Zhang Pan Memegang Teguh Kehormatannya Laksana Sebatang Bambu

107
Zhang Pan
Ilustrasi. (Fotolia)

Orang Tiongkok di zaman kuno menempatkan jauh lebih penting pada masalah reputasi dan moralitas mereka. Ada sebuah pepatah Tiongkok yang terkenal, “seorang pria menjunjung tinggi kehormatan laksana setegak bambu”, dan jangan pernah menekuknya bahkan dalam menghadapi kematian sekalipun.

Selama Dinasti Han Timur (25 M – 220 M), Zhang Pan, Gubernur Jiaozhi (wilayah bagian utara Vietnam saat ini), dijebak oleh Gubernur Du Shang dari Jingzhou (sebagian besar wilayah Tiongkok selatan pada saat ini) dan dipenjarakan.

Sebelum Zhang selesai melakukan permohonan banding melawan dakwaan hukumannya, Kaisar pada masa itu memberikan amnesti kepada rakyat dan melepaskan semua tahanan. Para tahanan semuanya satu demi satu meninggalkan penjara kecuali Zhang Pan, yang masih memegang rantai tahanannya, dengan tidak berniat sedikitpun meninggalkan penjara. Sang sipir penjara memanggilnya: “Yang Mulia Tuan Zhang, amnesti sudah diberlakukan untuk Anda. Silakan tinggalkan penjara.” Sedikit pun Zhang Pan tidak bergeming.

Akhirnya sang Hakim datang mengunjunginya untuk membujuknya membuka belenggu rantai, tapi Zhang tetap menolak. Lantas sang Hakim bertanya: “Kasih karunia Kaisar begitu besar, setiap orang seharusnya mendapatkan keuntungan darinya. Mengapa Anda menolak?”

Zhang kemudian menjelaskan: “Di masa lalu, pencuri dari Jingzhou telah menyebabkan malapetaka, dan kaki tangan mereka tersebar hingga di wilayah Jiaozhi. Saya mengambil risiko dan mengambil alih untuk menumpas mereka; membunuh pemimpin mereka dan mereka semua kocar-kacir kembali ke Jingzhou. Du Shang merasa takut saya akan melaporkan kasus ini dan ia akan dijebloskan penjara, sehingga ia menjebak dan mengirimkan saya ke pengadilan.

Saya telah dirugikan oleh perbuatan Du Shang dan dipenjarakan. Ada kebenaran yang harus diklarifikasi, keadilan yang harus dibuat. Saya tidak melakukan kesalahan, sehingga saya tidak akan mengampuninya. Jika saya menerima ini, saya akan menanggung penghinaan ini untuk seumur hidup, sebagai seorang gubernur yang buruk semasa hidup, dan menjadi roh jahat setelah kematian. Saya meminta Du Shang dipanggil di sini untuk menghadapi fakta dan meluruskan, mengklarifikasi fakta. Jika Du Shang tidak dipanggil, saya lebih suka dikubur di sini, tanpa meninggalkan penjara, sampai nama saya dibersihkan.”

Hakim melaporkan kasus ini kepada Kaisar. Kemudian Kaisar memutuskan bahwa Du Shang harus hadir di pengadilan. Du Shang tidak bisa memberikan penjelasan dan mengakui kesalahannya, tapi pada akhirnya Du Shang diampuni karena jasa-jasanya dimasa lalu.

Dan Zhang Pan yang bersiteguh bahwa ia tidak akan berkompromi, akhirnya keluar dari penjara dengan kepala tegak. (Epochtimes/Ajg/Yant)