Resensi Film Jerman, “Zwei Leben”

82
Film Jerman berjudul “Zwei Leben” (Inggris : Two Lives, Red.) mengandung banyak hikmah terhadap Tiongkok modern saat ini. Foto adalah poster film “Zwei Leben”. (Hollywood Reporter)

Oleh: Frank Tian, Xie – Professor in Business University of South Carolina Aiken

Setiap tahun di musim semi, kampus selalu menggelar festival film internasional, dan pada setiap kali festival film selalu ada setidaknya satu film Prancis, satu film Jerman, dan satu film Spanyol, sedangkan film berbahasa lain lebih sedikit.

Terkadang ada keinginan untuk merekomendasikan sejumlah film berbahasa Mandarin pada pihak panitia, tapi tidak pernah bisa menemukan film yang tepat. Film-film yang berasal dari RRT terlalu kental akan budaya partai, kalau bukan penuh dengan mengumbar kekuasaan dan kekerasan, pasti sarat akan perbuatan paling kelam, sehingga kurang pantas untuk ditayangkan. Apalagi, semua film-film asing harus dilengkapi dengan teks Bahasa Inggris, agar para mahasiswa maupun dosen bisa memahaminya.

Setelah menyaksikan banyak film-film Eropa akan mendapatkan perasaan yang sangat jelas, bahwa meskipun film Eropa juga merupakan peradaban dan kebudayaan Barat, namun sangat berbeda dengan film Hollywood Amerika.

Menurut ketua festival film Profesor Ashton dan dekan Fakultas Bahasa dan Sastra Profesor Stenger, film Eropa umumnya lebih kalem dan tertutup, tidak seperti film Hollywood yang begitu spontan dan berirama cepat.

Saat menyaksikan film Amerika berbagai perasaan campur aduk, tidak mudah menemukan alur ceritanya, biasanya di akhir film baru memahami ceritanya, lalu setiap penggalan dan adegan, tokoh, serpihan skenario disatukan, pada akhirnya baru memahami maksud dan tujuan sang sutradara dan penulis skenario. Film Eropa juga kerap meninggalkan ingatan yang kuat cukup lama, bisa merasakan mendalamnya makna ceritanya.

Minggu lalu penulis menyaksikan sebuah film Jerman yang dibuat tahun 2012 berjudul “Zwei Leben” (Inggris: Two Lives). Film ini ditulis dan disutradarai oleh Georg Maas. Pada 2013, film versi Bahasa Jerman ini ikut bersaing di festival film Oscar ke-86 dalam kategori “Film Bahasa Asing Terbaik”, berhasil masuk nominasi tapi tidak meraih penghargaan.

Judul film dalam Bahasa Jerman adalah “Zwei Leben”, dalam Bahasa Inggris judul ini diterjemahkan menjadi “Two Lives”, juga bisa diartikan dua kehidupan, atau dua orang.

Karena kisah film ini selain menceritakan kisah tentang dua kehidupan, juga bisa dikatakan dua sisi cerita dari satu orang.

Ini adalah sebuah kisah yang melibatkan seorang wanita yang menjadi agen rahasia ganda, jadi pada film “Zwei Leben” juga mungkin mengandung makna dua sisi seseorang yakni kebaikan dan kejahatan.

Menariknya adalah film ini menggunakan latar belakang sejarah seperti robohnya Tembok Berlin, sejarah Jerman, hancurnya paham komunis Eropa dan lain-lain, bagi Tiongkok modern saat ini, film ini juga memiliki banyak hikmah dari kedua sisi.

Cerita di dalam film ini tidak begitu rumit, namun berliku-liku. Seorang kapten kapal selam AL asal Oslo, Norwegia, menikahi seorang wanita berdarah campuran Norwegia – Jerman yang bernama Katrine, karena ibu Katrine yakni Nyonya Åse Evensen adalah orang Norwegia sedangkan ayahnya adalah orang Jerman.

Sang kapten dan Katrine memiliki seorang putri, yang merupakan mahasiswi Fakultas Hukum di Oslo, dan akan segera lulus, dia baru saja putus dengan pacarnya dan telah melahirkan seorang bayi laki-laki.

Mereka sekeluarga tinggal di sebuah vila di pesisir Pantai Utara, Nyonya Åse Evensen kerap datang tinggal bersama dengan mereka untuk membantu merawat sang cucu. Waktu itu, November 1989, saat keruntuhan Tembok Berlin dan paham komunis Eropa mulai binasa.

Latar belakang Katrine cukup berliku-liku. Lahirnya dia ke dunia seharusnya adalah bagian dari upaya NAZI Jerman untuk memurnikan keturunan bangsa Aria. Sejumlah kaum rasis waktu itu mempropagandakan bahwa bangsa Aria adalah bangsa yang paling unggul, ini juga yang menjadi akar musibah dari munculnya policy genosida NAZI pada era tahun 30-an hingga 40-an abad lalu.

Hitler mendorong wanita Jerman agar melahirkan anak berambut pirang dan bermata biru agar menjadi sumber prajurit yang akan dijadikan alat perang.

Banyak serdadu Jerman yang dikirim ke Norwegia untuk beranak pinak dengan wanita Norwegia. Anak-anak yang terlahir itu kemudian dikirim ke Jerman lagi, dipisahkan dari orang tua mereka dan dibesarkan oleh NAZI.

Setelah NAZI dimusnahkan, anak-anak keturunan campuran Jerman-Norwegia tersebut menjadi tidak memiliki makna awalnya lagi, kebanyakan dari mereka dibawa ke panti asuhan, tumbuh besar di panti asuhan, dan Katrine adalah salah satunya.

Tapi dia berbeda dengan orang lain, di suatu malam yang gelap dan angin bertiup kencang, dia melarikan diri dari pengawasan polisi Jerman Timur, seorang diri menaiki perahu berlayar menyeberangi selat dan tiba kembali di Norwegia, dan bisa berkumpul kembali dengan ibunda Nyonya Åse Evensen.

Namun satu hal yang tidak diketahui Nyonya Åse Evensen adalah, putri yang berkumpul kembali dengannya ini bukan putri kandungnya Katrine, melainkan seorang anggota agen rahasia Partai Komunis Jerman Timur atau STASI, nama aslinya adalah Vera.

Bersama dengan dua orang anggota STASI lainnya, Vera telah membunuh Katrine dan berhasil menyaru sebagai Katrine lalu berkeluarga dengan kapten kapal selam dan berdiam di Oslo. Meskipun sangat mencintai sang suami namun dia terpaksa harus menjalani kehidupan sebagai agen rahasia, dan hidup dengan identitas ganda.

Namun setelah Tembok Berlin roboh, dan paham komunis Eropa hancur, masyarakat mengira mimpi buruk telah berakhir, dan bisa mendapatkan kehidupan bahagia?

Ternyata bagi banyak keluarga, mimpi buruk itu baru saja dimulai. Seorang pengacara muda mendapati peristiwa di panti asuhan Jerman, dimana pemerintah Norwegia juga terlibat di dalamnya, jadi kantor pengacaranya berhasil menemukan banyak anak yatim piatu seperti ini, dan mempersiapkan tuntutan kepada negara untuk menuntut ganti rugi.

Oleh karena itu ia pun menemukan Katrine (Vera), tapi Vera menggunakan berbagai cara untuk menutupi fakta, namun akhirnya kertas tak mampu membalut api, statusnya sebagai agen rahasia terbongkar. Dan ini membuat Nyonya Åse Evensen, kapten kapal selam, dan sang putri yang kuliah di Fakultas Hukum terancam bahaya.

Menurut Profesor Stenger, salah satu letak perbedaan film Jerman dengan film Amerika adalah film Jerman lebih mengutamakan penggalian sejarah dan introspeksi terhadap sejarah, serta mengungkap hikmah dan pelajaran sejarah pada penonton.

Runtuhnya Uni Soviet, Eropa kembali menjadi demokratis, semua orang mengira segala sesuatu akan lebih baik, tapi ketika banyak rahasia terungkap, mimpi buruk baru saja dimulai. Atasan Vera yakni pemimpin STASI memerintahnya untuk membohongi suami tercinta dan lari ke Kuba untuk menghindari kondisi yang memanas.

Tapi setelah Vera diantarkan hingga ke pintu keberangkatan pesawat yang menuju ke Kuba, kekejaman dan kelicikan agen rahasia komunis muncul sepenuhnya. Satu detik sebelum naik ke pesawat Vera memutuskan untuk pulang ke rumahnya mengucapkan selamat tinggal, dan kemudian menyerahkan diri kepada kepolisian Norwegia.

Tapi ternyata pemimpin STASI diam-diam menguntitnya, dan melakukan sabotase terhadap mobilnya. Dalam perjalanan untuk menyerahkan diri, rem mobil Vera blong, dan Vera tewas terbakar dalam kecelakaan tersebut.

Ketika Vera dan agen STASI membunuh putri Nyonya Åse Evensen yang sesungguhnya, mayat Katrine dibakar untuk melenyapkan bukti. Dan akhirnya, orang yang telah membakar orang lain, juga menjadi korban yang dibakar.

Ajaran Buddha mengatakan setiap kebaikan dan kejahatan pasti ada ganjarannya, hukum karma (sebab-akibat) pun terlihat jelas di negeri Barat. Hikmah bagi Tiongkok dari film ini adalah, menjelang hancurnya Partai Komunis Tiongkok/PKT, berapa banyak tragedi seperti ini yang akan muncul ke permukaan?

Berapa banyak pula arwah penasaran di balik kasus rekayasa PKT di Tiananmen dan perampasan organ tubuh para praktisi kultivasi? Bagaimana pula nasib ribuan bahkan lebih agen rahasia PKT yang tersebar di luar negeri?

Propaganda dan penyesatan oleh PKT terhadap rakyat Tiongkok, mungkin membutuhkan waktu yang sangat sangat panjang untuk bisa diampuni dan disembuhkan. (sud/whs/rmat)