Erabaru.net. Ketika kapal yang sedang berlayar rusak dihantam badai dahsyat, hanya dua pemuda yang dapat berenang ke pulau kecil mirip gurun pasir.

Kedua sahabat itu terdampar di pulau tak berpenghuni dan mereka yakin tidak punya jalan lain selain berdoa kepada Tuhan.

Ingin mengetahui doa siapa yang akan dikabulkan, mereka tinggal di sisi pulau yang berlawanan.

Ilustrasi. Kredit: fullredneck.com

Pada hari pertama, pria yang lebih muda berdoa supaya diberi buah-buahan.

Keesokan paginya, ia melihat nanaman berbuah tumbuh di atas tanahnya, dan ia dapat makan buahnya
sementara temannya tetap lapar.

Lalu pemuda yang kesepian itu berdoa supaya diberi seorang istri.

Keesokan harinya, kapal lain karam, dan hanya seorang wanita yang selamat yang berenang ke sisi pulau itu.

Di sisi lain pulau itu, tidak ada apa-apa.

Segera pemuda itu berdoa supaya diberi rumah dan pakaian yang bagus, serta makanan enak.

Keesokan harinya, bagai sihir, semua doanya dikabulkan, sementara temannya masih tidak memiliki apa-apa.

Akhirnya, pemuda itu berdoa supaya diberi sebuah kapal.

Keesokan paginya, ia menemukan seseorang berlabuh di sisi pulau itu, dan ia naik ke kapal bersama istrinya.

Mereka memutuskan untuk meninggalkan temannya di pulau itu karena menganggap temannya tidak layak untuk menerima berkat Tuhan karena tidak satu pun doanya dikabulkan.

Ilustrasi. Kredit: twistedsifter

Ketika kapal hendak berangkat, pemuda itu mendengar suara menggelegar dari langit,

“Mengapa kamu meninggalkan temanmu di pulau?”

“Berkatku adalah milikku karena aku berdoa untuk itu semua,” jawab pemuda itu.

“Semua doa temanku tidak dikabulkan sehingga ia tidak layak mendapatkan apa pun.”

“Kamu salah!” hardik suara itu kepadanya.

“Ia hanya memanjatkan satu doa dan kukabulkan. Tanpa doanya, kamu tidak akan menerima restuku.”

“Temanmu berdoa agar semua doamu dikabulkan.”

Berkat kita bukanlah buah dari doa kita sendiri, melainkan doa orang lain untuk kita. (vv/an)

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds