Kegagalan Besar Diplomatik RRT

47
Akibat provokasi oleh media ofisial PKT dan Liga Pemuda Komunis, aksi anti-Korea Selatan di Tiongkok semakin meningkat, Lotte Group pun menjadi sasaran, baru-baru ini di berbagai supermarket Lotte terjadi unjuk rasa "boikot produk Korea". (Epoch Times)

Oleh: Zang Shan

Selama dua tiga tahun terakhir, aksi tidak membeli produk asing di kalangan warga Tiongkok terus bergejolak. Pada  2012 adalah aksi boikot produk Jepang, lalu boikot produk Prancis, disusul produk dari Filipina, kemudian boikot terhadap McDonald dan KFC, sekarang giliran Korea Selatan.

Masih ingat sepertinya sepuluh tahun lalu, pemerintah RRT kerap berbicara soal “prinsip” pemisahan politik dan ekonomi, dan menuntut agar negara lain tidak mencampuradukkan kedua hal ini, tapi sekarang negara terbesar kedua itu justru serta merta berubah total.

Group Lotte Korea Selatan terutama menjadi sasaran dalam gerakan ini. Menurut informasi Lotte telah berinvestasi sebesar USD 8,5 milyar (11,4 triliun rupiah) di RRT, yang terutama dalam bentuk supermarket dan produk consumer goods, begitu terkena imbas politik, langsung terancam hancur.

Sanksi ekonomi pada dasarnya adalah permainan politik yang diciptakan dalam sejarah Tiongkok, tapi kini dimainkan di pentas politik internasional, dan merupakan pisau bermata dua.

Akibat diboikot, supermarket Lotte di RRT kosong melompong. (getty images)

Seorang teman Korea Selatan berkata pada saya, yang sekarang terasa di kalangan masyarakat WN Korsel bukan ketakutan terhadap RRT melainkan kemarahan.Sepertinya hubungan RRT dengan Korsel mengalami kemunduran bertahun-tahun sejak peristiwa ini.

Di dalam sejarah Tiongkok sering memberlakukan hukuman menyegel komoditi terhadap suku bangsa di utara, dan kerap memicu bencana besar di perbatasan, serta terjadi peperangan besar-kecil.

Sejak zaman Dinasti Ming, penyusup dari Jepang maupun kekacauan kerajaan Jin, semuanya terkait dengan perdagangan di perbatasan, sedangkan Perang Candu lantaran Raja Dinasti Qing mengumumkan dihentikannya perdagangan dengan Inggris juga salah satu penyebab utama.

Lotte sendiri di Korsel bukan “perusahaan patriot” di negaranya, karena anggota keluarga besar Lotte kebanyakan adalah warga Negara Jepang, apalagi biasanya mereka tidak berpihak pada kebijakan pemerintah Korsel.

Awalnya Lotte menolak berkompromi dengan pemerintah Korsel atas lahan yang akan digunakan untuk radar THAAD, akibatnya mereka diperiksa oleh kejaksaan, hingga akhirnya mereka pun mengalah, berada di negeri orang, mereka terpaksa tunduk.

Permainan pemerintah Beijing dengan rakyat dalam memperlakukan Lotte sebenarnya justru menunjukkan kondisi diplomatik Beijing yang tak berdaya.

Sebenarnya, sanksi seharusnya hanyalah suatu alat untuk menggertak, fungsinya seperti senjata nuklir, begitu benar-benar digunakan, sebenarnya sudah kehilangan makna terpentingnya yang sesungguhnya. Inilah yang dimaksud dengan “pedang yang tidak ditebaskan adalah yang paling menakutkan” dalam pentas politik dunia.

Korsel menempatkan sistem radar THAAD, hanyalah wujud kegagalan hubungan diplomatik RRT selama tujuh, delapan tahun terakhir.

Di wilayah barat laut Samudera Pasifik, adalah ajang perang empat kekuatan yakni Amerika Serikat, Jepang, RRT dan Rusia. Kerjasama AS-Jepang kian hari kian kuat seiring dengan bangkitnya RRT, dan jelas-jelas telah berada di atas angin.

Dalam strategi perang AS, Korut memainkan peran yang sangat penting, karena dengan adanya Korut, pasukan sekutu AS-Jepang-Korsel pun harus secara berkala latihan tempur berskala kecil maupun besar.

Semua orang tahu, sistem THAAD adalah sebuah tarian pedang yang dimainkan AS, tapi bisa membuat RRT dan Rusia marah tapi tak berdaya.

Banyak orang mengira Amerika sangat membenci Korut, oleh karena itu meningkatkan latihan perang dengan Korsel, atau berkomplot menciduk Korut untuk menyingkirkan masalah.

Tapi faktanya, Korut diam-diam berkomunikasi dengan AS sebenarnya sudah lama terjadi, ulah Korut hanyalah demi mendapat pengakuan, minimal mengajak pembicaraan bilateral. Amerika tidak mengindahkan, karena ingin mempertahankan hubungan militer dengan Korsel, dan mempertahankan eksistensi militer AS di Semenanjung Korea.

Sedangkan Korut sendiri memainkan peran pendorong dan perantara yang ideal bagi strategi perang AS di Asia Timur Laut, oleh karena itu menurut penulis, warga AS seharusnya banyak berdoa, memohon agar kebijakan Korut terus dipertahankan seperti sekarang.

Adu kekuatan di Asia Timur Laut atau wilayah barat laut Samudera Pasifik selama satu dekade lebih ini, RRT adalah negara pecundang besar.

Dari ring/lingkaran luar tidak bisa mengurai persekutuan AS-Jepang-Korsel, sedangkan dari ring dalam justru menjadi salah satu ancaman dari tidak stabilnya senjata nuklir Korut, Beijing hanya berjarak kurang 1000 km dari gudang senjata nuklir Korut.

Enam atau tujuh tahun lalu, penulis pernah menulis artikel yang membahas perubahan situasi diplomatik RRT, sekarang, situasi yang sama masih eksis.

Meskipun tidak bisa kembali ke jalan Deng Xiaoping yang “tidak menjadi ketua”, RRT juga seharusnya introspeksi ulang kebijakannya, bukannya menjadi semakin parah, memboikot dan menutup Lotte, unjuk rasa merusak mobil produk Korsel seperti Hyundai dlsb, bisa dikatakan sama sekali salah kaprah. (sud/whs/rmat)