Konflik Korut-Korsel Memuncak, RRT-AS Tingkatkan Anggaran Militer

109
Bagi Beijing, rudal dan nuklir Korut bukan ancaman, justru sistem anti rudal THAAD Korsel adalah ancaman. Sebab akibat yang terdistorsi, benar dan salah diputar-balikkan. Konspirasi mencurigakan antara Beijing dengan Pyongyang. (internet)

Oleh: Chen Pokong

Bagi Beijing, rudal dan nuklir Korut bukan ancaman, justru sistem anti rudal THAAD Korsel adalah ancaman. Sebab akibat yang terdistorsi, benar dan salah diputar-balikkan. Konspirasi mencurigakan antara Beijing dengan Pyongyang. (internet)

Pada 6 Maret 2017, Korut kembali menembakkan rudal, kali ini  4 buah rudal sekaligus, dengan jarak tembak 1.000 km dan ketinggian 260 km. Tiga di antaranya jatuh di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Jepang.

Di hari yang sama, Amerika Serikat langsung menempatkan sistem anti rudal THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) di Korsel. Walau penempatan THAAD itu mendapat kecaman dari pihak Partai Komunis Tiongkok/ PKT, yang sedang memprovokasi warga Tiongkok untuk secara besar-besaran memusuhi Korsel, memboikot produk-produk Korsel dan menyerang Lotte Group Korsel.

Bagi Beijing, rudal dan nuklir Korut bukan ancaman, justru sistem anti rudal THAAD Korsel adalah ancaman. Sebab akibat yang terdistorsi, benar dan salah diputar-balikkan. Konspirasi mencurigakan antara Beijing dengan Pyongyang. (internet)

Perlu diketahui, Lotte Group menyediakan lahan bagi pemerintah Korsel untuk penempatan THAAD tersebut.

Korut kembali menembakkan rudal, Korsel segera membangun THAAD, hubungan sebab-akibatnya sangat jelas, secara tepat telah memaparkan trend perkembangan Semenanjung Korea selama beberapa tahun ini.

Korut terus menembakkan uji coba rudal dan nuklir yang bersifat agresif offensive. Korsel membangun THAAD yang bersifat bertahan dan defensive.  Korut memprovokasi terlebih dahulu, Korsel bertahan kemudian. Korut cari gara-gara adalah faktor penyebabnya, Korsel membela diri adalah akibatnya.

Bagi Beijing, rudal dan nuklir Korut bukan ancaman, justru sistem anti rudal THAAD Korsel adalah ancaman. Sebab akibat yang terdistorsi, benar dan salah diputar-balikkan. Konspirasi mencurigakan antara Beijing dengan Pyongyang. (internet)

Akan tetapi, pihak Beijing membiarkan saja sikap provokasi Korut, namun mengecam keras tindakan beladiri Korsel. Sepertinya, bagi RRT, rudal dan nuklir Korut itu bukan merupakan ancaman, sementara sistem anti rudal THAAD Korsel justru adalah ancaman.

Sebab akibat yang terdistorsi, benar dan salah diputar-balikkan. Ini justru mengungkap konspirasi mencurigakan antara Beijing dengan Pyongyang.

Kali ini, pangkalan tempat Korut meluncurkan rudalnya terletak di perbatasan RRT-Korut, berjarak kurang dari 50 km dari kota Dandong, Tiongkok, masyarakat pun bertanya-tanya, apakah benar Korut yang membuat sendiri dan menembakkan rudal berjarak tembak 1.000  km itu?

Ataukah RRT yang justru diam-diam telah membantu Korut, atau bahkan menembakkan rudal tersebut bagi Korut?

Bulan lalu, Korut baru saja menembakkan rudal jarak menengah jenis terbaru, dengan jarak tembak 500 km, belum lagi sebulan, jarak tembak rudal sudah mencapai 1.000 km, sungguh perkembangan yang “luar biasa”!

Mempertimbangkan faktor bantuan diam-diam Beijing mendukung Korut mengembangkan persenjataan nuklir (akhir tahun lalu terungkap skandal bahwa suatu perusahaan BUMN RRT yakni Hongxiang Company dalam jangka waktu panjang telah membantu proyek nuklir Korut, ini baru salah satu transaksi kotor yang terungkap), bantuan PKT secara diam-diam, bahkan menembakkan rudal tersebut bagi Korut bukan hal mustahil, mutlak bukan tidak masuk akal.

Hanya saja, aksi bodoh Korut ini pun langsung memberi lampu hijau bagi Korsel, seolah terjadi “kekompakan” antara Korut dengan Korsel. Sedangkan kalkulasi Beijing yang mengira terus mendukung Korut akan bisa menakuti dan menggoyahkan Korsel dalam membangun THAAD, ternyata malah kontraproduktif.

Alasannya tidak hanya pihak Korsel telah hilang kesabarannya, terlebih lagi juga karena AS sudah bukan lagi pemerintahan Obama yang bisa menahan sabar dan rela diam demi ketenangan, Amerika sudah memasuki era Trump, ini adalah era memperlihatkan tekad dan keteguhan.

Akhir Februari lalu, Trump memutuskan untuk menambah anggaran belanja milite. Pada anggaran belanja 2017, anggaran militer menjadi USD 54 milyar (722 triliun rupiah) atau naik 10%, ini adalah kenaikan anggaran militer tertinggi AS sejak 2008.

Selama masa kampanye, Trump telah bersumpah, akan meningkatkan kekuatan militer AS, terutama kekuatan angkatan laut. Trump menyatakan akan menambah armada kapal perang AS dari 274 unit menjadi 350 unit. Setelah menjabat, Trump menepati kata-katanya, bahkan berbuat lebih banyak.

Menghadapi sikap Beijing yang terus menggeliat di Laut Tiongkok Selatan, para jenderal pasukan AS pernah menyalahkan Obama, pasukan AS memiliki kemampuan untuk bertindak, namun panglima tertinggi AS (Presiden Obama) tidak memiliki tekad untuk bertindak. Sekarang masa pemerintah Presiden Trump, sudah waktunya memperlihatkan tekad untuk bertindak.

Awal Maret, Beijing menggelar “Lianghui (Dua Kongres PKT yang diadakan bersamaan: Kongres Rakyat Nasional dan Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok)”, pada kedua rapat diumumkan, pada 2017 Beijing akan menambah anggaran belanja militer sebesar 7%, untuk kali pertama anggaran belanja militer PKT menembus angka satu trilyun RMB (1.934 triliun rupiah), atau sekitar 1,3% dari total PDB.

Sebelum Lianghui, media massa penyambung lidah PKT surat kabar “Global Post” menerbitkan artikel berjudul “Semoga Saja Anggaran Militer Kembali Naik Dua Digit”. Tapi kemudian mempublikasi lagi opini dengan judul “Anggaran Militer Hanya Naik 7% Tunjukkan Ketenangan RRT”.

Ini seperti menampar wajah sendiri, menjilat ludah kembali. Surat kabar “Global Post” dua tahun lalu juga pernah merilis artikel serupa tapi tidak berujung. Ini merefleksikan perpecahan di kalangan petinggi PKT, surat kabar “Global Post” selama ini mendukung kubu lawan-lawan Xi Jinping.

Tentunya data yang dipublikasikan PKT tidak bisa diandalkan, angka yang sebenarnya dari anggaran belanja dan stabilitas keamanan, biasanya selalu lebih besar daripada yang diumumkan. Anggaran Trump harus mendapat ijin dari Dewan Kongres. Sedangkan anggaran Beijing, hanya sekedar formalitas pada “Lianghui”.

Sejak peristiwa pembantaian Tiananmen 1989, selama dua puluh tahun berturut-turut Beijing terus menaikkan anggaran militer, dan umumnya selalu mencapai dua digit, inilah yang memicu pihak AS untuk menaikkan anggaran militernya.

Pemerintahan Trump sedang berunding dengan Uni Eropa dan sekutu Asianya, meminta negara sekutunya agar ikut menanggung biaya untuk kerjasama militer mereka, agar bisa mengurangi beban pengeluaran AS, dan hal ini sudah mulai berdampak.

Anggaran AS naik di satu sisi turun di sisi lain, adalah agar bisa mengarahkan ujung tombak pada Beijing, mengarah pada kekuatan sesat yang menindas rakyat dan mengancam negara lain, serta dalang di balik ancaman nuklir Korut. Strategi Trump menunjukkan tekadnya, dan ini sangat cerdik.

2 Maret 2017, dengan didampingi oleh Menhankam Matisse, Trump menaiki kapal induk bertenaga nuklir USS Gerald R. Ford. Pada saat itu Trump menyatakan, akan menambah kapal induk AS dari 10 unit menjadi 12 unit untuk menegakkan supremasi AS.

Di depan lebih dari tiga ribu perwira dan prajurit AS Trump mengatakan, “Kita bisa mencegah perang, tapi jika kita harus berperang, maka hanya satu hal yang harus kita lakukan, yakni memenangkan perang, meraih kemenangan.”

Trump memperingatkan musuh yang laten, “Kalian jangan memusuhi Amerika, jika tidak kalian tidak akan mampu menanggung akibatnya. Semoga kita tidak perlu menggunakan kekuatan militer. Tapi ketika kita terpaksa harus menggunakan kekuatan militer, maka mereka akan mendapat masalah besar.”

Dalam hal ini yang dimaksud dengan “kalian” dan “kita” adalah (komunis) RRT. Beberapa media massa RRT telah mengakui sendiri hal ini. Multi Dimensional Network RRT memberi judul “Trump Peringatkan Beijing: Tunggu Sampai Kugebrak, Tamatlah Kalian”. (sud/whs/rmat)