Mengalakan Kecanduan Teknologi (1)

23
kecanduan
Seserang sedang bermain candy crush di ponsel mereka di stasiun kereta bawah tanah di New York. (Samira Bouaou / Epoch Times)

Ponsel pintar memberikan sumber tak terbatas untuk koneksi, informasi dan hiburan. Tetapi bukti semakin nyata menunjukkan sisi gelap keterikatan kita terhadap perangkat tersebut: kecanduan.

Dalam bukunya, The Power of Off: The Mindful Way to Stay Sane in a Virtual World, fisioterapis dan duta lintas agama, Nancy Colier menggambarkan pola kecanduan perangkat yang bersumber dari penelitian dan pengamatan perilaku klien, keluarga dan teman-teman.

“Kemana tujuan kita – kemana kita akan pergi dengan kecanduan ini – akan makin menyulitkan kita mendapatkan kebahagiaan pada saat ini,” tutur Nancy. “Kita berada dalam kondisi kronis yang men-dambakan mendapatkan hakekat diri.”

Kecanduan adalah kata-kata yang sering digunakan di masa kini. Tetapi ketika terlibat dengan penggunaan ponsel, penelitian menunjukkan perilaku yang hampir sama dengan penyalahgunaan obat-obatan psikoaktif.

Dalam proyek The World Unplugged (Dunia Tanpa Kabel) yang diselenggarakan oleh Universitas Maryland, peneliti menunjukkan bahwa mayoritas siswa yang berpartisipasi dari 10 negara merasa menderita ketika mereka mencoba untuk hidup tanpa ponsel selama 24 jam. Dilaporkan bahwa para siswa menjadi takut ketika menyadari betapa kuatnya kecanduan mereka.

Penelitian tahun 2011 pada generasi milenial yang berusia 16 – 22 tahun menunjukkan bahwa lebih dari setengah “generasi digital” ini lebih memilih kehilangan indra penciuman daripada kehilangan ponsel pintarnya.

Tahun 2013, penelitian di Pusat Medis Anak-anak Cohen di New York, memperkirakan lebih dari 3.000 kematian remaja dan 300.000 kecelakaan per tahun akibat SMS ketika mengemudi, menjadi penyebab tertinggi kematian di Amerika Serikat bagi pengemudi remaja.

Mungkin karena kita tidak dapat memakannya atau mengisapnya, atau karena banyaknya orang yang tergolong pengguna berat gawai, membuat kita buta terhadap kecanduan ini meski masalah ini di depan mata. Salah satu dari klien Nancy, seorang produser berita televisi berusia 20 tahunan, selalu membawa dua ponsel pintarnya ke sesi terapi. Dua ponsel itu selalu diletakkan di lengan kursinya, dan dia selalu mengecek setidaknya sekali setiap menit, berusaha tetap menjalin hubungan dengan kan-tornya.

Ini adalah contoh ekstrim, tetapi setiap orang yang memiliki ponsel pintar mengetahui hasrat ini. Jika kita tidak mengecek SMS atau email, kita akan melihat-lihat aplikasi hiburan menganggapnya seperti mengecek saraf. Salah satu penelitian menunjukkan bahwa pengguna ponsel pintar rata-rata mengklik, menekan atau menggeser tampilan layar gawainya sebanyak 2.600 kali per hari, dan untuk pengguna berat sebanyak 5.500 kali per hari.

Putus asa mencari selingan

Ada beberapa faktor yang memberikan kontribusi pada kecanduan teknologi. Contohnya, penelitian menunjukkan bahwa validasi yang kita dapatkan dari media sosial berperan sebagai pemicu dopamine dan oksitosin, hampir sama seperti yang dihasilkan obat-obatan.

Tetapi kecanduan perangkat kita lebih daripada sekedar respon kimia – hubungan kita, harga diri, dan perasaan bermakna, adalah seluruh penderitaan sebagai akibat¬nya, jelas Nancy.

“Ini seperti memasok ketakutan paling primitif untuk berhenti dan bersama dengan diri kita sendiri,” katanya.

Manusia selalu mencari selingan, tetapi jauh sebelum ditemukannya ponsel hanya sedikit kesempatan baginya. Kini, kita selalu membawa kesana kemari perangkat selingan ini, kita tidak pernah sendiri dengan pikiran kita.

Dengan cara ini, menggunakan perangkat secara obsesif adalah bertentangan dengan kesadaran atau mediasi, yang telah terbukti mampu memperbaiki perhatian dan fokus. Penelitian Microsoft tahun 2015 menunjukkan bahwa, semakin bertumbuhnya kebiasaan mengerjakan banyak tugas sekaligus dengan semakin banyaknya aplikasi membuat “sulit untuk menyaring stimulus yang tidak relevan”. Penelitian juga menunjukkan bahwa sejak tahun 2000 (sebelum teknologi mobile tumbuh pesat), rata-rata fokus turun dari 12 detik ke 8 detik.

“Kita menjadi begitu super maniak mencari jawaban diluar diri kita sendiri sehingga kita tidak berusaha mencari dimana jawaban sesungguhnya: Dalam diri kita sendiri,” papar Nancy.

Bagi mereka yang terlalu bergantung pada teknologi untuk harga diri, kebiasaan ini dapat merusak. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang menghabiskan waktunya di media sosial akan rendah harga dirinya, mengalami kesehatan mental dan kurang ketrampilan sosial.

Tidak seperti pertemanan yang asli, bertemu muka, teman digital yang diketahui anak-anak sekarang hanyalah sementara, papar Nancy.

“Ada anggapan yang salah bahwa semakin banyak “tanda suka” yang akan saya terima, saya akan semakin suka pada diri sendiri, tetapi ini hanyalah bertahan enam hingga tujuh detik,” jelasnya. “Kita kehilangan sentuhan pada apa yang sebenarnya dibutuhkan manusia. Kita mengambil nilai popularitas dan kemudahan dan menggunakannya dalam masalah yang lebih besar dalam hidup kita.”

Manusia mudah tertarik ke arah kenyamanan mudah dan pelarian yang ditawarkan oleh teknologi mobile. Tetapi menghabiskan semua waktu kita di dunia untuk kepuasan sekejap akan menyebabkan kita kehilangan yang lebih ber¬harga.

“Jika Anda ingin kekasih, Anda hanya tinggal menyentuh layar. Jika Anda ingin merasa memiliki makna, Anda tinggal mengganti foto Facebook dengan perasaan Anda saat itu. Semua yang Anda inginkan ada di sini, dan ini sangatlah mudah,” ujar Nancy. “Masalahnya, harga diri yang asli terbentuk dari waktu dan usaha. Ini sulit – yang kita tahu bekerja sepanjang waktu – yang menciptakan harga diri yang sebenarnya.” (Epochtimes/Vivi/Yant)

Bersambung