Bukti Geologi Menunjukkan Sphinx Sudah Ada Sejak 800 Ribu Tahun Silam (1)

224
Ilustrasi Sphinx. (internet)

Monumen yang penuh teka-teki dan paling misterius di bumi ini, jelas dan tak diragukan lagi adalah Sphinx di dataran tinggi Giza, Mesir.

Bangunan kuno ini, telah membingungkan para peneliti sejak penemuannya sampai saat ini, tidak ada yang mampu memastikan usia Sphinx ini secara akurat, karena tidak ada catatan tertulis di masa lalu.

Sekarang, dua peneliti dari Ukraina mengemukakan teori provokatif yang baru, bahwa Sphinx Mesir sudah ada sekitar 800 ribu tahun silam. Ini adalah teori revolusioner yang didukung oleh etika ilmiah.

Studi ini dipresentasikan pada Konferensi Internasional Geoarchaeology dan Archaeomineralogy yang diadakan di Sofia, Bulgaria dengan tema “Geological Aspect Of The Problem Of Dating The Great Egyptian Sphinx Construction.”

Penulis adalah ilmuwan Manichev Vjacheslav I dari Institut Lingkungan Geokimia dari National Academy of Sciences Ukraina dan Alexander G.Parkhomenko dari Institut Geografi National Academy of Sciences Ukraina.

Titik awal dari dua ahli ini berasal dari pergeseran paradigma yang diprakarsai oleh West dan Schoch. Sebuah ‘debat’ dimaksudkan untuk mengatasi pandangan ortodoks dari Mesir Kuno mengacu pada asal-usul paling tua yang mungkin dari peradaban Mesir dan bukti fisik lain dari erosi air yang menandai monumen Giza Plateau.

Menurut Manichev dan Parkhomenko, kita bisa menggunakan pendekatan geologi dengan metode alam ilmiah lainnya yang memungkinkan untuk menjawab pertanyaan tentang usia sebenarnya dari Sphinx. Kita juga bisa menarik satu kesimpulan penting dari penyelidikan secara visual pada Sphinx dari limpahan air yang membanjiri sebagian monumen dengan membentuk potongan gelombang berbentuk cekungan di dinding vertikal.

Morfologi formasi tersebut memiliki kemiripan dengan cekungan seperti dibentuk oleh laut di wilayah pesisir. Kemiripan genetik dari bentuk erosi dibandingkan dan struktur geologi dan komposisi petrografi dari kompleks batuan sedimen hingga menyebabkan kesimpulan bahwa faktor penentu dari penghancuran monumen bersejarah adalah adanya energi gelombang dari abrasi pasir dalam proses Eolian.

Bentuk lahan Aeolian adalah bentuk lahan yang diakibatkan oleh bentukan asal proses pelapukan oleh angin dan gabungan pelapukan oleh aliran air.  Literatur geologi produktif menegaskan fakta keberadaan danau air tawar yang terbentuk di berbagai periode Kuarter dari Pleistocene Bawah.

Danau ini didistribusikan di wilayah yang berdekatan dengan sungai Nil. Tanda mutlak dari rongga erosi besar atas dari Sphinx sesuai dengan tingkat permukaan air yang berlangsung di Pleistosen Awal. The Great Sphinx Mesir sudah berdiri di Giza Plateau pada masa itu.

Sebuah argumen yang kuat dibuat oleh para ilmuwan Ukraina dalam hal Sphinx, argumen berdasarkan studi geologi yang mendukung pandangan Schoch mengenai Sphinx dan usianya.

Manichev dan Parkhomenko fokus pada tingkat keparahan dari sebagian Sphinx lainnya, mengesampingkan fitur erosif dimana Sphinx terletak yang telah dipelajari sebelumnya oleh Schoch. Para sarjana Ukraina memfokuskan medan bergelombang dari Sphinx yang menampilkan pola misterius.

Ilmuwan mainstream mengemukakan penjelasan terkait fitur itu, mereka menyatakan bahwa hal itu diakibatkan oleh abrasif angin dan pasir. Sementara bentuk bergelombang yang terbentuk itu karena lapisan dari batu yang relatif keras lebih mampu menahan erosi, sedangkan lapisan yang relatif lunak akan lebih mudah terpengaruh sehingga membentuk celah.

Namun, sebagaimana yang dikatakan Manichev dan Parkhomenko, argumen ini tidak menjelaskan mengapa bagian depan kepala Sphinx tidak memiliki bentuk tersebut.

Berkenaan dengan argumen yang dibuat oleh Schoch tentang periode hujan deras yang terjadi sekitar 13.000 SM, para ilmuwan Ukraina mengatakan bahwa hanya sebagian dari hipotesa Schoch bisa membuktikan bahwa fitur erosif dari Sphinx jauh lebih awal daripada masa 13.000 SM. (Zhengjian.net/joni/rmat)