Apakah Gurun Sahara Buatan Manusia?

58
gurun sahara

Penelitian baru yang tengah menyelidiki transisi Gurun Sahara dari yang awalnya subur dengan pemandangan hijaunya pada 10.000 tahun yang lalu hingga berubah menjadi kering di hari ini, menunjukkan bahwa manusia mungkin telah berperan aktif dalam proses penggurunannya.

Penggurunan Sahara telah lama menjadi target bagi para ilmuwan untuk mencoba memahami iklim dan titik kritis ekologi. Sebuah laporan yang baru dipublikasikan di Frontiers oleh arkeolog Dr. David Wright, dari Seoul National University, menantang kesimpulan dari kebanyakan studi yang mengarah pada perubahan orbit Bumi atau perubahan alam di vegetasi sebagai kekuatan pendorong utama terjadinya penggurunan.

“Di Asia Timur sudah lama meyakini teori tentang bagaimana populasi Neolitik mengubah lansekap begitu mendalam seiring dengan musim penghujan yang berhenti menembus pedalaman yang jauh,” jelas Wright, yang juga mencatat dalam makalahnya bahwa bukti perubahan ekologi dan iklim oleh manusia telah terdokumentasikan di Eropa, Amerika Utara dan Selandia Baru. Wright percaya bahwa skenario serupa juga bisa diterapkan pada Sahara.

Untuk menguji hipotesisnya, Wright mengulas bukti arkeologi yang mendokumentasikan masa-masa awal dari penggembalaan di wilayah Sahara, dan dibandingkan dengan catatan yang menunjukkan penyebaran vegetasi semak belukar, indikator yang lebih menunjukkan terjadinya pergeseran ekologi dibandingkan dengan kondisi gurun yang terjadi secara alami. Temuan tersebut mengonfirmasi: sejak sekitar 8.000 tahun yang lalu di daerah sekitar Sungai Nil, masyarakat pastoral mulai muncul dan menyebar ke arah barat, seiring dengan meningkatnya vegetasi semak belukar.

Tumbuhnya kecanduan pada pertanian memiliki efek yang merusak pada ekologi di kawasan itu, karena lebih banyak vegetasi yang telah dihapus semenjak pengenalan terhadap ternak, sehingga  meningkatkan albedo (jumlah sinar Matahari yang terserap langsung oleh permukaan Bumi) dari tanah, yang pada gilirannya memengaruhi kondisi atmosfer yang cukup untuk mengurangi curah hujan monsun. Monsun melemah disebabkan penggurunan lebih lanjut dan hilangnya vegetasi, meningkatkan aksi berbalik arah yang akhirnya tersebar di keseluruhan wilayah Sahara modern saat ini.

Memang masih ada banyak pekerjaan yang masih harus dilakukan untuk mengisi “celah-celah” kekosongan dalam penelitian ini, namun Wright meyakini bahwa kekayaan informasi justru tersembunyi di bawah permukaan gurun: “Ada banyak danau di Sahara saat ini, dan mereka akan memiliki catatan yang menyimpan perubahan vegetasi. Kita perlu menelusuri ke dalam bekas dasar danau untuk mendapatkan catatan tentang vegetasi itu, mengamati arkeologi, dan melihat apa yang telah manusia lakukan di sana pada waktu yang lalu. Hal ini sangat sulit untuk melakukan efek model vegetasi pada sistem iklim. ini adalah tugas kita sebagai arkeolog dan ekologi untuk pergi keluar dan mendapatkan data, guna membantu membuat model yang lebih canggih.”

Meskipun terjadi pada beberapa ribu tahun yang lalu, implikasi dari manusia bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan dan iklim yang kini dengan mudah dapat dilihat. Dengan sekitar 15% dari populasi dunia yang hidup di daerah gurun, Wright menekankan betapa pentingnya temuannya ini: “Implikasi dari bagaimana kita mengubah sistem ekologi memiliki dampak langsung pada apakah manusia akan dapat bertahan hidup tanpa batas di lingkungan yang gersang semacam itu.” (Science Daily/Osc/Yant)