Zhou Xiaohui

Barisan mobil mewah yang panjang tak berujung, hotel bintang lima yang mewah, balai pertemuan yang mewah gemerlap, berbagai kuliner yang indah dan lezat, acara yang disiapkan dengan sepenuh hati… berbagai perlakuan kelas atas tersebut adalah perasaan intuitif yang didapatkan oleh para pemimpin 52 negara Afrika beserta nyonya setelah menghadiri Forum Kerjasama RRT-Afrika yang baru saja berakhir di Beijing.

Setelah menikmati perjamuan, para pemimpin Afrika itu, seperti biasanya, dengan puas hati membawa pulang bingkisan dari para pemimpin Beijing yang murah hati, yakni dana bagi Afrika senilai USD 60 milyar (892 triliun Rupiah). Ini berupa dana bantuan, kredit tanpa bunga, dana proyek dan investasi; di saat yang sama Beijing juga berjanji akan menghapus hutang yang belum dibayar oleh negara miskin Afrika yang akan jatuh tempo akhir 2018 ini “bagi negara Afrika yang memiliki hubungan diplomatik dengan RRT”.

Lalu, setelah bersusah payah menggelar pesta mewah menjamu tamu-tamu Afrika itu, apa yang didapat Beijing?

Perolehan pertama, tindakan Beijing ini membuat AS dan negara Barat kembali mendapat sinyal bahwa Beijing tidak mau mundur dari perang dagang AS-RRT, juga semakin menguatkan ambisi meluaskan pengaruh mereka.

Tidak diragukan, forum kerjamasa kali ini berlangsung baik dari segi skala maupun dari upaya yang dikerahkan Beijing, adalah kali pertama dilakukan, keterlibatan petinggi PKT juga belum pernah ada sebelumnya.

Oleh karena itu, aksi Beijing ini oleh kalangan luar dipandang sebagai tindakan PKT untuk menggandeng Afrika dalam rangka melawan Amerika, juga menyampaikan sinyal tidak akan berkompromi pada AS.

Forum Kerjasama RRT-Afrika yang diadakan di Beijing pada 3 – 4 September lalu. PKT secara aktif mempromosikan kebijakan “One Belt, One Road” dan berharap untuk membangun “Kebersamaan nasib antara RRT dan Afrika yang lebih akrab.”  Foto menunjukkan seorang petugas keamanan RRT yang ditempatkan di luar sidang tersebut. (ROMAN PILIPEY / AFP / Getty Images)

Pertanyaannya adalah, menggandeng “teman-teman miskin” ini menggantikan pasar AS dengan pasar Afrika, apakah efektif?

Perlu diketahui, nilai perekonomian Benua Afrika hanya 1,5% dari seluruh dunia, sedangkan AS mencapai 25%, bagaimana PKT bisa menggantikan AS dengan Afrika?

Mungkin dengan menghamburkan uang Beijing mampu mengubah taraf hidup rakyat Afrika, sehingga bisa diandalkan untuk menjadi jalan bagi rakyat Tiongkok mencapai kekakayaan. Hanya saja harapan memang indah, namun kenyataan itu menyakitkan.

Aksi berlebihan Beijing ini juga membuat AS dan Barat semakin sadar. Tanggal 4 September lalu Direktur Intelijen Nasional AS, Dan Coats dalam Rapat Intelijen dan Keamanan Nasional di Washington mengatakan, Amerika “semakin memahami ambisi PKT.” Ia berkata, di bawah kepemimpinan Xi Jinping, kebijakan diplomatik RRT semakin gencar, berambisi mendorong kepentingan negara dan modal RRT yang semakin luas.

Dikatakannnya, RRT berusaha membentuk sosok negara besar yang unik di tengah tatanan internasional saat ini, dan berupaya mengubah tatanan internasional, untuk memperbesar keuntungan di pihaknya. Beijing juga akan memanfaatkan proyek pembangunan infrastruktur di luar negeri “One Belt One Road” untuk memperbesar pengaruh ekonomi dan politiknya serta memperpanjang jangkauan militernya.

Tidak diragukan forum Afrika telah membuktikan pernyataan Coats bukan isapan jempol belaka. Afrika sebagai bagian yang ikut serta dalam “One Belt One Road” tengah melangkah menuju jebakan yang digali oleh Beijing, kemungkinan munculnya krisis hutang di masa depan bisa dibilang tidak kecil.

Perolehan kedua adalah tindakan Beijing ini memicu rasa tidak puas di tengah warga RRT sendiri, ini mengakibatkan PKT yang telah kehilangan dukungan rakyat terjerumus ke dalam kondisi yang semakin parah.

Di tengah seruan PKT pada rakyat “bersama mengatasi kesulitan”, di dalam negeri Tiongkok harga barang meroket, harga jual properti terus melonjak, bencana dimana-mana, jaminan hari tua, kesehatan, pencemaran dan kemiskinan bermasalah, malah masih saja menghamburkan uang.

Di saat rakyat mengeluh akan kesulitan hidup, petinggi Beijing kembali menghamburkan uang, tidak hanya jamuan dan perlakuan mewah, bahkan memberi bantuan dalam jumlah besar, ini membuat banyak rakyat Tiongkok yang berada di negara berkembang tidak bisa menerimanya.

Apalagi penguasa tertinggi Beijing sesumbar mengatakan, terhadap negara dan rakyat Afrika, “Beijing banyak memberi sedikit menerima, lebih dulu memberi baru menerima, hanya memberi tidak menerima.”

Padahal pada rakyat Tiongkok sendiri justru PKT bertindak sebaliknya “Sedikit memberi banyak menerima, lebih dulu menerima sebelum memberi, hanya menerima tanpa memberi”. Kepentingan siapakah yang dipentingkan oleh pemimpin negara seperti ini?

Menurut Direktur Intelijen Nasional AS Dan Coats (tengah), pengaruh PKT di Asia dirasakan paling besar, tapi saat ini perlahan meluas hingga ke Afrika, Amerika Latin dan wilayah Timur Tengah. Di Laut Tiongkok Selatan, Beijing berencana meraih hak kendali nyata atas wilayah tersebut. (INTERNET)

Selain itu menurut VoA, sejumlah komentator RRT menyebut KTT RRT-Afrika yang berskala massif ini sebagai “suatu proyek prestisius pelanggaran hak azasi terhadap rakyatnya sendiri, suatu ajang menghamburkan uang hasil darah keringat rakyat, menyalah-gunakan kekuasaan dan pengawasan serta penahanan rumah.”

Petinggi Beijing yang telah menyenangkan orang Afrika, tidak menyadari gunung api di bawah singgasananya tengah mengumpulkan kekuatan. “Aspirasi rakyat adalah politik terbesar”, ini bukan sekedar omong kosong.

Sebagai wajib pajak, bukankah sudah sepantasnya mendapat manfaat dari uang yang didapat lewat bantuan itu?

Perolehan ketiga adalah yang paling dibanggakan Beijing, yakni “rasa terima kasih dan bersyukur” dari orang Afrika.

Data yang berhasil dikumpulkan oleh Institut Tiongkok-Amerika di John Hopkins University menunjukkan, sejak tahun 2000 hingga 2016, RRT telah memberikan bantuan sebesar USD 125 milyar (1.862 triliun Rupiah) bagi Afrika.

Akan tetapi, hubungan yang didapat dengan uang, bisa bertahan berapa lamakah? Negara Afrika yang kekurangan bantuan dana, apakah masih akan menyebut PKT sebagai saudara?

Jika perang dagang AS-RRT mengakibatkan perekonomian Tiongkok merosot, ekspor berkurang, modal asing hengkang, berapa USD yang bisa diberikan Beijing untuk membantu saudara miskinnya? Apakah mau seperti di masa Mao Zedong, lebih baik kelaparan sendiri dan tetap harus bisa memberikan bantuan kepada negara sekutunya? Pada saat itu, apakah rakyat Tiongkok masih akan terus berdiam diri menerimanya?

Selain itu, jika Negara-negara Afrika di kemudian hari terjerumus kedalam jebakan hutang, dan harus membayar mahal untuk itu, pada saat itu bagaimana reaksi negara Afrika?

Singkatnya, pesta di Beijing yang kelihatannya mewah, sebenarnya menyimpan banyak krisis di baliknya, berapa kali lagi pesta seperti ini akan bisa digelar oleh Beijing? (SUD/WHS/asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds