Trump Telepon Putin Soal Perjanjian Pelucutan Senjata Nuklir

135
Presiden Trump melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Putin menyampaikan usulan program baru mengenai pembatasan penggunaan senjata nuklir. (NTDTV)

Presiden AS Trump pada Kamis (9/2/2017) melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Rusia, Putin.

Media mengungkapkan bahwa pembicaraan kedua negara tersebut terkait dengan usulan program baru yang baik untuk dimasukkan ke dalam perjanjian pembatasan senjata nuklir yang telah ditandatangani antara Obama dengan Rusia.

Dalam pembicaraan telepon itu, Trump menyatakan tidak puas terhadap perjanjian pelucutan senjata nuklir New START (Strategic Arms Reduction Treaty) yang ditandatangani antara AS dengan Rusia pada 8 April 2010 silam.

“Perjanjian tersebut lebih menguntungkan Rusia,” katanya.

Dalam New START kedua negara sepakat bahwa masing-masing pihak akan mengurangi jumlah kepemilikan hulu ledak nuklir strategis sampai di bawah 1.550 buah pada Februari 2018. Ini adalah nilai terendah dalam kurun waktu belasan tahun terakhir.

Menurut kesepakatan, pelaksanaan dari perjanjian tersebut memiliki tenggang waktu sampai 5 tahun. Tetapi Reuters dalam pemberitaannya mengungkapkan bahwa ketika Putin  mempertanyakan hal ini kepada Trump, Trump hanya menjawab dengan mengatakan bahwa  isi perjanjian ini sangat buruk.

Guru besar Ilmu Politik Universitas Columbia Robert Y. Shapiro mengatakan, “Beberapa anggota Kongres dari Partai Republik dan sejumlah pakar berpendapat bahwa isi perjanjian itu (New START) tidak cukup baik, tetapi telah didukung secara luas oleh pejabat pemerintah Obama dan anggota Kongres dari Partai Demokrat.”

Dengan tereksposnya pembicaraan antar Trump dengan Putin, maka kebijakan nuklir kembali menjadi fokus perhatian.

Beberapa hari sebelum Trump dilantik sebagai presiden, ia telah mengungkapkan kepada media bahwa ia berencana untuk berbicara langsung dengan Putin masalah pengurangan hulu ledak nuklir.

Namun selama Natal tahun lalu, Presiden Putin kepada Trump yang saat itu belum dilantik menyampaikan rencana Rusia untuk terus mengembangkan program nuklir.

Robert Y. Shapiro mengatakan, “Perjanjian tersebut memang sangat buruk, jadi yang tersirat adalah AS seharusnya memiliki lebih banyak senjata nuklir. Tetapi pendirian ini belum tentu benar, karena ketika Sekneg Rex Tillerson dalam sidang nominasinya ia juga mengatakan bahwa ia sendiri setuju dengan pengurangan senjata nuklir.”

Hingga saat ini, sikap yang ditunjukkan Trump belum secara jelas memperlihatkan target apa dalam  isu nuklir yang ingin ia capai.

Namun Shapiro memperkirakan bahwa tampaknya Trump ingin mengadakan negosiasi ulang perjanjian New START.

“Pemerintah AS masih memiliki kesempatan untuk menegosiasikan perjanjian itu, dan Trump tidak perlu mengkritik pemerintahan Obama, menyebut isi perjanjian itu buruk. Ia bisa saja mempersiapkan negosiasi ulang dengan tujuan untuk terus mengurangi jumlah hulu ledak nuklir,” kata Shapiro.

Namun, juru bicara Gedung Putih Sean Spicer menggolongkan pembicaraan kedua kepala negara itu sebagai urusan pribadi.

“Percakapan antara Presiden Trump dengan Presiden Putin itu merupakan percakapan antar pribadi. Hanya itu yang bisa saya sampaikan,” kata juru bicara Gedung Putih tersebut. (ntdtv/sinatra/rmat)