Perang Ekonomi RRT-AS yang Bakal Terjadi (2)

210
Cara Trump beraksi lebih mirip dengan seorang petinju yang offensif sedangkan Xi Jinping mungkin akan meminjam tenaga untuk diarahkan kembali pada lawan bak seorang pendekar tai chi. (internet)

Oleh: He Qinglian

Media massa RRT saat ini sedang berbaik hati, telah berevolusi dari “RRT bakal menjadi pemenang terbesar” berubah menjadi “RRT menjadi stabilisator kekacauan dunia”. Tetapi ungkapan kosong yang tidak mendasar ini hanya untuk menghibur diri saja, akan lebih baik jika melihat kartu as apa saja yang dimiliki RRT di tengah perang ekonominya dengan AS.

  1. RRT adalah negara kreditor terbesar AS, pada saat genting mustika ini bisa dikeluarkan.

Penulis tidak memeriksa sumber ofisial dari ungkapan tersebut di atas, tapi setiap kali terjadi gesekan antara RRT dengan AS, hal ini selalu dijadikan senjata pamungkas oleh para pemuda patriotik. Tapi kondisi tahun ini nampaknya sudah tidak seperti dulu lagi, cadangan devisa RRT saat ini sedang mengalami masa gawat “mempertahankan devisa tiga trilyun dan nilai tukar tdiak menembus angka tujuh”.

Agar mata uang RMB (renminbi) tidak melemah terlalu cepat, dan mempertahankan devisa agar tidak berkurang dari 3 trilyun, pada Agustus dan September tahun lalu RRT telah menjual surat hutang negara AS sebanyak USD 28,1 milyar. Hingga akhir Oktober lalu, surat hutang AS yang dimiliki RRT telah turun menjadi USD 1,12 trilyun dan angka tersebut adalah titik terendah selama 6 tahun terakhir.

Namun setelah menjual surat hutang AS, bursa obligasi AS justru terus membaik. Sepertinya “senjata pamungkas” ini tidak begitu efektif lagi.

2. RRT adalah negara investor kedua terbesar, menarik modal asing tanpa RRT, akan sangat berpengaruh terhadap kebijakan Trump menarik investasi ke AS.

Pernyataan ini sepertinya memang masuk akal. Tapi jika dipikirkan lebih seksama maka akan terlihat sejumlah masalah, karena RRT sekarang sedang mengupayakan pembatasan mengalir keluarnya modal. Hal yang menarik adalah, contoh paling mengesankan adalah perubahan kebijakan terkait RRT yang tidak sempat mengejar situasi perubahan yang cepat, adalah dalam hal investasi di luar negeri.

September lalu, Departemen Perdagangan RRT mengumumkan investasi RRT di luar negeri 2015 telah memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah yakni senilai USD 1,4567 trilyun. Secara resmi sukses mengantarkan RRT sebagai negara pemodal asing dengan “aliran modal investasi asing melompat ke posisi kedua terbesar dunia”.

Tak disangka tiga bulan kemudian, Bank Sentral RRT secara resmi mengumumkan “perang terhadap aliran modal ke luar negeri”. Alasannya sangat sederhana, karena adanya semacam ungkapan yang sangat pesimis terhadap investasi di luar negeri, yakni dana mengalir keluar.

September ketika Kemenkeu masih larut dalam kebanggaan “negara pemodal luar negeri” mungkin tidak memperhatikan saat itu Bank Sentral RRT dan Biro Pengawas Devisa sebenarnya telah sangat menderita, sebab 11 Agustus tepat satu tahun reformasi nilai tukar mata uang RRT namun RMB justru terus tertekan, Bank Sentral pun mengendus ancaman bahaya akibat mengalir keluarnya modal.

Setelah itu RRT terus mengeluarkan berbagai kebijakan untuk membatasi warganya membeli mata uang asing, tapi cadangan devisa tetap saja merosot drastis. Akhirnya untuk menstabilkan nilai tukar mata uang, pemerintah RRT terpaksa mengeluarkan peraturan baru yang membatasi perusahaan multi-nasional yang hendak mengirim dana ke luar negeri sebesar USD 500.000 ke atas harus melapor kepada Biro Pengawas Devisa Asing Negara dan disetujui biro tersebut.

Selain itu, jumlah ekspor impor dana antara rekening bank perusahaan multinasional yang berada di RRT dengan rekening bank perusahaan afiliasi mereka di luar Tiongkok juga menghadapi pembatasan yang lebih ketat. Seorang manajer perusahaan multinasional menyatakan, kini setiap perusahaan hanya boleh mengimpor dana yang setara dengan 30% modal kerja mereka. Proporsi ini jauh dibawah panduan sebelumnya yang ditetapkan sebesar 100%.

Berkurangnya cadangan devisa asing memaksa RRT harus membatasi aliran dana ke luar negeri. Menghadapi kemarahan Amerika terhadap perdagangan tidak adil RRT, jurus untuk antisipasi yang disiapkan tim penasihat RRT dengan “menetralisir defisit proyek rutin RRT-AS dengan proyek capital RRT-AS” untuk meredam amarah AS sepertinya sudah tidak mungkin diterapkan lagi.

3. RRT melalui policy ekonomi “One Belt and One Road” untuk menyalurkan hasil produksi raksasanya ke luar negeri, sementara itu kebijakan ekonomi Trump meliputi perluasan pembangunan infrastruktur. RRT memasok, AS membutuhkan, benar-benar cocok.

Tapi ini bukan kartu as bagi RRT, pertama karena produksi itu adalah hasil produksi berlebih RRTdari beberapa perusahaan bahan bangunan yang justru merupakan produksi berlebih dari lima jenis industri dunia, ini adalah “pasar konsumen” yang ditentukan oleh pihak pembeli, dalam hal ini AS memiliki nilai tawar.

Kedua karena ketua baru dari National Trade Council yakni Peter Navarro adalah penulis buku “Death of China: How America Lost Its Manufacturing Base”.

Ia juga menyutradarai sebuah film dokumenter dengan judul yang sama. Mewawancarai CEO dari berbagai perusahaan Amerika, para pemilik usaha kecil menengah, para anggota Komite Keamanan Ekonomi AS-RRT, anggota kongres dan lain-lain.

Memaparkan berbagai permasalahan di RRT dengan angka dan statistik, meliputi permasalahan RRT mengendalikan nilai tukar mata uang, tidak mentaati peraturan dagang, mengupah pekerja budak, tidak memperhatikan kelestarian lingkungan hidup, perdagangan tidak adil yang telah AS alami berkali-kali dengan RRT, serta dicurinya industri manufaktur dan lapangan kerja AS.

Bisa dibayangkan, mulai saat ini akan menjadi betapa sulitnya setiap kali RRT berurusan dengan Peter Navarro.

Dilihat dari kartu as yang dipegang oleh masing-masing pihak saat ini, pihak AS masih lebih unggul. Tapi cara Trump beraksi lebih mirip dengan petinju ala Barat, sedangkan cara Xi Jinping menangkis serangan akan seperti jurus Tai Chi, mungkin tidak akan menerima pukulan secara langsung, melainkan akan “meminjam tenaga untuk diarahkan kembali pada lawan”.

Trump mungkin telah memenangkan pilpres, tapi berbagai kekuatan yang menentangnya seperti Partai Demokrat, Komite Nasional Hubungan AS-RRT, tim pelobi K-Street, serta kekuatan kaum establisment di dalam Partai Republik sendiri yang selalu mengkritisi kebijakannya terhadap RRT, bahkan terkadang sangat keras.

Amerika adalah negara trilogi kekuasaan terpisah, ditambah lagi kekuatan keempat dari media massa, ada kemungkinan akan sangat berpengaruh terhadap politik Gedung Putih terhadap RRT. (sud/whs/rmat)

SELESAI