Banyak Warga Beijing Memilih “Perjalanan Membersihkan Paru-Paru”

126
Banyak Warga Beijing Memilih Perjalanan Membersihkan Paru-Paru. (internet)

“Jangan lagi menunda-nunda waktu, pergi dahulu dari sini baru berbicara!” Warga Beijing yang tinggal di daerah paling parah terkena kabut polusi sudah sulit untuk bertahan.

Sebagian warga Beijing yang sudah berkeluarga memboyong anak mereka untuk meninggalkan tempat tinggal dan bergabung dalam rombongan “perjalanan membersihkan paru-paru.”

Membawa anak bini keluar Beijing

Dalam beberapa tahun terakhir, alat pembersih udara ruangan maupun kendaraan, masker 3M, juga alat pengukur kualitas udara ‘PM2.5’  sudah masuk kata-kata yang paling populer dan sering dicari netizen melalui daftar pencarian kata jaringan internet.

Pada 2017, kabut polusi ‘tahun baru’ telah menciptakan rekor terlama dalam sejarah, sekaligus membuat gangguan terhadap kesehatan yang paling jelas dirasakan. Alat pembersih udara sudah mampu memenuhi harapan masyarakat. Sejumlah orangtua langsung membawa keluarganya untuk mengungsi ke wilayah selatan, bahkan ada yang pergi keluar negeri.

Media Hongkong mengabarkan bahwa akibat kabut polusi itu tingkat kehadiran anak-anak TK di wilayah Beijing telah menurun secara drastis. Seorang kakek yang biasa mengantarkan cucunya bersekolah mengatakan, bangku kelas cucunya itu hanya 1/3 yang terisi, karena banyak anak yang mengalami sakit, bahkan sebagian sudah ‘kabur’ bersama orangtua mereka.

“Anak saya sudah batuk selama lebih sebulan lamanya, setiap hari mesti diterapi dengan fog inhalation, sudah mondar-mandir ke seluruh rumah sakit anak-anak ternama di Beijing, untuk pengobatannya saja sudah menghabiskan dana sekitar RMB 20.000 (+/- Rp. 40 juta),” komentar seorang Ibu.

Ibu tersebut memilih pergi sekeluarga ke kota Sanya (di Pulau Hainan) untuk “membersihkan paru-paru” meskipun harus kehilangan uang sekolah RMB 5.000.

Seorang wanita lain bermarga Sun yang sudah belasan tahun tinggal di Beijing mengatakan, ia sedang mengurus ijin mengundurkan diri dari pekerjaan dan bersiap-siap untuk pulang ke kampung halamannya di propinsi Hunan, gara-gara putrinya menderita batuk alergi yang semakin hari semakin memburuk.

Walaupun masyarakat berharap bisa mengungsi ke wilayah selatan Tiongkok, tetapi kondisi udara di sana juga sedang memburuk karena ‘ketularan’. Kualitas udara di kota-kota seperti Chongqing, Hangzhou, Guangzhou, Dongwan dan lainnya pekan lalu sudah untuk pertama kalinya dinyatakan masuk siaga kuning. Saat ini, sulit untuk mencari tempat di seluruh Tiongkok yang memiliki udara bersih.

Warga Desa Kabut Polusi’ di Tangshan terkepung dan menunggu mati

Propinsi Hebei adalah salah satu daerah paling parah terkena kabut polusi. Khususnya Desa Songting di kota Qian’an, Hubei yang dijuluki “Desa Sumber Kabut Polusi” atau “Desa Kabut Polusi” karena dikelilingi oleh sejumlah pabrik besi dan baja yang membuang limbah berpolusi sehingga warga masyarakat di sana sering terbangun akibat sesak napas di tengah tidur malam.

Dari warga meninggal dunia desa itu sebagian besar dikarenakan menderita penyakit yang berhubungan dengan pencemaran lingkungan seperti stroke, kanker paru-paru dan lainnya.

Warga tersisa sekarang sangat ingin untuk pindah dari desa itu, tetapi tidak berdaya karena masalah biaya dan terseret penyakit lama sehingga hanya bisa menunggu ajal menjemput.

Dituturkan oleh warga desa di sana bahwa limbah beracun yang dibuang oleh pabrik kokas di Qian’an menyebabkan polusi yang sangat serius. Selama beberapa tahun para warga tua desa tersebut telah berulang kali menghentikan kendaraan pengangkut bahan sebagai protes terhadap pabrik. Tetapi mereka ditangkap petugas keamanan dan buruh pabrik tersebut.

Air sumur di desa sudah berwarna kuning dan terasa asam, lahan sudah tidak bisa ditanami lagi, bahkan tidak ada gadis yang bersedia dinikahi pemuda dan tinggal di desa Songting.

Penjualan alat pembersih udara menurun tetapi pengungsi kabut melonjak

Masker kabut yang belum tentu asli dan berguna banyak beredar di pasar, alat pembersih udara yang dijual di toko-toko diserbu pembeli sampai kehabisan stok. Warga terpaksa memilih untuk menjadi pengungsi kabut dengan melakukan perjalan ke wilayah selatan Tiongkok atau keluar negeri. Bahkan ada warga yang memilih daerah paling jauh yang lebih bebas kabut polusi, yaitu Kutub Selatan.

Media Tiongkok sebelumnya melaporkan bahwa warga yang memilih perjalanan menghindari kabut sejak memasuki 2017 kian bertambah banyak. Mereka-mereka itu kebanyakan berasal dari Beijing, Tianjin, daerah Sungai Yangtze, Wuhan, Chengdu dan lainnya yang termasuk daerah paling parah terkena kabut polusi.

Menurut data yang dikumpulkan ctrip.com bahwa, tujuan perjalanan yang paling populer dari masyarakat Tiongkok pada Desember 2016 adalah Sanya, Xiamen, Lijiang, Guilin, Zhangjiajie, Jiuzhaigou. Selain itu, tercatat ada lebih dari 150.000 orang yang bepergian ke luar negeri.

Mereka lebih memilih Thailand ketimbang Korea Selatan dalam memprioritaskan tujuan  perjalanan. Selain itu, Antartika yang dianggap paling jauh dari pencemaran juga menjadi  pilihan terbaik. (Sinatra/rmat)