Inflasi, Sang Primadona “Ekonomi” yang Sulit Ditaklukkan (1)

217
Ilustrasi inflasi (Shutterstock)

Oleh: Pipin Kesumariani*

Melirik pertumbuhan ekonomi, yang  mutlak pertama kali di soroti adalah inflasi, tepatnya berapa capain tingkat inflasi yang berhasil disandang oleh negara tersebut.

Layaknya menjadi sebuah primadona dengan jungkir balik satuan angkanya, sukses membuat para pemegang kebijakan, Bank Sentral, pelaku usaha dan pemerintah memutar otak. Berfikir keras demi membuat satuan angka tingkat inflasi tersebut “aman” dan senantiasa berada pada jalurnya.

Sederhananya, inflasi didefinisikan dengan meningkatnya harga barang dan jasa. Masyarakat seringkali dibuat uring-uringan dengan masalah yang satu ini. Kenaikan harga barang-barang menjadi polemik tersendiri di dunia ekonomi sebab lagi-lagi masalah inflasi berdampak langsung kepada seluruh penduduk bumi.

Inflasi pulalah yang menjadi tolak ukur pertumbuhan ekonomi suatu negara, sebuah negara dianggap mempunyai ekonomi yang sehat saat inflasinya rendah pun sebaliknya, sebuah negara dengan tingkat inflasi menggila, diartikan bahwa  perekonomiaannya sedang mengalami gejala penyakit akut. Mengapa?

Tepat sekali, karena inflasi mempengaruhi segala macam pergerakan dan gejolak ekonomi, mulai dari pengangguran, ekspor, impor, kurs rupiah hingga tabungan, deposito dan investasi.

Dilansir dari Gubernur Senior Bank Indonesia, Mirza Adityaswara memperikaran bahwa tahun 2017, laju inflasi Indonesia akan terus naik. Rangga Cipta, Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia menyatakan inflasi Indonesia dari bulan Januari hingga Desember 2016 berada di bawah 3,5% YoY dan pada 2017 inflasi diperkirakan naik ke kisaran 4,5% YoY. Perkiraan laju inflasi tersebut didasarkan pada alasan karena perubahan iklim yang  akhirnya berdampak terhadap gejolak harga kebutuhan pangan.

Problema yang dihasilkan dari sebuah kata “inflasi” sungguh tak bisa disepelekan begitu saja. Seolah menjadi penopang perekonomian, dampaknya pun  sangat memprihatinkan. Saat inflasi di sebuah negara naik maka harga barang-barang berangsur naik. Membuka peluang impor lebih besar sehingga harga barang-barang domestik akan kalah bersaing dengan barang impor yang biasanya selalu lebih menarik.

Kenyataan ini pula yang mendesak masyarakat beralih dan lebih memilih barang impor dibandingkan barang domestik. Lambat laun, nilai ekspor akan turun seiring impor yang semakin menggeser nilai ekspor. Akibatnya permintaan produk dalam negeri menurun, perusahaan pun akan menurunkan jumlah produksinya.

Lihat apa yang terjadi saat perusahaan memutuskan untuk mengurangi jumlah produksinya, mereka pun akan mengurangi jumlah tenaga kerja dan jika ini terus berlangsung maka perusahaan akan membatasi bahkan menutup diri untuk para angkatan kerja baru yang  setiap tahun jumlahnya dipastikan semakin bertambah. Inilah babak baru dari pengangguran yang semakin meningkat.

Sebagai suatu akibat inflasi yang tinggi maka kemampuan daya beli mata uang yang dipegang masyarakat akan turun. Jika kemampuan mata uang menjadi terus lemah maka masyarakat yang berpendapatan tetap sudah barang tentu akan mendapatkan perbelanjaan uangnya yang juga semakin rendah.

Pun, kenaikan tingkat inflasi memberi tekanan bagi para pelaku usaha. Iklim usaha menjadi tidak stabil. Dengan meningkatnya inflasi yang juga berdampak pada naiknya harga-harga barang memaksa sang pelaku usaha merubah harga yang artinya ada biaya tambahan demi untuk merubah harga produk mereka.

Tak hanya itu, laju inflasi juga berdampak pada besaran pajak yang akan dinikmati oleh masyrakat. Laju inflasi akan mendistorsi pajak pendapatan atau keuntungan baik itu pajak perseorangan ataupun badan usaha progresif.

Hal ini berarti saat pendapatan atau laba yang diperoleh makin besar maka tarif pajaknya juga makin besar, mencerminkan bahwa sebenarnya tidak ada kenikan atau tambahan atas pendapatan atau laba yang diperoleh sebab kenyataan kemampuan daya beli yang semakin direnggut oleh inflasi.

Memantau inflasi sepertinya harus menjadi kebiasaan yang menyenangkan jika ingin “mengamankan” uang. Inflasi tak bisa melepas kaitannya dengan suku bunga. Saat tingkat inflasi tinggi maka suku bunga rendah dan sebaliknya. Jika Bank Sentral harus menaikkan suku bunga maka peredaran uang di masyarakat akan mulai berkurang sebab insting mereka akan langsung tertuju pada “faedah” naikknya suku bunga.

Benar, masyarakat akan terdorong mengurangi uang dalam genggaman dan lebih memilih untuk membeli obligasi yang notabenenya menguntungkan saat suku bunga naik. Namun telusuri lebih dalam jika semua orang memilih mengamankan uangnya dalam bentuk obligasi, hal ini sejurus mirip dengan istilah menimbun harta. (pipin/rmat)

BERSAMBUNG