Dewi Welas Asih: Bodhisattva Guan Yin

121
guan yin

Terbalut gaun putih, berdiri di atas bunga teratai, dengan tangan kanan memenga sebatang cabang pohon willow dan sebuah vas air murni di tangan yang lain, Bodhisattva Guan Yin adalah dewi rahmat dan kasih sayang.

“Dia mengamati semua suara penderitaan di dunia” -itulah arti nama Guan Yin. Bodhisattva mengacu pada peringkat pencapaian spiritual yang berada di atas Arhat dan di bawah Buddha.

Legenda tentang Guan Yin pertama kali muncul di Kerajaan Tengah lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Popularitasnya meledak sekitar zaman Dinasti Song (960-1279), dan dia terus dipuji dan dipuja sebagai “Dewi Rahmat ” hingga saat ini.

Salah satu cerita asal-usul:

Legenda Miao Shan

Dahulu kala di mana wilayah Tiongkok masih kecil, raja memiliki tiga putri. Raja mengejar keuntungan duniawi. Raja ingin menikahkan ketiga putrinya dengan keluarga yang sepadan. Namun putri bungsu, bernama Miao Shan, memiliki keinginan yang berbeda. Miao Shan ingin menjadi seorang biarawati Budha dan menyempurnakan dirinya melalui pengembangan spiritual sehingga ia membawa keselamatan bagi dunia. Karena murka, raja tidak mengakui putri bungsunya dan mengirimnya ke pengasingan.

Tahun demi tahun berlalu, dan raja jatuh sakit parah. Seorang biksu tua mengunjungi kerajaan dan mengatakan kepada beliau, “Supaya sembuh, maka Yang Mulia harus menelan ramuan suling dari kedua lengan dan kedua mata orang yang rela memberikannya.” Dengan putus asa, raja memohon kedua putrinya, siapa yang bersedia membantu. Biksu tersebut menawarkan, “Di atas Gunung Wangi hidup seorang bodhisattva belas kasih. Kirim utusan kepadanya untuk memohon bantuan.”

Biksu tersebut tak lain adalah Miao Shan. Setelah bertahun-tahun menjalani spiritual yang sulit, ia menjadi seorang bodhisattva. Setelah mendengar kesulitan ayahnya, ia berubah menjadi biksu tua untuk menasihati raja. Kemudian di kuil, ia menerima utusan ayahnya dalam jelmaan yang sebenarnya dan mengatakan kepada utusan tersebut, “Penyakit ini adalah hukuman atas dosa-dosa masa lalu. Namun karena saya adalah putrinya, maka saya harus berbakti kepadanya.” Ia kemudian mengorek kedua mata dan memotong kedua lengannya dan menyerahkan kepada utusan raja untuk dibawa kepada raja.

Biksu tua muncul kembali di kerajaan dan meracik obat mujarab nan ajaib yang memulihkan raja secara menakjubkan. Raja sangat berterima kasih kepada biksu tua tersebut, yang hanya menjawab: “Mengucapkan terima kasih yang terbaik kepada orang yang sudah berkorban untuk Yang Mulia.”

Maka pergilah sang raja ke Gunung Wangi. Di sana, ia terkejut melihat putri bungsunya tanpa kedua lengan dan tanpa kedua mata memimpin ratusan pengikut! Air mata raja jatuh berderai saat ia menyadari bahwa putri bungsunya harus menanggung derita. Namun, Miao Shan menerima raja dengan murah hati, dan menyuruh raja untuk hidup dengan belas kasih dan berlatih Buddhisme. Kemudian, kilatan cahaya mengubah Miao Shan menjadi bodhisattva dengan kedua mata dan kedua lengan yang sudah pulih.

Dalam beberapa versi legenda ini, Guan Yin diwujudkan dengan seribu mata dan seribu lengan—karena dapat dengan lebih baik menjangkau semua orang yang menderita di dunia.

Menyelamatkan desa

Cerita Guan Yin yang populer adalah dirinya berubah menjadi karakter yang sederhana untuk membantu orang yang mengalami masalah. Di beberapa daerah, Guan Yin digambarkan membawa sebuah keranjang anyaman, dan dihormati sebagai santo pelindung para pelaut dan nelayan.

Salah satu legenda tersebut berlangsung di sebuah desa tepi sungai yang diganggu oleh sekelompok pengganggu terkenal sadis. Setelah melihat penderitaan rakyat, Guan Yin berubah menjadi wanita nelayan yang muda nan cantik supaya desa tersebut banyak dikunjungi orang. Pemimpin kelompok penjahat jatuh cinta pada pandangan pertama dan ingin menikahinya. Tetapi Guan Yin mengajukan syarat untuknya yaitu pertama-tama pemimpin kelompok penjahat tersebut harus menghafal kitab Buddha, menjauhkan diri dari makan daging, dan melakukan perbuatan baik. Akibatnya, pemimpin kelompok penjahat tersebut menuruti kemauan Guan Yin, demikian pula seluruh anak buahnya. Setelah itu, desa tersebut menjadi tempat tinggal yang menyenangkan di mana orang mengenalnya sebagai tempat kasih sayang.

Menyelamatkan biksu dan monyet

Guan Yin adalah tokoh terkemuka dalam Perjalanan ke Barat. Salah satu dari empat sastra klasik Tiongkok, menceritakan kisah ziarah biksu Tang dengan tiga muridnya pada zaman Dinasti Tang, yang ditulis oleh Wu Cheng’en pada abad ke-16, menjadi novel petualangan yang sangat disukai karena menggabungkan aksi, humor, dan pelajaran spiritual. Shen Yun telah menyajikan adaptasi dari berbagai cerita ini.

Kisah dimulai di mana Guan Yin menginstruksikan kaisar untuk mengambil kitab-kitab Buddha. Guan Yin kemudian mendaftarkan Raja Monyet, Pigsy, dan Sandy sebagai murid Biksu Tang. Apakah maksud Guan Yin? Supaya mereka menebus kesalahan karena menyebabkan masalah di langit, supaya mereka melindungi Biksu Tang dari bahaya, dan yang terpenting memajukan jalan spiritual mereka.

Sepanjang jalan, tiga murid mengusir kejahatan dan melindungi Biksu Tang. Namun, kadang Raja Monyet yang cerdas mengalami kerugian. Tetapi baru saja ia akan mulai merobek bulunya karena frustrasi, Guan Yin datang membawa solusi! Maka tidaklah heran bila Guan Yin menjadi begitu populer!

Dewi Rahmat ini membantu memecahkan masalah. Namun harus diingat: Dewi Guan Yin hanya membantu orang yang menjalani kehidupan dengan kebaikan, kejujuran, dan rahmat.(Shen Yun/Vivi/Yant)