Li Muyang

Baru-baru ini terdapat suatu berita, seorang gadis berusia 10 tahun dari Yibin, provinsi Sichuan, Tiongkok menulis sebuah esai. Dia mengatakan bahwa orang tuanya ada di sekitarnya, tetapi dia tidak bisa merasakan cinta orangtuanya. Kenapa? Karena ayah dan ibunya telah dikendalikan oleh ponsel. Mereka lebih memilih mengobrol secara online dengan orang yang tidak dikenal, daripada meletakkan ponsel mereka untuk mau mengobrol dengan anak mereka secara langsung.

Ini adalah kasusnya, guru menyuruhnya menulis sebuah esai dengan judul “ceritakanlah isi hatimu”, maka dia pun tidak tahu bagaimana menulis pada awalnya.

Seorang anak berusia 10 tahun barangkali baru kelas tiga atau empat di sekolah dasar. Belum bisa menulis esai, terpaksa meminta bantuan orangtua, dia juga tidak tahu cara mengakses informasi secara online. Dia mencari bantuan ibunya dan sang ibu sedang asyik bermain dengan ponselnya dan tidak mendengarkan dengan seksama.

Dia tidak menulis begitu rinci dalam esainya, kemungkinan menjawabnya dengan beberapa patah kata untuk menolak permintaan sang anak, jika tidak, anak perempuan itu juga tidak akan memprotes bahwa ponsel adalah “pembunuh keluarga.”

Dia mengatakan dalam esainya, “Memang benar bahwa ‘cinta ayah segede gunung’, di depan komputer bagaikan gunung yang tak bergerak walau ada petir menyambar.” ‘Cinta ayah segede gunung’, bagi  pemahaman orang dewasa adalah cinta ayah yang begitu besar dan mendalam, sering digunakan untuk menggambarkan kebesaran cinta ayah.

Tapi dalam kalimat gadis cilik ini apakah Anda melihat bahwa dia memuji ayahnya untuk kebesaran cintanya? Dia mengatakan bahwa ponsel telah merebut/merampas dari dirinya: cinta dari orang tua serta waktu berbahagia nan indah bersama mereka.

Ilustrasi ponsel (Japanexperterna.se/CC BY-SA 2.0)

Si anak ini juga menyebutkan dalam esainya, ibu dan ayah kecanduan ponse. Pada satu hari malah mengiriminya sebuah artikel yang menyatakan bahwa anak-anak yang tidak bermain ponsel bisa masuk ke universitas yang baik. Maksud dari orang tuanya adalah bahwa dia harus mengalihkan fokusnya dari ponsel ke pelajarannya.

Hal seperti ini mungkin juga terjadi pada banyak orang yakni, tidak menginginkan anak-anak melakukan sesuatu, tetapi diri sendiri melakukannya. Seperti orang tua dari gadis ini, jelas-jelas mengetahui bahwa bermain dengan ponsel akan berdampak pada pelajaran anak dan membuyarkan fokusnya.

Namun, di depan anak-anak, mereka malah lupa diri asyik bermain dengan ponsel dan sama sekali tidak memperhitungkan perasaan anak-anak mereka.

Beberapa pendidik menyebut fenomena itu sebagai “kekerasan dingin” yakni ketika mereka menemani anak-anak sambil bermain juga dengan ponsel. Anak-anak seperti itu dapat berubah menjadi terlalu sensitif, tidak sabaran, hiperaktif dan sering mengeluh.

Orang mengatakan bahwa orang tua adalah guru pencerahan pertama bagi anak-anak, karena pengajaran dan sentuhan dari orangtua memiliki dampak yang luar biasa pada anak-anak mereka.

Hal-hal asing dan baru di dunia dan tehadap benda-benda yang baru disentuhnya, anak-anak laiknya selembar kertas putih, sang ayah untuk kali pertama mewarnainya dengan warna apa maka anak akan menganggap dirinya sebagai warna itu.

Anda bermain ponsel di depan anak-anak dengan gembira, anak-anak akan ikut belajar dan perlahan-lahan mereka akan tertarik pada ponsel, bahkan menjadi kecanduan bermain ponsel.

Gadis cilik itu berkata, “Saya terkadang merasa kesepian.” Orangtuanya ada di sekitarnya setiap hari, tetapi dia malah merasa kesepian. Kesepiannya dikarenakan dia tidak dapat bertukar perasaan/emosional dengan orang tuanya walau dekat dan waktu orang tuanya dikendalikan oleh ponsel.

mata juling akibat memakai smartphone
Para ahli di Chonnam National University Hospital, Seoul, Korea menemukan hubungan antara memakai ponsel terlalu lama dan terlalu dekat dengan mata dapat menyebabkan mata juling, setelah meneliti 12 anak, berusia 7-16, yang menggunakan ponsel mereka selama 4-8 jam sehari

Ada sejumlah analis mengatakan bahwa smartphone telah mengendalikan kehidupan orang-orang, karena mereka telah memberikan stimulasi tanpa akhir.

Profesor MIT Sherry Turkle mengatakan, “Perangkat ini selalu menyala dan selalu berada di sisi Anda. Selalu menyenangkan. Selalu dapat memberikan rangsangan. Keberadaannya telah membuat kita memiliki semacam kondisi pikiran yang baru.”

Menurut Sherry, kesepian dan fungsi introspeksi telah melorot dan mendorong ketergantungan masyarakat pada ponsel pintar.

Seperti diketahui, saat ini di daratan Tiongkok, apakah itu komputer, ponsel dan lain-lain, selama Anda membukanya, Anda akan menemukan banyak konten porno dan kekerasan, hal-hal seperti itu sedang menyedot perhatian orang.

Orang-orang larut dalam menikmati game online dan obrolan/chatting, serta mencari rangsangan dan kepuasan di dunia maya.

Setelah pulang kantor dan pulang dari sekolah, jika tidak duduk di depan komputer, maka orang-orang menunduk bermain dengan ponselnya.

Beberapa orang menyebut berbaring sambil bermain ponsel sebagai “berbaring malas,” yang sangat mirip dengan sikap memegangi senapan rokok di zaman dinasti Qing, 2 abad lalu.

Sepanjang waktu selalu bermain ponsel, laiknya orang yang kecanduan menghisap  cerutu. Orang-orang secara bertahap mengabaikan kasih sayang dan persahabatan, serta hubungan antar orang-orang secara bertahap menjadi acuh tak acuh.

Masyarakat arus utama Amerika setelah jam kantor selama periode dari jam 6 sore sampai 9 malam akan menyisihkan waktu mereka khusus untuk keluarga atau bermain dengan anak-anak mereka, atau mengobrol dengan keluarga mereka. Jika ada sesuatu yang harus dikerjakan akan dikerjakan setelah jam sembilan malam.

Beberapa waktu lalu, ada kejadian seperti ini, seorang anak perempuan berusia 14 tahun dari Provinsi Shaanxi bermain ponsel pada larut malam dan ketangkap basah oleh adik lelakinya. Dia khawatir si adik laki-laki akan mengadu kepada orangtuanya, lalu menemukan sebuah pisau di dapur, dan membunuh adiknya. Apakah ini tidak mengerikan?

Ini adalah contoh kasus yang sangat gamblang, maka itu ada sejumlah orang sejak lama menyerukan untuk tidak membiarkan jaringan virtual online mengasingkan hubungan antar anggota keluarga.

Ada juga yang berkomentar, “Jika Anda ingin menghancurkan seorang anak, maka beri dia sebuah ponsel! (HUI/WHS/asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds