Faktor Organisasi Baru dalam Aksi Pembunuhan Kim Jong-nam

108
Kiri atas: Kim Jong-nam cilik bersama sang ayah, almarhum Kim Jong-il. Kanan: Kim Jong-un saudara tiri (lain ibu) Kim Jong-nam. (internet)

Oleh: He Qinglian

Kasus terbunuhnya Kim Jong-nam dari keluarga pimpinan Korut, seluruh dunia mengecam politik Korut yang suram, dan menebak dampaknya terhadap hubungan RRT dengan Korut, serta tinggal seberapa besar pengaruh kendali Beijing terhadap Pyongyang.

Penulis justru lebih menyoroti faktor aksi organisasi baru dalam peristiwa pembunuhan ini. Salah seorang tersangka komplotan pelaku wanita asal Indonesia mengatakan dirinya dibujuk untuk melakukan shooting keisengan, sama sekali tidak tahu menahu bila ini adalah suatu modus pembunuhan.

“Mereka terlatih dan bagian dari rencana,” ujar Kepala Polisi Diraja Malaysia Khalid Abu Bakar usai acara perayaan imlek di kantor polisi Kuala Lumpur, Jalan Hang Tuah, Bukit Bintang, Malaysia, Kamis (23/2/2017). Red).

Jika kasus ini tidak ditangani dengan baik, akan mudah ditiru oleh orang yang tidak bertanggungjawab.

Tersangka Wanita Membunuh dalam Keadaan “Tidak Tahu Menahu”

Hingga Selasa (21/2/2017) lalu, terkait kasus terbunuhnya Kim Jong-nam, pihak kepolisian Malaysia telah menangkap 4 orang tersangka, masing-masing seorang wanita WN Indonesia, seorang pria WN Malaysia (yang kini sudah dilepas), seorang wanita pemilik paspor Vietnam, dan seorang apoteker senior di sebuah perusahaan farmasi di Malaysia WN Korea Utara bernama Ri Jong-chol.

Salah seorang tersangka WNI adalah wanita bernama Siti Aisyah ditangkap di lokasi kejadian saat kembali ke lokasi tersebut dengan mengenakan busana yang sama.

Dua eksekutor pembunuhan Kim Jong-nam, kiri: Doan Thi Huong, WN Vietnam, kanan: Siti Aisyah, WNI. (internet)

Aksi pembunuhan yang melibatkan 11 orang ini, mungkin hanya diketahui motifnya oleh satu atau dua orang yang mengorganisirnya. Kapolri Tito Karnavian mengatakan, tersangka wanita WNI Siti Aisyah yang ditangkap karena terlibat pembunuhan Kim Jong-nam menyatakan, ia tidak tahu menahu itu adalah aksi pembunuhan, dan merasa dirinya waktu itu hanya ikut ambil bagian dalam permainan lelucon/iseng dengan mendapat imbalan.

Dia bersama wanita yang mengoleskan cairan beracun ke wajah Kim Jong-Nam sebelumnya sudah pernah ikut dalam permainan serupa. Sebelumnya objek yang dipermainkan ditutup matanya, lalu menyemprotkan cairan ke wajah si objek, dan di akhir acara mereka mendapat imbalan, dan waktu itu Kim Jong-nam adalah objek terakhir mereka.

Menurut informasi dari pihak kepolisian Indonesia, mungkin Ri Jong-chol menyiapkan racun bagi komplotannya, oleh komplotan itu lalu diserahkan pada tersangka wanita untuk membunuh Kim Jong-nam.

Wartawan kantor berita AP Amerika mewawancarai keluarga Siti Aisyah di kampung halamannya di Tambora, Jakarta Barat, dan berhasil menemui keluarganya juga para tetangga. Warga setempat sangat terkejut tentang ditangkapnya Siti, dan mengatakan bahwa Siti adalah seorang ibu muda yang lemah lembut.

Selama 2008 sampai 2011 dia tinggal di tempat itu bersama suaminya. Ayah dari mantan suaminya yang bernama Tjia Liang Kiong mengatakan pada wartawan, terakhir kali ia bertemu Siti adalah pada 28 Januari lalu. Ia juga tidak percaya akan pemberitaan media massa, tidak percaya Siti adalah seorang agen rahasia yang melakukan pembunuhan.

Ibu Siti yang bernama Benah mengatakan pada wartawan lewat telepon, keluarga mereka datang dari desa, tidak mampu membantunya. Kedua orang tua Siti Aisyah sangat khawatir, namun setiap hari hanya bisa berdoa dan membaca Al Quran.

Faktor Utama Organisasi Baru dalam Aksi Pembunuhan

Namun dalam kasus pembunuhan Kim Jong-nam ini apa pun nanti hasil investigasinya, ada dua hal yang akan menjadi cara penting yang akan dijiplak pelaku kejahatan, yang sangat mungkin akan menimbulkan peniruan.

Ditangkapnya wanita WNI Siti Aisyah membuat sejumlah analis berpendapat bahwa teori yang menyatakan Korut terkait akan kasus ini sangat sulit dipercaya, alasannya karena cara kejahatan oleh kedua tersangka wanita terlalu tidak konvensional dan sangat ceroboh, tidak seperti gaya agen rahasia Korut.

Anggota kongres Korea Selatan bernama Kim Jong-Dae saat diwawancara mengatakan, terhadap kasus Kim Jong-Nam ini “ada kecerobohan yang sulit dipercaya”.

Saya sepakat dengan sebagian dari Analisa ini, bahwa ini bukan pekerjaan seorang agen rahasia. Negara Barat yang terbiasa menggunakan agen profesional untuk menangani aksi seorang agen mungkin akan sulit memahami hal ini, tetapi bagi orang yang pernah hidup di RRT dimana mengumpulkan data intelijensi dari luar negeri, atau mengawasi orang di dalam negeri, selalu menggunakan “massa” di tengah lingkungan masyarakat, maka tidak akan sulit memahami kejadian seperti ini.

Dari pengakuan Siti Aisyah dapat dilihat, dia mungkin benar-benar direkrut sementara untuk ikut serta dalam aksi “lelucon” mengoleskan cairan, walaupun mungkin dalam benaknya dia tahu tidak sekedar “permainan lelucon”. Tetapi di bawah godaan imbalan, dia mungkin akan berpikir bahwa mengusapkan cairan mungkin hanya membuat orang pingsan sesaat, dan tidak berpikir terlalu jauh akan mengakibatkan kematian.

Dilihat dari perilakunya yang terang-terangan kembali ke lokasi kejadian pada hari kedua, sangat mungkin adalah seperti itu kondisinya.

Membuat pelaku dalam kondisi tidak tahu apa-apa tapi membunuh seseorang, aksi pembunuhan yang dirancang seperti ini memang sangat lihai, dan telah membuat dunia berada dalam kondisi sangat tidak aman.

Kini alat untuk membunuh terus diperbaharui, seperti barang-barang yang dipajang di museum intelijensi di Washington, termasuk payung beracun dari masa Perang Dingin. Bekas KGB Uni Soviet tidak hanya sekali menggunakan payung beracun untuk membunuh oposannya dan target tertentu, salah satunya yang paling terkenal adalah kasus dibunuhnya penulis pembangkang dari Bulgaria bernama Georgi Markov pada September 1978.

Waktu itu Markov ditusuk dengan payung di bagian paha saat berada di Jembatan Waterloo, London. Waktu itu ia tidak begitu memperhatikannya, empat hari kemudian ia tewas keracunan. Setelah itu terbukti, KGB menggunakan payung sebagai pistol kedap suara, yang bisa menembakkan racun ricin yang mematikan.

Payung beracun ini alat pembunuh yang cukup canggih di masa Perang Dingin, tapi dibandingkan dengan cairan yang digunakan untuk menghabisi Kim Jong-Nam, payung itu seolah tidak ada artinya.

Di era internet seperti sekarang ini, suatu organisasi, suatu pemerintahan merekrut anggota lewat internet atau iklan, menyuruh anggota menyelesaikan misi pembunuhan yang dilakukan oleh agen rahasia profesional, selain tidak meninggalkan jejak juga sulit untuk diantisipasi, dan mudah berhasil.

Menyoroti aksi pembunuhan dengan faktor organisasi baru, mengingatkan lagi masyarakat dunia jangan karena godaan sedikit imbalan lalu dimanfaatkan oleh orang lain (atau organisasi) sebagai alat pembunuh, kasus pembunuhan Kim Jong-nam ini hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi seluruh dunia. (sud/whs/rmat)