Film Korsel “The Crucible” Berperan Mengubah UU Negara

93
Poster film the Crucible (Silenced). (ntdtv.com)

Film “The Crucible (Silenced) diangkat dari kisah nyata mengenai sebuah sekolah penyandang cacat tunarungu-wicara di Gwangju, Korea Selatan, pada 2005. Film ini selain memecahkan berbagai rekor dalam sejarah perfilman, juga telah membuat pemerintah Korsel dengan hampir suara bulat meloloskan “revisi undang-undang pencegahan pelecehan seksual”.

Pada 2005, satu-satunya sekolah tunarunguwicara di Gwangju yakni “Gwangju Inhwa School”, mulai dari kepala sekolah sampai guru-gurunya melakukan pelecehan seksual terhadap pelajar cacat serta penganiayaan. Usia murid yang menjadi korban bahkan ada yang masih berusia 7 tahun.

“Siapa di dalam? Apa yang terjadi? Apa yang Anda lakukan disini? Tadi terdengar suara aneh dari dalam. Sepertinya kau anak baru disini, belum memahami keadaan, anak-anak disini suka melakukan permainan suara aneh jika merasa bosan, dan karena tak bisa mendengar suara sendiri, akan berteriak makin keras.”

Pemeran utama pria di film ini saat baru tiba di sekolah mengalami fenomena yang aneh, lalu diam-diam ia mulai menyelidiki. Secara tak sengaja ia menemukan fakta buruk sekolah ini, seluruh sekolah termasuk kepala sekolahnya selama jangka waktu panjang telah melakukan pelecehan seksual terhadap murid-murid tunarunguwicara dan menganiaya mereka, bahkan polisi pun disuap.

Film “Crucible” adalah film drama yang digubah dari novel berjudul sama karya Gong Ji-young, yang diangkat dari kisah nyata di Gwangju Inhwa School pada 2005 silam.

Film ini mengisahkan kabut yang menyelimuti sebuah sekolah tunarungu-wicara di Korea Selatan. Seorang guru kesenian asal Seoul bekerjasama dengan anggota organisasi HAM mengungkap peristiwa itu. Setelah mengalami berbagai rintangan dan tekanan, walaupun akhirnya mereka berhasil mengirim para pelaku ke meja hijau, namun akhirnya tetap tidak mendapatkan vonis yang adil.

Terdakwa Park Ho-wen divonis 8 bulan penjara dengan penahanan ditunda 2 tahun, terdakwa Lee Jae-fu divonis 6 bulan penjara, penahanan ditunda 1 tahun, terdakwa Lee Gang-xi divonis 6 bulan penjara, penahanan ditunda 1 tahun.

Mendengar putusan vonis tersebut, pelaku hanya tersenyum menyerigai seperti iblis. Keluarga korban dan organisasi HAM meneriakkan protes tentang gelapnya sisi hokum. Sedangkan para korban hanya bisa meneteskan air mata, hati kecil yang terluka menyaksikan betapa kejamnya fakta di masyarakat.

Seseorang yang penuh idealisme dan keadilan, menghadapi masyarakat yang sarat akan konspirasi dengan penegak hukum, menutupi fakta, praktik uang dan kekuasaan, akan merasakan tekanan yang menerpa sangat keras.

Tekanan seperti ini ibarat sebuah Crucible (tungku pencairan logam) di tengah masyarakat, yang akan berusaha melebur setiap orang dan membuat orang merasa putus asa.

Akan tetapi keadilan bukannya tidak datang, hanya saja terlambat. Pada 2011 film “Crucible” ditayangkan. Kasus pelecehan seksual ini kembali dihadirkan di depan mata masyarakat, gejolak suara yang menuntut investigasi ulang pun mulai menggelora, menerpa ibarat gelombang tsunami.

Jutaan orang menggelar petisi di internet, memaksa kepolisian Gwangju untuk membentuk tim investigasi khusus, dan hal ini terjadi hanya 6 hari setelah film ditayangkan.

Juga karena polisi melakukan investigasi ulang atas kasus ini, baru didapati ternyata guru yang terlibat dalam kasus tersebut tidak hanya 3 orang seperti dugaan semula, ternyata ada 14 orang, jumlah siswa yang menjadi korban juga bertambah menjadi lebih dari 30 siswa.

Film ini telah memancarkan kekuatan yang tak terbayangkan, akhirnya membuat pemerintah Korsel dengan suara mutlak meloloskan “revisi undang-undang pelecehan seksual”.

Pelaku pelecehan terhadap anak perempuan penyandang cacat yang belum genap berusia 13 tahun, paling berat dihukum seumur hidup. Masa dakwaan dihapuskan. Bagi pelaku yang bekerja di instansi sosial masyarakat atau instansi pendidikan khusus akan diperberat hukumannya. Undang-undang baru tersebut mulai berlaku Juli 2012, dan oleh kalangan luar dijuluki sebagai “undang-undang Crucible”.

Kasus pelecehan seksual yang menyerupai skenario film ini juga terjadi di RRT, namun berakhir dengan ending yang berbeda.

Juli tahun lalu, terungkap bahwa seorang anggota Kongres Nasional PKT bernama Shi Xuehe melakukan pelecehan seksual beruntun terhadap 4 orang siswi berusia 13 tahun. Korban siswi berusaha bunuh diri, namun sempat dicegah oleh teman sekelas, peristiwa tersebut pun terungkap.

Setelah kejadian Shi Xuehe mengundurkan diri dari jabatan di Kongres Nasional dan ditangkap oleh polisi setempat, namun pihak penyidik sampai sekarang tidak juga mengumumkan kelanjutan investigasi tersebut. (ntdtv/sud/whs/rmat)