Ia Anak Durhaka pada Ayahnya, Tak Terduga 3 Tahun Kemudian Almarhum Ayahnya Menjemputnya dengan Cara ini

194

Suatu hari pada September 2012, saya menerima panggilan telepon dari ayah yang tinggal di kampung.

Ayah mengabarkan bahwa paman telah dijemput Yang Maha Kuasa, dan saya diminta pulang untuk menghantarkan paman dalam perjalanan terakhirnya.

Kehidupan manusia di dunia ini tak bedanya dengan tanaman, akan berkembang dan layu pada saatnya. terlepas bagaimana dahulunya ia bersikap kepada saya, saya patut menghormatinya karena ia lebih tua. Segala sesuatu halnya patut diakhiri seiring dengan kepergiannya.

Ketika teringat, hati ini masih terasa sedih. April 2009, kakek saya meninggal.

Jika tidak saya alami sendiri kejadiannya, mungkin saya tidak akan percaya bahwa di dunia ini ada anak yang kurang ajar, tidak berbakti kepada orangtuanya. Selain tidak berbakti kepada ayah kandungnya semasa ia masih hidup, setelah ayahnya minggal pun ia tidak mau menghormatinya. Benar-benar menyedihkan.

Ayah saya memiliki 4 saudara laki-laki. Ayah anak nomor 2. Kakek meninggal dunia pada usia 87 tahun.

Saya selalu teringat dengan hari itu, Saya mengejar perjalanpulang untuk menjenguk kakek yang berbaring di ranjang dengan tubuhnya yang begitu kurus. Saya sampai meneteskan airmata saat melihat kondisinya dan memanggil dengan suara lirih : “Kakek”.

Ia menatap saya tetapi tidak berbicara. Tak lama setelah menemani kakek saya lalu pergi makan. Tetapi ayah memanggil saya karena kondisi kakek sedang gawat.

Segera saya meletakkan sumpit dan mangkuk lalu menghampiri tempat berbaringnya kakek. Kakek sudah pergi untuk selama-lamanya dalam pelukan paman.

Setelah kakek meninggal dunia, beberapa hal yang berkaitan dengan pasca meninggalnya kakek perlu segera dilakukan. Kakek meninggal dunia di dalam rumah baru saya.

Ayah ada menyuruh membunyikan petasan, sebagaimana kebiasaan di lingkungan kami,  suara petasan digunakan sebagai tanda keluarga sedang berduka. dan para tetangga  biasanya akan datang berkumpul untuk memberikan bantuan yang diperlukan, termasuk melakukan segala sesuatunya yang berkaitan dengan pasca meninggalnya seseorang.

Tak lama setelah suara petasan berakhir, tetangga sudah mulai berdatangan. Pertama, mereka menggotong peti mati yang sudah dipersiapkan sendiri oleh kakek semasa masih hidup. Setelah kakek dimandikan, dipakaikan setelan baju abadi yang sudah disiapkan sebelumnya., lalu memasukkan jenasah ke dalam peti.

Kemudian bhiksu sembayang didatangkan untuk mendoakan arwah kakek.

Sudah menjadi kebiasaan di lingkungan kita, para tetangga yang datang membantu itu tidak mengharapkan bayaran. Keluarga duka hanya perlu menyiapkan hidangan makan mereka sebagai tanda ucapan terima kasih.

Dan umumnya mereka itu diberikan makan nasi jika jumlah orangnya cukup banyak.

Karena di rumah ada bhiksu yang melakukan sembahyang dan membuat rumah-rumahan (dari bambu dan kertas) yang akan diperuntukan arwah kakek.

Jadi beberapa tetangga yang membantu menghendaki masak nasi dengan meminjam dapur rumah paman yang lokasinya ada di tingkat lebih bawah dari rumah saya.

Dari kakek meninggal sampai kakek dimasukkan ke dalam peti jenasah, sama sekali tidak melihat paman (saudara tua ayah) hadir.

Semua peralatan masak memasak dibawa oleh tetangga dari rumah saya ke dapur rumah paman, dan nasi pun mulai dinanak di sana. Tetapi belum juga nasi matang, paman sudah balik dari gunung. Ia marah dan mengusir tetangga yang berada di sana, meminta mereka menanak nasi di rumah saya saja.

Para tetangga tidak ambil pusing dengan ketidaksenangannya, karena bagaimana pun juga ia adalah putra sulung dari kakek saya.

Namun tak lama kemudian, orang yang membantu menanak nasi datang mencari ayah dan paman (saudara muda ayah) mengatakan bahwa api mati karena disiram air oleh paman (saudara tua ayah).

Tak peduli dengan bujukan para tetangga, paman (saudara tua ayah) tetap bersikeras untuk melarang masak apapun di dapurnya.

Ia berkoar bahwa kakek itu adalah orang tua ayah dan paman-paman (saudara muda ayah) saya, bukan ayahnya.

Mungkin karena selama ini ada gesekan-gesekan pribadi antara ayah dengan dia, sehingga paman (saudara tua ayah) selalu timbul iri hati begitu kondisi keluarga kami lebih baik dari mereka.

Kecemburuan mendorong dia melakukan cara apasaja untuk membuat keluarga kami tidak tentram. Ia baru merasa senang jika kita mengalah, tetapi ia tetap akan mengganggu ayah.

Ayah orangnya relatif baik hati, ia lebih mengharapkan hubungan yang rukun-rukun di antara saudara. Tidak perlu berbuat yang bukan-bukan. Tetapi paman (saudara tua ayah) justru memanfaatkan sikap sabar dan mengalah itu untuk mengganggu ayah.

Semasa hidup kakek juga sering berpesan agar ayah tidak menggunakan kekerasan dalam menghadapi paman (saudara tua ayah), bersabar saja. Ayah bukan tandingannya katanya, dan dia nanti akan menghadapi sendiri hukum karma atas perbuatannya.

Mungkin juga karena ini, paman (saudaratua ayah) jadi berdendam kepada kakek. Menuduh kakek selalu membantu ayah.

Selama bertahun-tahun, ia tidak pernah membeli makanan untuk kakek meskipun bercocok tanam di sawah milik kakek. Bahkan sewaktu kakek mendatangi rumahnya untuk meminta sedikit kayu bakar, kakek harus menderita umpatan bertubi-tubi. Kayu bakar yang diambil 10 tahun silam saja masih tersimpan di rumahnya, tetapi jangan harap ingin meminta, satu pun tidak akan dikasi.

Tak terbayangkan, sebagai anak sulung paman tega berbuat demikian, selain tidak berada di keliling kakek saat ia meninggal, ia masih berani menyiram air ke api tungku yang digunakan untuk menanak nasi.

Perilaku kurang ajar ini selain sulit dipahami ayah, adik-adik ayah, tetangga pun tidak bisa mentolerir. Tetapi paman (saudara tua ayah) memang dasar keledai keras kepala, saran siapa pun ia tidak mau dengar.

Akhirnya, putri paman (saudara tua ayah) merasa malu lalu sendirian menyalakan api dan menanak nasi yang akan diperuntukkan makan para tetangga yang datang membantu.

Tahun kedua setelah kematian kakek, yakni 2010 saat pulang dari sawah, paman yang kualat ini jatuh ke dalam selokan sebelum mencapai rumah dan menyebabkan pinggangnya terluka.

Pekerjaan sawah sudah tidak mungkin dikerjakan lagi, ia hanya bisa berbaring dalam rumah.

Beberapa hari kemudian, ia kembali terpelanting di dalam kamarnya akibat lantai rumah sedang  dipasang ubin baru, sehingga masih licin.

Setelah itu, luka semakin parah, berdiri saja sudah tak mampu. Ia hanya bisa berbaringan di ranjang sepanjang hari.

Setelah 2 tahun berbaring tanpa daya, paman meninggal dunia pada 2012.

Ia meninggal tepat 3 tahun setelah kakek. Semua orang di desa saya mengatakan bahwa paman meninggal itu pasti karena dijemput kakek saya untuk menyelesaikan urusan karma.

Kata-kata itu pernah diucapkan kakek semasa ia masih hidup.  Apalagi kakek sedikit banyak juga menguasai ilmu fengsui, dan ia selalu mengiringi bhiksu ajaran Tao saat  dipanggil untuk menyembahyangi tetangga yang meninggal. Sebagai penabuh gong tangan kakek tidak ingin absen dalam membantu keluarga yang sedang berduka.

Terlepas dari benar tidaknya rumor kakek yang membawa pergi paman, tetapi itu sudah menjadi buah bibir orang-orang di desa saya. Semoga saja semua orang bisa mengambil hikmah dari contoh tersebut untuk mendidik anak-anak supaya tidak berbuat kurang ajar terhadap orangtua mereka.

Berbakti dan menghormati orangtua adalah bagian dari kebenaran, tak peduli baik atau buruk sikap orangtua terhadap anak, Ini adalah perintah alam.

Perbuatan manusia yang baik maupun yang buruk pasti akan terbalas, persoalannya hanya berada di waktu. (Sinatra/rmat)