Kontradiktif Nilai Tukar RMB Ibarat Elevator (1)

218
Meluncurnya elevator adalah tren menurunnya dan melemahnya RMB. Di saat itu, ada yang menarik kabelnya dan berupaya menahan jatuhnya elevator. Kekuatan menarik inilah terutama surplus perdagangan RRT dengan Amerika Serikat, ini adalah kekuatan yang secara bersamaan membuat nilai tukar RMB menguat. (internet)

Oleh: DR. Frank Tian, Xie

Baru-baru ini penulis menerima sepucuk surat dari teman yang bekerja di media massa Jerman mengenai mata uang RMB. Bagian editorial di Jerman menemui sejumlah pertanyaan seputar kondisi RMB, informasi yang diperoleh dari beberapa sumber mengandung ambigu, tadinya akan mereka gunakan pada media Eropa, namun karena tidak jelas maka tidak digunakan.

Menurut penuturan, editor Jerman berotak “kaku”, merasa jika suatu hal tidak dipahaminya maka tidak akan diberikan pada pembaca, karena mayoritas pembaca tidak akan lebih memahaminya daripada editor. Ini bisa dibilang suatu sikap yang sangat baik, serius dan bertanggung jawab.

Masalah RMB (Ren Min Bi, mata uang RRT), terutama tren kontradiktif RMB menguat di luar negeri melemah di dalam negeri, membingungkan banyak orang, karena hal ini sama sekali tidak masuk akal dalam prinsip ekonomi.

Pada November 2010 silam penulis dalam artikel berjudul “Pemahaman Menyeluruh Terhadap Kontradiktif RMB Menguat di Luar Negeri Melemah di Luar Negeri” juga telah menelaah masalah ini. Kontradiktif RMB ini sudah sangat serius sejak enam tahun lalu, dan sekarang semakin parah.

Saat RMB menguat di luar negeri sekaligus melemah di dalam negeri rakyat Tiongkok tidak bisa merasakan manfaat menguatnya mata uang (di luar negeri), di saat daya beli internasional meningkat, tapi merasakan melemahnya RMB, inflasi, dan menurunnya daya beli di dalam negeri.

Mengapa RMB mengalami dua macam tekanan yang bertolak belakang seperti ini?

Beijing mengatakan alasan untuk mempertahankan nilai tukar dan menentang penguatan mata uang adalah demi stabilitas ekonomi dan lapangan kerja, bukannya untuk mengatasi inflasi dan aliran uang panas. Sebagian memang bertujuan seperti itu, namun telah mengabaikan faktor yang terpenting yakni faktor manusia.

Alasan fundamental menguat di luar melemah di dalam adalah karena kelompok berkepentingan Partai Komunis Tiongkok/ PKT yang menjadikan nilai tukar mata uang asing dan mengendalikan cadangan devisa, sebagai cara bagi mereka untuk menumpuk kekayaan setinggi langit selama puluhan tahun.

Mencari untung valuta asing adalah cara terbaik untuk menumpuk harga kekayaan di luar negeri, sedangkan mencetak uang adalah cara terbaik untuk mengumpulkan kekayaan di dalam negeri. Tekanan menguatnya RMB terjadi pada surplus ekspor RRT yang besar, terutama surplus terhadap AS yang setiap tahun mencapai USD 300-400 milyar (4.045 triliun rupiah – 5.394 triliun rupiah).

Tekanan melemahnya RMB terjadi karena PKT mencetak uang berlebihan, juga menstimulus ekonomi dengan trilyunan, mendorong efek gelembung busa. Sehingga RMB mengalami tekanan ganda menguat sekaligus melemah di saat bersamaan.

Ekspor untuk memperoleh devisa asing dan mencetak uang tanpa batas saling berefek, ditambah lagi pengendalian nilai tukar serta pembatasan penukaran mata uang, itulah penyebab kontradiktif mata uang RMB. Di negara yang normal, dua tekanan akan saling menyelaraskan di pasar bebas, pergerakan nilai tukar dan lonjakan harga barang akan selaras dengan sendirinya dan mencapai stabilitas.

Di negara yang abnormal seperti RRT, karena pemerintah selain telah mengendalikan nilai tukar mata uangnya, batas jumlah penukaran, pencetakan mata uang (M2) dan harga barang (memanipulasi angka inflasi), menyebabkan tekanan penguatan dan pelemahan tidak mencapai keseimbangan sehingga terjadilah keadaan seperti sekarang ini.

Media Jerman mengajukan pertanyaan pertama, ada analisa yang menyebutkan bahwa jika RMB tidak melemah, maka harga property akan anjlok drastis, mengapa demikian?

Pernyataan ini sangat keliru, sebab memanfaatkan kepanikan rontoknya harga property untuk menakuti masyarakat sehingga memberikan alasan bagi RMB untuk boleh dilemahkan.

Justru adalah karena pencetakan mata uang RMB yang berlebihan mengakibatkan terjadinya penurunan nilai tukar RMB, sehingga menyebabkan efek gelembung busa property semakin besar, ditambah lagi dengan merosotnya nilai tukar RMB, sehingga terjadilah dana investasi asing ramai-ramai menjual cepat asset propertinya di RRT.

Pertanyaan kedua adalah “efek gelembung busa property dan pertumbuhan ekonomi RRT sedang menghadapi ketidakpastian adalah faktor yang mendorong melemahnya nilai tukar RMB”. Mengapa ketidakpastian seperti ini bisa mendorong melemahnya RMB?

Ini juga merupakan jawaban yang menyesatkan dan mengaburkan sebab akibat yang sebenarnya. Adalah karena RMB melemah (dicetak berlebihan) yang mendorong efek gelembung di sektor property, sehingga menyebabkan pertumbuhan ekonomi RRT mandeg, dan bukan sebaliknya.

Pertanyaan ketiga adalah “Analis mengatakan, Beijing akan mempertahankan nilai tukar rendah untuk menopang harga property dan pertumbuhan ekonomi, ini berarti di masa mendatang RMB masih akan terus mengalami pelemahan berkelanjutan. Mengapa dikatakan di masa mendatang RMB akan terus mengalami pelemahan?

Beijing akan mempertahankan nilai tukar rendah, memang untuk menopang bursa property (harga) dan menjaga pertumbuhan ekonomi, tapi tujuannya adalah untuk mempertahankan lapangan kerja, mempertahankan rezim kekuasaannya, dan bukan dilakukan bagi kesejahteraan rakyat.

Karena kesejahteraan rakyat Tiongkok justru telah dirampas oleh perusahaan property yang harganya selangit dan inflasi yang membengkak. Jika dikatakan RMB masih akan terus melemah, adalah karena PKT masih terus mencetak uang, para analis telah memberikan catatan kaki bagi PKT untuk terus mencetak uang.

Pertanyaan keempat, mengapa di saat RMB melemah di luar negeri maka pasti akan menguat di dalam negeri, dan begitu juga sebaliknya?

Sebenarnya tidak begitu. RMB tidak mendapat tekanan untuk melemah di luar dan menguat di dalam, hanya mendapat tekanan untuk menguat di luar dan melemah di dalam.

Pertanyaan kelima, apa kaitannya melemahnya RMB dengan menyelesaikan efek gelembung busa property?

Tepatnya, keduanya sama sekali tidak berkaitan. Melemahnya RMB adalah akibat dari perilaku pemerintah, menyelesaikan efek gelembung busa property adalah motivasi pemerintah. Tapi pemerintah Beijing bukan hanya tidak mau mengakui dan mengatasi pencetakan uang yang tidak terkendali yang mengakibatkan melemahnya RMB, juga tidak berinisiatif untuk menurunkan harga property dan menghilangkan efek gelembung busa property.

Karena kelompok yang berkepentingan di PKT memiliki kepentingan utama ada di sektor property, sebelum PKT runtuh, PKT tidak akan melepaskan begitu saja kepentingan di tangannya, tidak akan mundur dari pentas sejarah. (sud/whs/rmat)

BERSAMBUNG