Barat Merangkul Budaya Tionghoa (2)

187
Di dalam kitab perangnya itu Sun Wu sejak awal menekankan betapa pentingnya intelijensi, Sun Wu memprakarsai kenali diri sendiri dan kenali musuh, maka ratusan kali berperang pun tak akan terkalahkan. (internet)

Penyebaran PTT di Luar Negeri

Pengobatan tradisional Tiongkok (PTT) bersumber dari negeri Tiongkok kuno, yang merupakan metode pengobatan tradisional yang mengacu pada metode medis terapan Tiongkok klasik, dan telah memiliki sejarah ribuan tahun. Menurut pemberitaan majalah “South Wind Window” Guangzhou, penyebaran PTT ke luar negeri paling awal bisa ditelusuri hingga ke zaman Dinasti Han.

Beberapa tahun terakhir semakin banyak warga asing yang memilih untuk belajar ilmu PTT, karena mereka merasa PTT sungguh ajaib. Hanya dengan sebatang jarum (akupunktur), sebuah botol, bisa mengobati begitu banyak penyakit. Ada juga warga asing yang sangat tertarik dengan konsep Yin dan Yang serta lima elemen utama dalam PTT.

Dalam Olimpiade Rio tahun lalu, Michael Phelps yang dijuluki ‘flying fish’ AS kembali merebut empat medali emas, dan berhasil menyabet 22 medali emas. Bekas merah akibat ‘kop/bekam’ (sedot botol) di sekujur tubuhnya sempat menarik perhatian penonton dari seluruh dunia.

Phelps sendiri sangat suka dengan metode bekam. Menurut pelatih, sudah 2 tahun Phelps sangat menyukai metode ini, dan merasa sangat mujarab. Ia pernah menggunakan video rekaman pengobatan tersebut sebagai film iklan untuk produk alat olahraga yang dibintanginya.

Atlit senam bernama Alex Naddour yang juga menyukai metode bekam juga memuji, “Ini adalah resep rahasia saya untuk mempertahankan kondisi fisik saya, karena latihan keras dalam jangka waktu panjang tubuh kami sering terasa sakit. Ini adalah metode pengobatan yang paling hebat yang selama ini pernah saya coba.”

“Taktik Perang Sun Tzu” Direkomendasikan di Luar Negeri

Warisan budaya Tiongkok klasik bidang militer yakni “Taktik Perang Sun Tzu” adalah kitab perang sebanyak 13 pasal hasil karya Sun Wu (545SM – 470SM) yang merupakan seorang jendral besar dari akhir zaman Chun Qiu (Musim Semi Musim Gugur).

Di dalam kitab perangnya itu Sun Wu sejak awal menekankan betapa pentingnya intelijensi, Sun Wu memprakarsai kenali diri sendiri dan kenali musuh, maka ratusan kali berperang pun tak akan terkalahkan.

Intisari pemikiran dalam karya ini telah melampaui aspek militer dan sangat direkomendasikan di berbagai negara. Di toko buku online terbesar “Amazon” saat ini telah dijual lebih dari 100 jenis buku terkait “Sun Tzu”. Di antaranya buku “Taktik Perang Sun Tzu” yang paling diminati terbitan Oxford University Publisher pada 1986, yang selalu menduduki beberapa posisi teratas dalam daftar buku terlaris di toko tersebut. Jepang, Korea, dan Amerika adalah negara yang paling getol melakukan riset “Taktik Perang Sun Tzu”.

Taktik perang Sun Tzu sendiri telah diterapkan secara luas di bidang militer di seluruh dunia. Menurut informasi, sejak akhir 70-an hingga sekarang, Akademi Militer West Point telah memasukkan “Taktik Perang Sun Tzu” sebagai salah satu buku referensi. Kementerian Pertahanan juga menggelar ribuan kali seminar “Taktik Perang Sun Tzu” bagi para perwira dan stafnya.

Menurut surat kabar “The Los Angeles Times”, setelah peristiwa “11 September WTC” buku “Taktik Perang Sun Tzu” telah terjual sebanyak 16.000 buku dalam tempo sebulan.

Sebenarnya penerapan “Taktik Perang Sun Tzu” di negara Barat sudah jauh melebihi aplikasinya di bidang militer. Pemikiran Sun Tzu memiliki makna luas yang aplikatif dalam hal politik, ekonomi, perdagangan, personalia, dan juga strategi pasar.

Majalah “Entrepreneur” AS pernah mengatakan, “Jika Anda pernah merasakan ajang bisnis ibarat ajang perang, maka, buku (Taktik Perang Sun Tzu) yang ditulis oleh guru besar klasik Tiongkok ini akan mengajarkan banyak hal pada Anda.”

Menurut pemberitaan MBA Think Tank Documentation, di era tahun 60-an abad lalu, Jepang telah menerapkan “Taktik Perang Sun Tzu” di dalam manajemen bisnis. Seorang akademisi Jepang bernama Murayama mengatakan bahwa eksistensi dan perkembangan bisnis Jepang ditopang oleh dua pilar, yang pertama adalah sistem manajemen modern AS, dan yang kedua adalah strategi “Taktik Perang Sun Tzu”.

Pakar marketing AS bernama Philip Kotler dalam bukunya berjudul “Marketing Management” telah membahas penerapan “Taktik Perang Sun Tzu” ini dalam marketing. Pengusaha Jepang sangat merekomendasikan konsep Sun Tzu yakni “satu visi dari atas hingga bawah akan menang”, digabungkan dengan pemikiran Konfusius untuk menciptakan metode manajemen yang saling kooperatif.

Mantan CEO General Motors Roger Smith pada 1984 menjual 8,3 juta unit mobil dan menduduki posisi pertama di dunia. Ia berkata kunci keberhasilannya didapat dari banyak hal dalam buku “Taktik Perang Sun Tzu”, dan sejak saat itu ia mendapat julukan “otak pakar strategi”. (Epoch Times/sud/whs/rmat)

BERSAMBUNG