Mi Instan Korea Mengandung Babi, Berikut Reaksi Badan POM

193
Mie Samyang (Foto : Istimewa/Internet)

JAKARTA – Belum lama  ini diramaikan dengan pemberitaan tentang sidak di Sumenep, Jawa Timur yang menemukan adanya mi instan asal Korea Selatan dengan merek Samyang mengandung babi. Bahkan kandungan babi itu jelas tercantum dalam kemasan yang hanya berbahasa Korea itu.

Sehubungan pemberitaan ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan dikutip dari situs resmi, Senin (30/1/2017) menanggapi secara rinci mengenai produk mi instan asal Korea ini. Badan POM menyatakan berdasarkan data base Badan POM, produk mi instan merek Samyang asal Korea terdaftar di Badan POM atas nama beberapa importir.

Atas kasus ini, Badan POM menyatakan menerbitkan izin edar setelah melakukan evaluasi terhadap aspek keamanan, mutu, dan gizi, serta label produk pangan. Apabila bahan baku yang digunakan berasal atau mengandung babi atau turunannya dan atau proses produksinya bersinggungan dengan produk mengandung babi, maka:

  • Produk harus mencantumkan gambar babi dengan tulisan berwarna merah “mengandung babi” pada label produk pangan.
  • Penempatan termasuk display di sarana retail, produk yang mengandung babi harus diletakkan terpisah dari produk non-babi.

Menurut BPOM, berdasarkan pengambilan contoh dan pengujian terhadap parameter DNA babi, ditemukan bahwa tidak semua produk mi instan Samyang mengandung babi. Terhadap produk yang mengandung babi namun tidak mencantumkan peringatan pada kemasan, Badan POM telah memerintahkan importir yang bersangkutan untuk melakukan penarikan produk.

Menindaklanjuti kasus peredaran produk mi instan yang diduga mengandung babi, petugas Balai Besar POM di Surabaya bersama petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep telah melakukan penelusuran dan pemeriksaan.

Sebagai langkah antisipasi dan perlindungan konsumen, Badan POM telah menginstruksikan Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia untuk terus melakukan pengawasan terhadap kemungkinan beredarnya produk yang tidak memenuhi ketentuan, termasuk ketentuan penggunaan Bahasa Indonesia pada label produk pangan.

Badan POM terus memantau perkembangan isu ini dan mengambil langkah hukum jika terbukti melanggar peraturan perundang-undangan. Badan POM mengimbau para pelaku usaha agar tidak memproduksi dan/atau mengedarkan Obat dan Makanan tanpa izin edar/tidak memenuhi ketentuan.

“Kepada masyarakat diimbau untuk tidak membeli produk tanpa izin edar, dan apabila menemukan produk yang tidak memenuhi ketentuan atau mencurigakan, untuk melaporkan pada Badan POM atau Balai Besar/Balai POM terdekat,” rilis BPOM. (asr)