LONDON — Pameran tubuh manusia yang telah diplastinasi telah bertahun-tahun diklaim bahwa mayat-mayat tersebut kemungkinan berasal dari para tahanan hati nurani dari Tiongkok. Secara tidak percaya telah disangkal oleh pihak-pihak penyelenggara pemeran tur tersebut. Para kritikus secara berkala melayangkan ide pengujian DNA, tetapi sejauh ini, ilmu pengetahuan tersebut masih teoritis.

Namun, sekarang, seorang dokter di Inggris mendorong ekstraksi DNA pertama dari jaringan yang telah diplastinasi tersebut, untuk memelopori sains guna menyelidiki pameran-pameran masa depan.

Konsultan ahli saraf, Dr. David Nicholl, adalah salah satu dari beberapa tokoh medis terkemuka dan aktivis hak asasi manusia yang menyerukan penyelidikan atas pameran Real Bodies di National Exhibition Centre (NEC) di Birmingham karena kekhawatiran tentang sumber tubuh-tubuh tersebut.

Pameran yang menampilkan 20 mayat dan lebih dari 200 organ, yang bersumber dari Tiongkok, dan telah diawetkan dalam keadaan seperti hidup dengan mengganti cairan tubuh dengan bahan sintetis yang mengeras, dan disajikan sebagai “pengalaman pendidikan dengan narasi multi lapis” oleh penyelenggara pameran, Imagine Exhibitions.

Dr. David Nicholl pelopori tes dna pada jaringan tubuh plastinasi
Dr. David Nicholl mengumumkan ia sedang mencari jaringan untuk merintis tes DNA jaringan plastinated di Sandwell General Hospital di Inggris, pada 21 Agustus 2018. (Simon Gross / Epoch Times)

Sehari setelah pameran berakhir pada 21 Agustus, Nicholl mengumumkan bahwa dia menyerukan sumbangan untuk bahan percobaan demi dapat membuktikan bahwa DNA dapat diekstraksi.

“Tampaknya dunia benar-benar gila bahwa kita dapat melacak steak [untuk seekor sapi], tetapi kita tidak dapat melacak mayat di NEC,” katanya kepada wartawan.

“Saya pikir itu akan memberikan tindakan penghentian kepada banyak orang Tiongkok yang kehilangan kerabatnya.”

Dilarang di Beberapa Negara

Dalam sebuah surat terbuka yang dikirim ke pemerintah Inggris, lebih dari 30 profesional medis, anggota parlemen, dan aktivis menyerukan agar pameran Tubuh Nyata (Real Bodies) di Birmingham ditutup dan diselidiki, menuduh bahwa tubuh-tubuh tersebut tidak memiliki dokumentasi untuk mengkonfirmasi sumber asal mereka.

Perusahaan di belakang pameran, bersama dengan NEC, membantah melakukan kesalahan, dan menolak tuduhan tersebut.

Pameran-pameran saingan lainnya juga telah melakukan tur ke dunia.

Pameran tubuh yang diplastinasi tersebut telah dilarang di Israel, Prancis, Hawaii, dan beberapa kota di Amerika Serikat. Republik Ceko mengubah undang-undangnya pada 7 Juli 2017, untuk meminta bukti tentang persetujuan dari almarhum yang tubuhnya telah diplastinasi sebelum pameran tersebut diizinkan masuk ke negara tersebut.

Nicholl menekankan bahwa pameran Real Bodies tidak melanggar undang-undang Inggris, tetapi memanfaatkan celah dalam undang-undang tentang jaringan impor.

Undang-Undang Jaringan Manusia (Human Tissue Act) Inggris tahun 2004 mengatakan bahwa “membuang, menyimpan, atau menggunakan jaringan manusia … tanpa izin yang sesuai” adalah pelanggaran, tetapi karena spesimen yang dipakai dalam Real Bodies diimpor dari luar negeri, Undang-Undang tersebut tidak berlaku.

pameran tubuh manusia
Pameran The Real Bodies digambarkan di sini di Sydney, Australia, sebelum sampai ke Inggris. (Melanie Sun / Epoch Times)

Ketika tes DNA sangat mudah dan murah, Nicholl mengatakan bahwa ekstraksi DNA dari jaringan yang telah diplastinasi merupakan bagian rumit yang perlu didirikan.

Awalnya skeptis, Nicholl mengatakan dia telah menghubungi sejumlah ahli genetika yang mengatakan kepadanya bahwa mereka percaya itu mungkin untuk mengekstrak DNA dari jaringan plastinasi.

Mencari Tulang atau Gigi

Nicholl percaya ini akan menjadi yang pertama. “Saya telah berhubungan dengan editor Journal of Plastination, dan mereka mengatakan bahwa sejauh yang mereka tahu itu belum selesai.”

Nicholl mengatakan itu bisa menjadi proyek penelitian tingkat Master dan mungkin membutuhkan waktu satu atau dua tahun.

“Yang berarti waktu salah satu pameran berikutnya datang ke kota ini, kita dapat mengatakan kepada petugas koroner (penyelidik kematian), ‘Kami telah memublikasikan ini, kami dapat menunjukkan yang dapat Anda lakukan. Mengapa Anda tidak meminta sampel DNA untuk mengidentifikasi siapa orang-orang ini?’”

Dengan pameran-pameran yang tidak mungkin untuk menyerahkan sampel-sampel untuk pengujian, Nicholl berharap rumah sakit pendidikan di Inggris, di mana spesimen plastinasi digunakan, akan menawarkan sampel tulang atau gigi.

Nicholl mengatakan bahwa Otoritas Jaringan Manusia telah memberitahunya bahwa tidak ada masalah dalam menggunakan spesimen semacam itu.

Pengujian DNA terhadap 17 Juta Muslim Uyghur

Ahli Tiongkok dan jurnalis investigasi, Ethan Gutmann, yakin bahwa pengambilan sampel DNA dapat “membuka” isu-isu tentang pengambilan organ dari para tahanan hati nurani, subjek yang telah dikampanyekan Gutmann selama lebih dari satu dekade.

“Tiongkok sekarang sedang mengejar kebijakan untuk mencoba menguji DNA orang Tiongkok yang hidup,” kata Gutmann. “Mereka telah menguji 17 juta Muslim Uyghur dan mereka dapat mempersempitnya menurun dalam tiga generasi keluarga, jadi itu menjadi mungkin untuk mendapatkan kecocokan.”

Gutmann telah menghabiskan 10 tahun terakhir meneliti pengambilan organ dari para tahanan di Tiongkok, terutama dari para praktisi Falun Gong.

Falun Gong adalah disiplin spiritual yang mengacu pada tradisi latihan meditasi, dipadukan dengan penekanan pada pengembangan karakter moral.

Menurut penelitian Gutmann, episentrum (pusat kejadian) penganiayaan Falun Gong adalah provinsi Liaoning, dan, terutama, kota Dalian, yang merupakan tempat proses plastinasi tersebut dipelopori.

NEC di Birmingham mengatakan bahwa spesimen-spesimen tersebut semuanya adalah “tubuh tanpa ada kerabat yang mengklaim” yang disumbangkan oleh “otoritas-otoritas yang relevan untuk universitas-universitas kedokteran di Tiongkok.”

NEC mengatakan spesimen-spesimen tersebut “disumbangkan secara legal, bukan dari tahanan apa pun, tidak menunjukkan tanda-tanda trauma atau cedera, bebas dari penyakit menular, dan meninggal karena sebab alami.”

Namun, Tom Zaller, kepala eksekutif Imagine Exhibitions, mengatakan pada bulan April bahwa “tidak ada dokumentasi” untuk membuktikan identitas tubuh-tubuh tersebut atau apakah mereka telah setuju untuk menyumbangkan tubuh mereka setelah kematiannya. (ran)

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds