fbpx
Tuesday, December 7, 2021
HomeBERITA TIONGKOKPropaganda Partai Komunis Tiongkok Difokuskan kepada Orang Tionghoa di Perantauan (2)

Propaganda Partai Komunis Tiongkok Difokuskan kepada Orang Tionghoa di Perantauan (2)

Antonio Graceffo

Rezim Tiongkok tidak mengakui kewarganegaraan ganda, mengklaim kedaulatan penuh atas siapa pun yang memegang sebuah paspor Tiongkok. Pada saat yang sama, banyak retorika Partai Komunis Tiongkok dan pemimpinnya Xi Jinping  mengenai darah Tionghoa dan darah leluhur Tionghoa, yang diterjemahkan menjadi Partai Komunis Tiongkok percaya bahwa pihaknya  mengendalikan atau seharusnya mengendalikan warganegara asing keturunan Tionghoa, tidak peduli seberapa jauh ikatan  mereka dengan Tiongkok. 

Partai Komunis Tiongkok selalu melihat orang-orang Tionghoa di perantauan sebagai sebuah sumber pendapatan dan investasi. Dalam beberapa dekade terakhir, Partai Komunis Tiongkok menganggap orang-orang Tiongkok di perantauan sebagai sumber transfer teknologi, mengambil bagian dalam inisiatif pembangunan teknologi multinasional yang dipimpin Tiongkok. Orang-orang Tionghoa di perantauan juga sangat penting di proyek  Belt and Road Initiative (BRI) yang kemudian dikenal dengan  “One Belt, One Road”, yang memfasilitasi dan memperlancar keterlibatan Tiongkok dengan berbagai negara-negara Inisiatif Belt and Road. 

Sejak tahun 2016, Partai Komunis Tiongkok mengadakan sebuah “konferensi bisnis” tahunan untuk orang-orang Tionghoa di perantauan yang  terlibat di dalam BRI.

Sejak tahun 1999, Tiongkok menawarkan wisata hak waris keturunan selama dua minggu, yaitu sebagian besar adalah gratis bagi orang-orang  keturunan Tionghoa. Lebih dari 400.000 orang asing  keturunan Tionghoa telah memanfaatkan peluang ini.

The Strategic Research Institute of France’s Military College (IRSEM) merilis sebuah laporan panjang mengenai kampanye propaganda Partai Komunis Tiongkok, yang mencakup pengaruh dan kendali orang-orang Tiongkok di perantauan. 

IRSEM menemukan bahwa program propaganda Partai Komunis Tiongkok berfungsi melalui lembaga-lembaga pemikir Barat, Institut Konfusius, dan media. Laporan tersebut menunjukkan bahwa operasi Partai Komunis Tiongkok tidak terbatas di Amerika Serikat, tetapi juga terjadi di Taiwan, Singapura, Swedia, Kanada, dan negara-negara lain.

Dorongan propaganda ini berjalan paralel dengan gaya diplomatik “prajurit serigala” yang  diadopsi oleh  Komunis Tiongkok tahun lalu, di mana masing-masing Duta Besar Tiongkok  akan menyerang, melalui surat-surat ke media setempat atau wawancara di stasiun-stasiun  TV, negara tempat mereka diposting. 

Salah satu contoh yang lebih mengerikan adalah mantan Duta Besar Tiongkok untuk Malaysia, Huang Huikang, yang secara terbuka mendukung kepentingan bisnis Tiongkok di Malaysia, sementara menghadiri acara-acara yang diadakan oleh Asosiasi Orang-Orang Tionghoa di Malaysia dari pemerintahan Barisan Nasional. 

Ini adalah sebuah contoh yang jelas dari Partai Komunis Tiongkok yang  bekerja melalui kedutaan tersebut, tidak hanya untuk memenangkan dukungan dari orang-orang Tionghoa di perantauan untuk kepentingan ekonomi Beijing, tetapi juga untuk mendukung calon politik dan partai politik, yang nantinya mungkin berada dalam sebuah posisi untuk memperjuangkan kepentingan Beijing.

Serangan tiga bagian Partai Komunis Tiongkok terdiri dari perang psikologis,  perang opini publik, dan perang hukum,  sebagian besar dilakukan melalui orang-orang Tionghoa di perantauan. 

Perang psikologis dan perang opini publik terlihat jelas di Konferensi Persahabatan Asosiasi Orang-Orang Tiongkok di Perantauan dan Asosiasi Persahabatan Luar Negeri Tiongkok, di mana Xi Jinping mengingatkan orang-orang Diaspora Tionghoa  bahwa darah Tiongkok mengalir di nadi mereka. Pesan Xi Jinping adalah jelas: Ia  dan Partai Komunis Tiongkok mengharapkan orang-orang Tionghoa di perantauan menjadi patriotik dan patuh, membantu Beijing dalam melaksanakan tujuannya.

Organisasi lain,the Chinese People’s Association for Friendship with Foreign Countries  (CPAFFC) bertujuan “untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, persahabatan, kerjasama internasional lebih lanjut  atas nama rakyat Tiongkok, berteman dan mempererat persahabatan di internasional … sementara melaksanakan persahabatan rakyat-dengan-rakyat di semua arah, multi level dan area-area yang luas  untuk melayani tujuan besar pembangunan damai  dan penyatuan kembali oleh Tiongkok.”

Pemerintah Barat perlu bertanya pada diri sendiri apakah mereka harus mengizinkan organisasi semacam itu yang melayani tujuan besar Partai Komunis Tiongkok untuk beroperasi secara bebas di negara-negara Barat itu. Selain itu, tidak jelas apakah istilah reunifikasi berarti sebuah pengambilalihan Tiongkok atas Taiwan, atau Tiongkok mencaplok orang-orang Tionghoa di perantauan yang tinggal di luar negeri.

Selain berupaya mempengaruhi orang-orang Tionghoa di perantauan melalui kontak langsung dan perjalanan dan konferensi ke luar negeri, Partai Komunis Tiongkok berusaha untuk mengendalikan  media orang-orang Tionghoa di perantauan, serta merekrut mahasiswa yang belajar di luar negeri untuk saling memata-matai. Tujuan ini sering  dicapai melalui ancaman dan taktik kuat lainnya, sering datang dari Kedutaan atau Konsulat Tiongkok. Di inisiatif lain, sebagian besar kelompok mengendalikan perangkat lunak internet dari jarak digunakan dalam serangan online terhadap orang-orang Tionghoa di perantauan yang mengkritik Partai Komunis Tiongkok.

Kegiatan luar negeri Partai Komunis Tiongkok termasuk menekan gerakan pembangkang di komunitas orang-orang Tionghoa di perantauan, menumbuhkan sebuah lingkungan internasional yang kooperatif, memperlancar jalan untuk pengambilalihan Taiwan, mengumpulkan intelijen, mencuri teknologi asing, dan mendorong investasi di Tiongkok. 

Menurut Institut Penelitian Strategis Sekolah Militer Prancis, ada juga bukti Komunis Tiongkok berupaya mengubah pesan mengenai protes Hong Kong, serta menyebarkan disinformasi bahwa Amerika Serikat adalah negara asal-usul COVID-19.

Dalam beberapa dekade terakhir, sebagian besar orang Tiongkok yang telah meninggalkan Tiongkok tidak pernah dikembalikan. Namun dalam beberapa tahun terakhir, 80 persen dari orang Tiongkok yang pergi belajar ke luar negeri telah kembali ke Tiongkok. Ini menunjukkan bahwa Partai Komunis Tiongkok sangat mempropagandakan pesan, bahwa rezim  Tiongkok dapat memberikan kehidupan yang lebih baik bagi warganegara daripada yang berhasil dilakukan  negara-negara Barat. Untuk mempromosikan ini, dan pesan-pesan lainnya, Partai Komunis Tiongkok telah membangun sebuah jaringan media global secara besar-besaran.

Salah satu media orang-orang Tionghoa di perantauan terbesar adalah situs web Wenxuecity, yang melayani orang-orang Tiongkok di perantauan yang tinggal di Amerika Serikat. Didirikan oleh mahasiswa pertukaran Tiongkok pada tahun 1998, Wenxuecity dituduh memiliki hubungan dengan Partai Komunis Tiongkok, yang oleh para analis sebagian besar telah dipastikan. 

Sebuah penyelidikan menemukan bahwa sekitar 16 persen artikel umum Wenxuecity dan 25 persen cerita mengenai Hong Kong,  Partai Komunis Tiongkok, atau Xi Jinping berasal dari media yang dikelola pemerintah Tiongkok atau outlet media yang  ramah dengan rezim Tiongkok.

Selain memengaruhi media orang-orang Tionghoa di perantauan, Partai Komunis Tiongkok telah menghabiskan miliaran dolar membangun sebuah jaringan televisi global yang dapat bersaing dengan BBC dan CNN. 

Sementara itu, Beijing telah meningkatkan upayanya untuk membawa media luar negeri Tiongkok di bawah kendalinya. 

Pada sebuah pertemuan media berbahasa Mandarin dari lebih dari 60 negara, seorang pejabat senior mengatakan bahwa tugas media luar negeri Tionghoa adalah untuk mengirim ulang berita dari media milik pemerintah Partai Komunis Tiongkok di waktu-waktu penting. (Vv)

Antonio Graceffo, Ph.D., telah menghabiskan lebih dari 20 tahun di Asia. Dia adalah lulusan dari Shanghai University of Sport dan memegang gelar China-MBA dari Shanghai Jiaotong University. Antonio bekerja sebagai profesor ekonomi dan analis ekonomi Tiongkok, menulis untuk berbagai media internasional. Beberapa buku China-nya termasuk “Beyond the Belt and Road: China’s Global Economic Expansion” dan “A Short Course on the Chinese Economy”

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular