Tragedi Park Geun-Hye, Semua Akibat ‘Kingmaker’ (1)

20
Hubungan Park Geun-Hye selama dua generasi dengan ayah dan anak Choi Tae-Min yang selain merupakan jaminan keberhasilannya untuk menuju Cheong Wa-Dae (The Blue House, kediaman presiden Korsel, Red.), sekaligus juga penyebab dirinya harus berpamitan dari Istana Presiden. (ED JONES/AFP/Getty Images)

Oleh: He Qinglian

Setelah “Gelombang Menjatuhkan Park” berlangsung selama setahun lebih, akhinya pada 13 Maret 2017 lalu, Mahkamah Konstitusi Korea Selatan mengumumkan diberhentikannya Presiden Park Geun-Hye dari jabatannya.

Menyusuri segala data terkait Park Geun-Hye, hanya bisa didapat suatu kesimpulan yang menyedihkan. Sejak mengawali karirnya di bidang politik, setiap kali Park Geun-Hye meraih keberhasilannya, selalu ikut tertanam benih kegagalan.

Hal itu disebabkan adanya hubungan Park selama dua generasi dengan ayah dan anak Choi Tae-Min “Sang Penobat Tahta (Kingmaker)”, yang selain merupakan jaminan keberhasilannya untuk menuju Cheong Wa-Dae (The Blue House, kediaman presiden Korsel-red.), sekaligus juga penyebab dirinya harus berpamitan dari Istana Presiden.

Pilar Kehidupan Park Geun-Hye: “Kerabat” Maya Yang Terus Memberi Kehangatan

Sepenggal kata-kata Park Geun-Hye yang pernah menggugah hati warga Korea, “Saya tidak punya orang tua, tidak memiliki suami, tidak memiliki putra putri, negara ini adalah satu-satunya yang saya harapkan akan saya layani.”

Presiden wanita yang menyatakan dirinya telah “menikahi negara” ini, pada akhirnya terjungkal di tangan “sohib” yang bukan keluarganya namun lebih dekat daripada keluarga sekalipun. Sepertinya sungguh konyol, tapi bukan tidak beralasan. Karena peran “sohib” ini jauh melampaui sekedar sahabat, ia adalah pembimbing spiritual yang paling penting di dalam hidup Park Geun-Hye, yakni putri dari Choi Tae-Min (yang disebut-sebut sebagai “Sang Penobat Tahta” / Kingmaker).

Kingmaker” adalah tokoh atau sekelompok krusial yang mampu memberikan efek besar dalam menentukan suksesi kepemimpinan. Orang-orang ini memanfaatkan kekuasaan dari pemimpin opini dalam bidang politik, aset, agama dan militer untuk menentukan masa depan pengemban posisi tertinggi.

Di dalam politik demokrasi, kelompok kepentingan yang besar jika bergabung juga bisa mengusung tahta, seperti dalam proses pilpes AS 2016 lalu, para elite politik, ekonomi, dan media massa bergabung membentuk kekuatan untuk mengusung Hillary memasuki Gedung Putih.

Di masa-masa yang paling sulit dalam hidup Park Geun-Hye, Choi Tae-Min selalu muncul di saat yang tepat ibarat hujan di tengah kemarau. Dukungan SDM, dana, juga penyegaran spiritual, selalu muncul di saat dibutuhkan dan sangat mencukupi. Tanpa adanya hujan di tengah kemarau ini, Park Geun-Hye tidak mungkin meraih kemenangan di karir politiknya yang panjang dan berliku.

Menjelang pilpres 2006, sang pembimbing Choi Tae-Min meninggal dunia, namun putri kelimanya yakni Choi Soon-Sil secara mutlak mendapatkan kepercayaan Park Geun-Hye menggantikan almarhum ayahnya, untuk mendampingi Park Geun-Hye. Bukan sebagai keluarga, namun lebih dekat daripada keluarga.

Selama dua generasi ayah dan anak ini terus memberikan kehangatan bagi Park Geun-Hye, tentunya bukan karena cinta mereka pada Park Geun-Hye. Karena latar belakang Park Geun-Hye yang unik, seolah sejak awal sudah ditakdirkan kehangatan ini adalah sebuah investasi politik.

Park Geun-Hye bisa menjadi sasaran investasi politik keluarga Choi, adalah karena latar belakang keluarganya yang spektakuler, ayahnya Park Chung-Hee adalah Presiden Korsel yang ke-5 sampai dengan ke-9, dan berkuasa selama 17 tahun lamanya.

Tidak perlu diragukan, norma kehidupan di banyak negara Asia sangat mengedepankan nepotisme, baik negara demokrasi maupun non-demokrasi, ada keunikan dimana kedudukan politik dan modal sosial umumnya beralih generasi ke generasi secara keturunan.

Korut adalah dinasti keturunan yang tipikal, bahkan Jepang yang dipandang sebagai teladan demokrasi di Asia sekalipun, peralihan politiknya juga tidak terlepas dari keunikan pewarisan secara garis keturunan.

Dewi demokrasi Burma Aung San Su Kyi menempuh karir politik yang panjang juga dengan bermodal awal ini, juga karena ayahnya adalah Jendral Aung San yang dijuluki “bapak negara” oleh rakyat Burma.

Jika dibandingkan dengan keturunan presiden lainnya, Park Geun-Hye masih ada satu lagi kelebihan, yakni peristiwa “Han River Miracle” di masa pemerintahan ayahnya. Ibarat sinar bulan purnama di tengah malam, memberikan ingatan yang jernih di benak setiap warga Korsel.

Sejarah kelam dibunuhnya sang ayah pada tahun pertama periode kelima jabatannya, serta statusnya sebagai wanita single yang “menikahi negara ini”, sangat mudah menyentuh sisi paling lembut hati warga Korsel. (sud/whs/rmat)

BERSAMBUNG