Pemasangan Gambar Mao di Tiananmen Adalah Perilaku Tipikal Aliran Sesat? (2)

112
Foto raksasa Mao Zedong yang terpampang di dinding gerbang Tiananmen kerap menjadi sasaran penodaan. Salah satunya yang cukup menghebohkan terjadi pada 23 September 1989 tiga bulan setelah tragedi pembantaian gerakan aksi damai mahasiswa. Foto insert gambar Mao yang sedang direstaurasi. (internet)

Oleh: Chuan Ren

Pada 1417, Kaisar Yongle memutuskan untuk memindahkan ibukotanya ke Beijing. Ia mengutus Kuai Xiang dan pengrajin terkenal lainnya untuk mengirim divisi yang bertanggung jawab untuk desain dan konstruksi dari kompleks istana. Kuai Xiang sesuai titah Kaisar Yongle dengan sangat cermat telah merancang pintu masuk utama dari Imperial City.

Pada 1420 rampunglah pintu masuk utama dari Imperial City. Pada saat itu dinamakan Cheng Tian Men (pintu menerima tugas dari Langit), ini mengandung makna bahwa kaisar Ming “menerima pengaturan dan petunjuk Ilahi, membuka jalan sesuai yang dikodratkan” dan juga “menerima tugas Ilahi”.

Pada 1651, Fulin, kaisar Dinasti Qing merenovasi menara gerbang dan mengganti nama “Cheng Tian Men” menjadi “Tiananmen”, yang mengandung makna Kaisar Qing “Menerima tugas Ilahi, untuk mendatangkan perdamaian dan ketentraman bagi negara”.

Itu sebabnya Tiananmen selalu menjadi simbol kekuasaan tertinggi di Tiongkok yang bersumber dari Ilahi, juga merupakan kesaksian monarki Ilahi.

Berawal dari rasa hormat dan takut pada Ilahi, hormat dan takut pada Ilahi yang merestui bangsa Tionghoa, maka kaisar Dinasti Ming dan Dinasti Qing selalu memandang Tiananmen sebagai gerbang nasib negara, sama sekali tidak berani mengandung rasa tidak hormat sedikitpun.

Menurut catatan, Tiananmen tidak pernah terbuka sepanjang tahun kecuali pada saat upacara-upacara besar, bahkan kaisar Ming dan Qing untuk keluar masuk Tiananmen pun harus mengikuti peraturan yang ketat. Kecuali hari-hari tertentu kaisar sendiri tidak diperbolehkan keluar masuk Tiananmen, terlebih lagi tidak berani menggantung potret leluhur kaisar di atas Tiananmen.

Sepanjang sejarah perkembangan masyarakat selama ribuan tahun yang diperbolehkan dibuatkan gambarnya untuk dikeramatkan dan didewakan oleh suatu bangsa hanyalah Dewata atau orang suci bangsa itu. Karena Dewata diyakini dapat memberkati bangsa itu, maka masyarakatnya secara khidmat ingin bersyukur dan menyembahnya.

Lagi pula pada umumnya mereka mengajak warganya untuk melakukan perbuatan baik, menstabilkan keseluruhan tingkat moralitas seluruh bangsa, membuat kontribusi yang besar bagi kemakmuran dan stabilitas bangsa, sehingga orang-orang juga secara spontan menghormatinya dengan cara seperti itu.

Dengan demikian para kaisar di zaman Tiongkok kuno ataupun raja-raja dari berbagai negara Barat sepanjang sejarah mempunyai tradisi menggantung gambar atau altar untuk disembah.

Di dalam agama Yahudi, Kristen, Buddha dan Tao secara turun-tumurun, semua penganut mereka demi menyatakan rasa bersyukur dan pengayoman. Diijinkan mengkeramatkan dan menyembah gambar/patung nabi/guru dari alirannya. Jelaslah sudah bahwa tradisi semacam itu berasal dari rasa bersyukur orang-orang kepada panutan mereka.

Pada 1949 PKT berhasil merebut kekuasaan dari pemerintahan Nasionalis melalui kekerasan dan mereka dengan tidak sabar selekasnya menggantungkan foto Mao Zedong (dan untuk beberapa saat juga Zhu De, panglima angkatan bersenjata PKT kala itu) sampai dengan hari ini.

Sedangkan sebelum 1949, para kaisar dari dinasti Ming dan Qing tidak ada seorangpun yang menggantung gambar mereka sendiri di atas Gerbang Tiananmen. Hal mana menunjukkan hanya tirani diktator yang suka memamerkan kekuasaannya sendiri di mata dunia, sedangkan para raja/kaisar sejati tidak akan pernah melakukan hal bodoh seperti itu.

Demikian juga di negara-negara demokrasi normal juga tidak menggantung gambar presiden pendiri Negara di atas gerbang negara, hanya negara totaliter komunis semacam itu barulah mendewakan “pemimpin revolusi”, sehingga “pemimpin revolusi” menikmati perlakuan yang sama dengan para dewa, seperti yang dilakukan oleh RRT, Kuba, Korea Utara, Laos dan Vietnam.

Dibalik itu mencerminkan pengkultusan organisasi mereka terhadap penguasa kekerasan dan kediktatoran, yang merupakan variasi yang khas dari bentuk suatu agama. Itu sebabnya partai komunis pada umumnya dianggap sebagai organisasi ajaran sesat yang khas. (pur/whs/rmat)

SELESAI