Mengalakan Kecanduan Teknologi (2)

19
kecanduan
Seserang sedang bermain candy crush di ponsel mereka di stasiun kereta bawah tanah di New York. (Samira Bouaou / Epoch Times)

Ponsel pintar memberikan sumber tak terbatas untuk koneksi, informasi dan hiburan. Tetapi bukti semakin nyata menunjukkan sisi gelap keterikatan kita terhadap perangkat tersebut: kecanduan.

Pengguna yang berhati-hati

Masyarakat Amerika umumnya menghabiskan 10 jam lebih sehari dengan media, termasuk radio, televisi, komputer dan ponsel pintar, menurut laporan Nielsen 2016.

Menurut survei tahun 2010, gawai telah memonopoli hidup kita, dan bagi sebagian, gawai bahkan merayap dalam tidur kita – 90 persen dari populasi berumur 18 hingga 29 tahun tidur dengan ponsel mereka, demikian juga 70 persen dari populasi berumur 30 hingga 49 tahun.

Kurangnya toleransi terhadap kebosanan dan ketakutan akan ketinggalan tren adalah penyebab yang diidentifikasi membuat kita tergantung pada gawai, tetapi lebih dari itu, ini merupakan desain manipulasi dari teknologi itu sendiri.

Menurut Tristan Harris, desain perangkat lunak Silicon Valley, yang menjadi pelopor etika digital, perangkat dan aplikasi kita dibuat secara berhati-hati untuk membuat kita terpaku pada layar.

Praktek yang dikenal sebagai desain perilaku, sangatlah penting bagi industri dimana banyaknya aplikasi yang berkompetisi di pasar. Pertimbangan yang menjadi keputusan condong pada desain yang memastikan penggunanya selalu mengklik dan menggeser layarnya.

Kelompok advokat Harris, Time Well Spent, mengajukan banding pada desain produk untuk mepciptakan perangkat lunak yang tidak mengeksploitasi kerawanan psikologis. Harris percaya produk dapat dibuat untuk mempermudah kita tidak tergantung pada layar dan fokus pada apa yang benar-benar diperlukan.

Tetapi hingga Silicon Valley melihat adanya nilai pada desain produk dengan integritas moral, tanggung jawab tetap terletak pada kita untuk memperhatikan kecanduan gawai.

Meski kurangnya tanggapan dari industri teknologi, resep Nancy perlu untuk diperhatikan.

“Ada beberapa perangkat hebat dan hadiah hebat dari teknologi, tetapi kita ingin mengambil kendali kembali sehingga kita yang memutuskan bagaimana menggunakan teknologi, daripada menjadi budak teknologi,” paparnya.

Pendekatan Nancy dimulai dari kewaspadaan. Ketika Anda merasa ada kebiasaan gatal ingin mengecek pesan, bermain game atau mencari tahu berita skandal selebriti terakhir, tanyalah pada diri Anda sendiri apa yang menyebabkan Anda begitu terganggu.

“Kita memadamkannya sehingga pikiran impulsif menjadi kesempatan untuk mengecek apa yang terjadi, daripada kesempatan menjadi hilang kesadaran,” jelas Nancy.

Ketika Anda sadar akan kondisi itu (bukannya mengambil ponsel Anda), tanyalah pada diri sendiri apa yang Anda sebenarnya inginkan, cobalah beberapa perilaku baru. Apakah Anda tidur lebih baik dengan mematikan gawai satu jam sebelum tidur? Apakah Anda menjadi lebih tenang jika berjalan 10 menit sehari tanpa perangkat teknologi? Apakah hubungan Anda lebih intim ketika Anda mematikan ponsel saat makan malam?

Dengan cara ini, tiap saat ketika Anda mengorbankan gawai menjadi kesempatan untuk memperbaiki kualitas hidup.

Membatasi waktu layar bagi anak-anak

Bagi mereka yang masih teringat kehidupan tanpa ponsel, kita setidaknya memiliki patokan kemana kita dapat kembali. Bagi generasi muda, hidup dengan layar gawai adalah yang mereka tahu. Dan sejak adanya teknologi mobile menjadi fitur yang mencokol dalam kebudayaan generasi muda, kebiasaan ini akan sangat sulit sekali dihilangkan.

“Sangatlah stres menyarankan anak gadis saya untuk melepaskan¬nya, dan semua pertikaian dalam keluarga di rumah adalah mengenai teknologi,” tutur Nancy. “Saya melihat sendiri bagaimana rasanya hidup dengan kecanduan. Saya melihat perubahan dalam kepribadian, perubahan suasana hati, dan keputusasaan.”

Para ahli menyarankan bahwa sebelum kebiasaan buruk ini terbentuk, orang tua harus membatasi waktu menggunakan layar bagi anak-anaknya – bahkan ketika mereka baru lahir. Menurut American Academy of Pediatrics, anak-anak berusia di bawah dua tahun harus menghindari layar apa pun, kecuali video chat dengan anggota keluarga yang jauh, sebagai contohnya. Anak-anak usia 2 hingga 5 tahun tidak seharusnya menghabiskan lebih dari 1 jam di depan layar, dan sangatlah kritis bahwa saat ini harus lebih banyak dihabiskan dengan program pendidikan berkualitas tinggi.

Menurut Dr. Jean Moorjani, dokter anak dari Rumah Sakit Anak-anak Arnold Palmer, tidak ada satu patokan yang cocok untuk menetapkan waktu layar bagi anak-anak. Akan tetapi, ini lebih pada kualitas media yang diijinkan oleh orang tuanya.

“Sangatlah berbeda jika seorang anak nonton film atau bermain video game dibandingkan jika anak itu menciptakan sesuatu, seperti kode atau sebuah proyek,” papar Dr. Jean. “Apa yang benar-benar kita inginkan adalah agar orang tua terlibat dan memberikan petunjuk bagi anak-anak mereka, menjadi pengawas akan apa yang mereka kerjakan di dunia maya.”

Di masa lalu, orang tua hanya perlu mengajar anak mereka agar pintar di dunia nyata, tetapi seka¬rang orang tua harus mengajarkan mengenai dunia maya juga. Untuk alasan ini, Dr. Jean tidak melarang remaja menggunakan jejaring sosial, tetapi dia berkata sangatlah krusial bagi mereka untuk mengerti apa yang mereka tampilkan akan tetap ada hingga selamanya.

“Apa yang menurut Anda termasuk pribadi, tidaklah selalu bersifat pribadi,” katanya. “Sangat sulit bagi anak remaja untuk mengerti konsekuensi hal ini dapat menjadi parah.”

Pertimbangan lain adalah memastikan gawai tidak mengorbankan kesehatan Anda di dunia nyata.

“Terus menerus melihat layar, Anda akan kehilangan kontak langsung. Bagi anak-anak dan remaja, sangatlah penting bagi mereka untuk bersama dengan keluarganya, untuk berinteraksi,” ujar Dr. Jean.

Kemajuan teknologi membuat hidup kita lebih mudah dan lebih terhubung, tetapi bagi kebanyakan orang, terus menghadapi layar setiap hari dan terikat pada perangkat kita 24 jam sehari 7 hari seminggu telah menjadi suatu kutukan daripada berkat. Sebagai hasilnya, ada gerakan yang tumbuh, berusaha untuk menyederhanakan hidup dan menyiangi gangguan digital.

Di sisi lain, banyak pengguna yang berhasrat pada masa depan dengan lebih banyak lagi teknologi. Tahun lalu, CEO Facebook, Mark Zuckerberg mengumumkan bahwa timnya sedang bekerja menciptakan pengalaman sosial media baru dimana penggunanya dapat mengakses melalui perangkat vir-tual realitas.

Nancy berkata tidak peduli bagaimana teknologi semakin berkembang, setiap saat masih mengizinkan kita untuk membuat keputusan akan hidup yang kita inginkan.

“Saya yakin jiwa manusia akan menang dan kita akan kembali mengambil dan mengontrol kembali bagaimana kita akan menggunakan perangkat, karena Anda tidak dapat memberi makan jiwa manusia dengan gigabite,” tukasnya. “Kita harus mengembalikan kebiasaan kita dan memberi tempat bagi nilai dan ketertarikan kita.” (Epochtimes/Vivi/Yant)