Isu-isu Sensitif akan Dipertanyakan Beijing kepada Washington

159
Pemimpin Tiongkok akan mempertanyakan 6 isu penting kepada AS selain soal penjualan senjata ke India. (Diptendu Dutta/AFP/Getty Images)

Oleh Wu Ying

Seorang yang pernah menjabat sebagai penasehat dalam tim transisi pemerintahan Donald Trump mengatakan bahwa penguasa Beijing bermaksud untuk mempertanyakan kepada AS terkait 6 isu sensifif.

6 isu sensitif itu diantaranya soal penjualan senjata kepada India dan keamanan perbatasan Tiongkok – India.

Penasehat kebijakan pertahanan AS dan ahli urusan Tiongkok, Michael Pillbury kepada media ‘The Times of India’ mengatakan, sejak dahulu, pemerintah Beijing tidak pernah secara terbuka menentang India membeli senjata dari AS, tetapi sekarang mereka berencana untuk mengangkat isu sensitif tersebut.

Penasehat Trump ini juga mengatakan bahwa pemimpin Tiongkok akan mempertanyakan 6 isu penting kepada AS selain soal penjualan senjata ke India. Termasuk isu penempatan senjata anti rudal THAAD dan perangkat radar SPY, kebijakan Satu Tiongkok, isu Taiwan, Dalai Lama dan pemerintah Tibet di pengasingan.

Sementara itu, Beijing sudah meminta kepada Presiden Trump untuk tidak menemui Dalai Lama.

Michael Pillbury mengatakan, rezim Beijing tidak suka dengan penempatan THAAD AS di Korea Selatan, karena dapat mengganggu kemampuan rudal balistik antar benua (ICBM) mereka.

Michael Pillbury baru-baru ini dalam forum diskusi internal ‘Raisina Dialogue’ pada akhir tahun lalu mengatakan, masalah lain yang menjadi kekhawatiran Beijing tahun ini adalah apakah Trump akan mendukung India untuk memiliki kedaulatan teritori atas Arunachal Pradesh, serta mengijinkan penjualan senjata kepada India yang sekarang ini sudah menjadi pembeli senjata AS terbesar.

Terkait isu teritorial di Laut Tiongkok Selatan, Menlu baru AS Rex Tillerson dalam acara dengar pendapat di Senat menyebutkan bahwa AS harus berusaha untuk menghentikan proyek reklamasi pulau Tiongkok di wilayah itu.

Namun Michael Pillbury kepada wartawan ‘The Times of India’ mengatakan, “Beijing tidak lagi khawatir karena Trump adalah seorang pengusaha yang hanya memikirkan soal bagaimana membuat AS menjadi besar. Nah, kalau itu Tiongkok memiliki kemampuan untuk membantunya”.

Selain itu, Michael juga mengatakan bahwa kedua penasehat Trump masing-masing Alexander Gray dan Peter Navarro dalam artikel berjudul ‘Trump’s Asia-Pacific Policy’ yang dimuat jurnal ‘Foreign Policy’ menyebutkan bahwa kebijakan Asia Pasifik Trump tidak kalah penting, karena itu merupakan tuangan dari pikiran Trump sendiri dan ia tidak akan mengorbankan perekonomian AS hanya demi kebijakan luar negeri.

Untuk mencapainya, Trump berencana untuk membentuk sebuah kekuatan militer yang besar. Demikian disebutkan oleh kedua penasehat dalam jurnal.

Menurut Michael Pillbury, Trump orangnya sulit ditebak, terutama adalah menghindari masyarakat Tiongkok mengetahui lebih awal jalan pikirannya. Menurutnya itu memang merupakan kekuatan Trump dalam bernegosiasi. (sinatra/rmat)