleh sang putra sendiri yang bernama Liu Xuan.

Sebelum saya menyelesaikan SD, seluruh keluarga saya pindah ke Amerika. Segera setelah itu, saya mulai masuk SMP, dan berubah menjadi remaja pemberontak yang bandel.

Saya membuat semua guru sakit kepala. Saya nakal, kurang dalam pelajaran, dan menjadi anak pemimpi. Setiap hari saya bermimpi menjadi Michael Schumacher masa depan, pengendara mobil balap yang paling terkenal, dan tersukses di dunia.

Akhirnya, nilai saya jatuh sangat rendah hingga mendapat banyak nilai “C”. Kemudian, suatu hari ayah mengobrol dengan saya tentang tugas sekolah.

Ada tersirat senyum nakal di wajahnya dan saya tahu dia punya rencana tersembunyi.

Dia mengatakan: “Guru di sekolah memberitahu Ayah kalau kamu bermimpi menjadi Michael Schumacher masa depan, dan kamu tidak suka belajar, iya kan?”

Saya merasa kata-katanya mengandung ejekan. Ini merupakan penghinaan besar bagi martabat rapuh anak berumur 14 tahun.

Dengan jengkel saya menjawab: “Schumacher adalah idola saya, dia sangat mirip seperti saya, kurang dalam pelajaran, dan bahkan pernah mendapat angka nol ketika seusia saya. Tapi lihat dia sekarang, dia adalah pembalap peringkat atas dunia.”

Ayah saya tiba-tiba tertawa terbahak- bahak, dan tawanya tampak menjadi semakin nakal, “Dia mendapat angka nol, tapi kamu tidak pernah berhasil meraihnya. Kamu selalu mendapat nilai “C” !”

Lalu, ia menunjukkan rapor saya. Saya tidak percaya ayah menertawakan saya karena saya tidak pernah mendapat nilai nol. Sekarang saya benar-benar terhina.

“Jadi, Ayah mengharapkan saya untuk mendapat nilai nol?”, tanya saya.

Dia bersandar di kursinya, tersenyum, dan berkata, “Ya, itu benar. Ayah punya ide yang sangat bagus.”

Mari kita taruhan. “Jika kamu bisa mendapat nilai nol, Ayah tidak akan berkata apa-apa lagi mengenai urusan sekolah. Kamu bisa lakukan hal sesuka hatimu. Namun, bila kamu belum bisa meraih angka nol, kamu harus mengikuti perintah Ayah untuk sekolahmu. Bagaimana dengan itu?”

Jadi, kami melakukan tos sebagai tanda setuju. Di dalam hati, saya tertawa punya orangtua yang penyayang, tetapi bodoh.

Ayah saya mengatakan, “Namun, kita bicara soal tes, dan harus ada beberapa aturan. Kamu harus menjawab semua pertanyaan. Jadi, tidak boleh membiarkan kertas jawaban kosong, jika tidak, kamu melanggar perjanjian kita, OK?”

Pikir saya itu sederhana, jadi saya langsung menjawab, ”Tidak ada masalah!”

Segera setelah itu, saya menjalani ujian pertama saya. Saya menulis nama, dan mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas lembar ujian. Mendapatkan nilai nol harusnya tidaklah sulit, lebih-lebih saya tidak paham sebagian dari pertanyaannya.

Pertanyaan pertama: “Siapa presiden Negara kita yang berperang melawan Nazi selama Perang Dunia II? Carter, Roosevelt, atau Eisenhower” Saya tahu jawabannya Roosevelt, tapi sengaja menulis Eisenhower pada lembar jawaban.

Saya tahu jawaban dari sebagian besar pertanyaan, tapi perlahan-lahan, pertanyaan mulai menjadi semakin sulit, dan saya tidak tahu jawaban yang pasti, jadi saya hanya menebak jawabannya.

Ketika berjalan keluar dari kelas, saya menjadi sangat gugup. “Mendapat nilai nol itidak semudah yang saya pikirkan. Menebak jawaban yang saya tidak tahu pasti, masih memberi saya peluang untuk meraih poin yang tidak saya inginkan,” kata saya dalam hati.

Ketika saya menerima kertas hasil ujian, saya kembali mendapat nilai “C”. Saya benar-benar frustrasi. Ayah saya berkata, “Lain kali tolong coba dapatkan nilai nol. Dengan nilai nol, kamu benar-benar akan bebas!”

Saya berpikir, dia tidak tahu apa yang sedang ia bicarakan. Dengan peluang besar yang saya dapat, Ayah masih memberi saya lagi kesempatan untuk mencoba. “Pokoknya, mendapatkan nilai nol masih jauh lebih mudah daripada mencetak angka 100,” pikir saya.

Saya berpikir saya masih ada harapan. Segera, saya mendapat kesempatan kedua, tapi saya gagal lagi. Kemudian, kesempatan ketiga dan keempat datang… tapi saya masih mendapat nilai “C”.

Saya menyadari untuk mencetak nilai nol, saya harus belajar dengan keras sehingga saya bisa memberikan jawaban yang salah pada tes. Dengan kata lain, saya belajar bagaimana untuk mengetahui jawaban benar dari semua pertanyaan.

Setahun kemudian, saya akhirnya menerima angka nol pertama saya. Itu berarti bahwa saya tahu jawaban yang benar dari setiap pertanyaan, tapi saya secara selektif memilih jawaban yang salah.

Ayah saya sangat gembira pada hari itu. Ia memasak di dapur dan menyiapkan hidangan favorit saya sebagai ucapan selamat atas hasil tes yang saya terima. Dia berkata dengan keras dan bangga, “Nak, selamat! Kamu akhirnya bisa mencetak nilai nol”

Dia mengedipkan mata pada saya dan menambahkan, “Hanya murid dengan nilai “A” yang bisa meraih nilai nol, dan kamu mungkin sadar sekarang bahwa kamu telah tertipu! Ha ha ha!”

Ya, ayah telah menipu saya. Dalam permainan taruhan ini, saya berperilaku persis seperti yang ia rencanakan. Ia dengan cerdik mengubah target nilai 100 pada tes menjadi nilai 0, jadi saya akan menerimanya dengan mudah, dan rela bekerja untuk target itu. Apa yang telah saya lakukan?

Saya akhirnya diterima di Harvard, dan telah menyelesaikan gelar master saya, dan sekarang saya sedang menyelesaikan Ph.D.saya. Saya telah menulis sebuah buku dan menerjemahkannya.

Saya juga telah memenangkan hadiah dalam bidang musik. Ketika saya berusia delapan belas tahun saya menyadari, saya tidak ingin menjadi Schumacher masa depan. Saya hanya ingin menjadi diri saya sendiri, yaitu Liu Xuan.(visiontimes.com/Dpr/ran)