Tiongkok Menimbun Emas Batangan

175
Jumlah emas batangan asal Swiss yang diimpor Tiongkok meningkat sejak akhir tahun lalu. (Jung Yeon-je/AFP/Getty Images)

Oleh Qin Yufei

Sejak akhir tahun lalu, jumlah emas batangan asal Swiss yang diimpor oleh pemerintah Tiongkok telah mengalami peningkatan tajam akibat menurunnya nilai mata uang Renminbi. Ditambah lagi dengan situasi dari hubungan ekonomi Tiongkok – AS yang masih “berkabut tebal.”

Laporan Kantor Bea dan Cukai Swiss pada Januari 2017 menyebutkan bahwa, emas batangan yang diekspor ke Tiongkok meningkat dari jumlah 30.6 ton pada November menjadi 158 ton pada Desember 2016.

Media Tiongkok ‘South China Morning Post’ melaporkan, Swiss memiliki industri peleburan emas berkapasitas besar dengan Tiongkok dan India sebagai negara pelanggan ekspor mereka.

Meskipun Kantor Bea dan Cukai Swiss tidak mengungkap rincian tentang nama pembeli  Tiongkok, tetapi para ekonom percaya bahwa permintaan emas batangan oleh baik perusahaan atau individu pada periode tahun baru Imlek biasanya akan meningkat.

Selain itu, Bank Sentral Tiongkok juga berpotensi menimbun emas batangan yang merupakan  bagian dari diversifikasi cadangan devisa mereka sebagai aset strategis untuk menghadapi dampak negatif dari komentar-komentar Presiden Donald Trump.

Penurunan nilai mata uang Renminbi, pengaruh tren pasar saham Tiongkok yang sedang lesu ditambah dengan tekanan luar negeri yang berupa dampak Brexit dan munculnya Trump sebagai pemenang pemilu presiden AS, menyebabkan jumlah kebutuhan cadangan emas untuk mengamankan nilai devisa jadi meningkat.

South China Morning Post mengutip ucapan seorang peneliti bidang emas Beijing bernama Zhang Baoqiang melaporkan bahwa Bank Sentral Tiongkok sepertinya sedang menjual Dollar AS untuk menambah jumlah cadangan emas mereka.

Langkah itu diambil sebagai bagian dari persiapan perang ekonomi antara Beijing dengan Washington jika sampai terjadi.

Zhang juga menambahkan, Bank Sentral Tiongkok sudah mulai melakukan hal itu sejak 2014. Meskipun dari data laporan keuangan Bank sentral pada kuartal terakhir tahun tidak menunjukkan perubahan angka jumlah cadangan emas yang dimiliki, tetap saja 1.678 ton, tetapi dunia luar secara luas percaya bahwa laporan bank sentral itu tidak merefleksikan kondisi yang sebenarnya.

Data dari Dewan Emas Dunia menunjukkan bahwa hingga akhir 2016, cadangan devisa Tiongkok dalam bentuk batangan emas diperkirakan mencapai 1.843 ton. Angka ini  menyumbang 2.2 % dari total cadangan yang mereka miliki.

Harga emas sangat sensitif terhadap ketidakstabilan geopolitik dan ekonomi terutama oleh kebijakan moneter. Harga emas melonjak tajam pada 2001 setelah terjadi serangan 11 September, juga saat krisis moneter 2008 dan setelah the Fed menerapkan kebijakan pelonggaran kuantitatif.

Trump mendesak pembangunan pagar perbatasan antara Meksiko dengan AS, serta pembatasan masuknya imigran Muslim ke AS memicu protes berbagai pihak, semua itu menyebabkan indeks pasar global dan nilai Dollar AS menurun.

Risiko akibat perang dagang antara AS dengan Tiongkok yang terus muncul selama ini juga menjadi faktor pemicu gejolak pasar keuangan dunia.

Direktur China Foreign Exchange Investment Research Institute Tan Yaling mengatakan, Trump adalah faktor spesifik yang memicu gelombang pembelian emas batangan. Tetapi sebenarnya Tiongkok sendiri sudah sejak beberapa tahun lalu sudah mulai melakukan diversifikas cadangan devisa, termasuk menambah jumlah mata uang non-Dollar AS, emas batangan, minyak mentah dan sebagainya asset yang strategis. (Sinatra/rmat)