Sepenggal Sejarah Aib Militer PKT (2)

126
Veteran RRT bernama Wang Qi yang telah 54 tahun berdiam di India baru-baru ini pulang ke kampung halamannya di provinsi Shaanxi. Foto keluarga Wang Qi. (internet)

Oleh: Li Jing

Ketika media ofisial PKT menyoroti kembalinya veteran Wang Qi dari India ke kampung halaman, sesungguhnya Perang RRT-India yang melibatkan Wang Qi adalah sepenggal sejarah yang selama ini merupakan aib bagi PKT.

Menurut catatan, sejak mulai berkuasa pada 1949 silam, PKT menitikberatkan segala hal dengan aksi anti Amerika. Dan India memanfaatkan sikap ambigu PKT ini dengan berani menyusup ke jalur masuk Xishankou dan menempatkan pasukannya pada 1950. Sampai 1954 pasukan India sepenuhnya menguasai wilayah Men Yu, Luo Yu, dan Xia Cha Yu di sebelah selatan Garis Mc Mahon Tibet.

Pemerintah India pun membentuk wilayah tersebut sebagai yurisdiksi wilayah otonomi khusus perbatasan timur laut. Terhadap perlakukan India ini, rezim PKT terus membisu, bahkan pada 1954 ketika kedua negara menandatangani kesepakatan pemerintah terkait masalah Tibet, rezim PKT pun sama sekali tidak mengungkit masalah ini.

Pada Juni 1962, pasukan India masuk ke perbatasan RRT dan membangun pos penjagaan baru. Pada 20 Oktober pihak India menuduh pasukan PKT telah menyerang India dan mengirimkan pasukannya, meletuslah Perang India-RRT.

Pada 14 dan 16 November, pasukan India kembali melancarkan serangan di perbatasan RRT. Di garis timur, pasukan perbatasan di Tibet mulai membalas serangan pasukan India di sebelah timur dan barat. Serangan pasukan India di garis timur sebelah selatan Tibet dan garis barat Xinjiang gagal total.

Akan tetapi, di saat kemenangan terbaik seperti itu pemerintah PKT justru mengumumkan gencatan senjata di perbatasan terhitung sejak 22 November pukul 00. Dan pada 1 Desember pasukan PKT ditarik mundur sampai 20 mil di belakang garis kedaulatan yang telah disepakati kedua negara sebelumnya pada 7 November 1959.

Itu berarti pasukan PKT tidak hanya melepaskan semua wilayah yang telah direbutnya, tapi juga mundur sejauh 20 mil dari “Garis Batas McMahon” yang disepakati sebelum perang. Dengan kata lain, PKT tidak hanya tidak merebut sejengkal tanah pun, justru menyerahkan sebidang besar wilayah perbatasannya sendiri sebelum perang meletus sebagai zona buffer agar “tidak terjadi kontak dengan pasukan India”.

Selain itu, PKT juga mengembalikan seluruh senjata, kendaraan perang, dan logistik militer yang dirampas selama perang kepada India secara tanpa syarat, lalu pada 26 Mei 1963 membebaskan dan memulangkan seluruh tawanan perang India.

Walhasil, di dalam sejarah peperangan di dunia pun muncul suatu peristiwa langka, aneh bin nyata: PKT memenangkan perang tapi kalah sebidang wilayah kedaulatannya; India yang kalah perang justru mendapat sebidang wilayah.

Setelah PKT mundur, pasukan India tak hanya dengan cepat menduduki kembali wilayah yang pernah dicaploknya, bahkan juga mendapatkan “zona buffer” yang diserahkan oleh PKT menjadi wilayah kedaulatan India.

Pada 1987, India menjadikan wilayah selatan Tibet yang berhasil direbut kembali oleh PKT tapi kemudian diserahkan lagi itu sebagai Wilayah Federal Arunachal.

Luas wilayah tersebut setara dengan luas provinsi Jiangsu, atau setara luas provinsi Zhejiang, atau setara dengan tiga kali lipat luas pulau Taiwan. (sud/whs/rmat)

SELESAI