Penyelesaian Politik Atas Efek Gelembung Properti RRT (1)

170
Efek gelembung di sektor properti RRT adalah produk politik yang abnormal, juga terus berkembang di tengah iklim politik yang korup, dan pada akhirnya harus diselesaikan secara politik juga. (Reuters)

Oleh: DR. Frank Tian, Xie

Kalangan luar melihat pasar properti RRT benar-benar seperti dari tengah kabut polutan asap tebal, memandang bangunan-bangunan tinggi yang kosong dan terkesan angker, semen yang dingin dan menakutkan.

Masyarakat yang berpikiran normal akan bertanya-tanya, ada apa dengan negara ini? Apa yang ada dalam pikiran pembuat kebijakan? Bagaimana perbankan berhitung? Bagaimana pula rakyat bergelut dengan situasi ini? Jelas-jelas rumah-rumah itu tidak bisa terjual habis, mengapa masih mati-matian membangun lagi?

Pasar jelas sudah jenuh, mengapa di tengah situasi suplai lebih besar daripada kebutuhan, dalam situasi seperti itu, ketika di semua negara harga properti sudah anjlok, hanya di RRT harga properti tetap bertahan tinggi?

Mengapa properti yang tidak berstatus hak milik, dengan “hak guna” yang hanya puluhan tahun, bisa digoreng hingga jauh melampaui harga properti di negara lain yang berstatus hak milik?

Mengapa di saat ada tangan yang tak terlihat berdampak menurunkan harga properti, selalu akan ada tangan “yang terlihat” atau tangan di balik layar menghentikan pasar untuk menyelaras dengan sendirinya?

Meletusnya gelembung busa pasar properti di RRT adalah masalah besar yang harus diperhatikan, harus diselesaikan, dan harus ditangani dengan segera. Jika masalah ini tidak diselesaikan, maka ekonomi RRT, jaminan pensiunan dan tabungan rakyat RRT, sistem finansial RRT, pemerintah daerah RRT, akan terjerat di dalam lilitan yang tak teruraikan, akan terbelenggu di dalamnya.

Jika satu hari efek gelembung ini ditunda penyelesaiannya, pemerintah mungkin akan melihat mereka berhasil melalui satu hari, bisa lega selama 24 jam, tapi sesungguhnya, dampak dan bahaya yang timbul jika gelembung itu meletus akan semakin besar.

Pada forum diskusi di RRT, semua orang berbicara soal penyelesaian efek gelembung pada bursa properti, tapi tidak ada orang yang berani memperhatikan hal krusial pada masalah ini. Bagaimana menyelesaikannya? Bagaimana membuat gelembung itu mendarat, pecah, atau mendarat dengan lembut? Efek gelembung properti di RRT sebenarnya adalah produk politik, yang juga tumbuh di tengah politik yang korup, dan pada akhirnya juga harus diselesaikan dengan cara politik.

Sejak berawalnya efek gelembung properti di RRT, adalah masalah politik, merupakan produk politik, adalah akibat dari campur tangan politik terhadap ekonomi, politik terseret masuk ke dalam ekonomi, politisi meraup untung dari ekonomi, politik mendapat keuntungan dari ekonomi.

Pada masyarakat yang normal, pemerintah tidak berhak merampas tanah milik rakyat, lalu menjual kembali “hak pakai” itu kepada rakyat. Sejak dulu, pasar properti RRT adalah penipuan total, adalah legalisasi kejahatan PKT yang merampas tanah milik rakyat RRT, lalu disahkan, dan disistemisasi.

Hal yang lebih konyol lagi, oknum PKT yang berkepentingan membagi-bagikan tanah yang dirampas itu kepada putra putrinya, lalu menjual hak guna dengan mahal kepada rakyat. Akan tetapi walaupun ini tidak adil dan tidak bermoral, PKT tetap tidak berubah apalagi menyesali kejahatannya, sebaliknya tetap meraup untung dengan kekuasaan dari transaksi tanah dan rumah.

Sama sekali tidak peduli pelanggaran hukum yang telah dilakukan, sebaliknya terus menciptakan lebih banyak ketidakadilan dengan berlandaskan ketidakadilan!  (sud/whs/rmat)

BERSAMBUNG