Saturday, January 22, 2022
HomeBudayaShen Yun: Melawan Penganiayaan Melalui Seni

Shen Yun: Melawan Penganiayaan Melalui Seni

Menyalakan Keadilan di Hati Para Penonton

Tirai terbuka, dan penari utama Steven Wang melompat keluar, membentangkan sebuah spanduk di tangannya. Di spanduk itu tertulis lima karakter Mandarin. Para penonton membaca: Falun Dafa adalah baik.

Karena berani mengucapkan beberapa kata sederhana ini, puluhan juta orang di Tiongkok, termasuk keluarga Steven Wang, menghadapi penganiayaan berat oleh rezim komunis Tiongkok.

Steven Wang, seorang penari klasik Tiongkok, memulai karirnya hampir dua dekade yang lalu ketika ia diterima di sebuah akademi tari profesional saat ia berusia 12 tahun. 

Saat ini, Steven Wang adalah penari utama di Shen Yun Performing Arts, perusahaan tari klasik Tiongkok premier dunia dan unik karena misi Shen Yun Performing Arts adalah untuk menghidupkan kembali kebudayaan tradisional Tiongkok yang otentik.

Selama 5.000 tahun, Tiongkok adalah sebuah tempat di mana keharmonisan antara langit, bumi, dan umat manusia adalah kepercayaan utama masyarakat. Orang-orang percaya kebudayaan mereka diilhami secara Ilahi, dan Konfusianisme, Buddhisme, dan Taoisme memiliki pengaruh kuat pada masyarakat ini, yang berusaha menegakkan prinsip seperti kesetiaan, integritas, kebaikan, kebijaksanaan, dan keadilan.

Ini adalah misi yang ditanam secara pribadi oleh Steven Wang.

“Ayah saya dianiaya sampai meninggal,” kata Steven Wang, dalam sebuah video di situs web Shen Yun Creations. 

Banyak seniman dalam perusahaan seni pertunjukan yang berbasis di New York itu diprofilkan di situs video baru ini, yang menceritakan kisah mengenai keyakinan dan kebebasan yang mereka cari ketika mereka bergabung dengan Shen Yun. Sebagai sebuah perusahaan Amerika Serikat, Shen Yun memungkinkan artisnya untuk mengekspresikan keyakinan dan kebudayaan mereka secara bebas dan, dan berbagi dengan dunia.

Tetapi, banyak yang mencatat sebuah ironi yang tragis: Sebuah perusahaan seni yang berniat menyelamatkan yang warisan yang diilhami secara Ilahi dari peradaban 5.000 tahun Tiongkok, bahkan tidak dapat menginjakkan kaki di  Tiongkok modern yang masih diperintah oleh Partai Komunis Tiongkok.

Steven Wang sendiri tidak dapat kembali ke Tiongkok ketika ia mengetahui kematian ayahnya karena penganiayaan Partai Komunis Tiongkok, jadi ia tidak dapat menghadiri pemakaman ayahnya.

“Saya tidak punya cara untuk kembali menemui ayah saya untuk terakhir kalinya,” kata Steven Wang. Terhitung saat ini, ibunya masih tetap berada di Tiongkok dan masih menghadapi penganiayaan.

Sebuah Warisan Spiritual

Penari di Shen Yun semuanya bermeditasi, dan banyak pemain Shen Yun berlatih Falun Dafa, sebuah latihan spiritual yang mengajarkan tiga prinsip yaitu “Sejati, Baik, dan Sabar.” 

Tradisi kultivasi spiritual ini telah menjadi bagian besar dari kebudayaan tradisional Tiongkok sampai komunisme berkuasa di abad terakhir, yang berniat memusnahkan tradisi.

“Saya berusia sekitar 8 tahun ketika saya pertama kali menemukan kultivasi spiritual,” kata Steven Wang. Anak bungsu dari empat bersaudara, Steven Wang adalah seorang anak nakal yang sering bermasalah. Tetapi ia ingat ketika ibu dan ayahnya mulai melakukan kultivasi spiritual, ibu dan ayahnya berubah.

“Prinsip Falun Dafa mengajarkan orang untuk terlebih dahulu mengubah dirinya sendiri, dan ‘melihat ke dalam diri sendiri.’ Setiap kali anda mengalami masalah, jangan mempertimbangkan semuanya dari sudut pandang anda sendiri–—berpikir dari sudut pandang orang lain, Sebagai hasilnya, kehidupan keluarga kami menjadi jauh lebih harmonis,” kata Steven Wang. 

Kedua orang tuanya tidak lagi pemarah. Mereka mendisiplinkan Steven Wang dengan alasan. Steven Wang dan kedua orang tuanya mulai berkomunikasi lebih banyak dan memiliki sebuah hubungan yang baik.

Hal itu tidak berumur panjang: Pada tahun 1999, Partai Komunis Tiongkok, yang berniat memberantas Falun Dafa, mengarahkan perhatiannya pada 70 juta hingga 100 juta praktisi Falun Dafa.

“Ada penangkapan massal dan penganiayaan,” kata Steven Wang. Keluarganya juga menderita. 

“Polisi-polisi komunis masuk ke rumah kami, memukul keras dan menendang. Kemudian mereka menciduk kedua orang tua saya dan membuat sebuah kekacauan besar di rumah, dan mengambil semua buku ajaran Falun Dafa kami.”

Kedua orang tuanya ditahan, di penjara terpisah.

“Setiap kali kami mengunjungi mereka, mereka tampak seperti kelaparan. Mereka tidak pernah memberitahu saya bagaimana rasanya di sana. Mereka hanya memberitahu saya bahwa mereka baik-baik saja. Tetapi anda mungkin dapat membayangkan—–anda dapat mengetahuinya dari wajah mereka yang pucat bahwa mereka telah disiksa,” kata Steven Wang.

Sejak saat itu, Steven Wang tidak pernah lagi mengalami kehidupan sebuah keluarga yang stabil. Jika ayahnya dibebaskan, maka ibunya akan ditangkap.

“Penganiayaan ini tidak pernah berhenti,” kata Steven Wang. Ia ingat melewati Tahun Baru dengan tiga kakak perempuannya dan tidak ada orang tua di rumah.

Akhirnya, Steven Wang datang ke Amerika Serikat untuk melanjutkan karir tarinya. Saat Steven Wang berada di luar negeri, ayahnya disiksa di penjara dan kemudian dibebaskan karena para penjaga mengira ia mungkin akan meninggal dunia saat ditahan. Di tahun 2009, ayahnya meninggal karena komplikasi-komplikasi kesehatan, dan Steven Wang baru mengetahuinya setelah sebulan kematian ayahnya.

“Kultivasi bukanlah sebuah kejahatan, Saya tidak dapat kembali ke Tiongkok, jadi yang dapat saya lakukan adalah terus menggunakan seni untuk mengungkap penganiayaan ini,” kata Steven Wang. 

Steven Wang, seperti anggota-anggota Shen Yun lainnya, tidak dapat pergi ke Tiongkok. Sebagai individu, mereka dapat menghadapi penganiayaan, dan sebagai kelompok,  Partai Komunis Tiongkok tidak akan mengizinkan Shen Yun memasuki Tiongkok, karena takut akan pengaruh Shen Yun dalam menyebarkan kebudayaan tradisional.

Dua tahun setelah kematian ayahnya, Steven Wang memainkan peran sebagai seorang praktisi Falun Dafa, mengangkat sebuah spanduk di Lapangan Tiananmen, selama salah satu adegan Shen Yun.

“Tarian kami didasarkan pada peristiwa-peristiwa nyata, disesuaikan untuk panggung,” kata Steven Wang.

“Ketika penganiayaan dimulai, ada banyak praktisi yang pergi ke Lapangan Tiananmen untuk mengangkat spanduk sebagai protes,” ujarnya. 

“Ketika saya menggambarkan sebagai praktisi yang dianiaya, saya menggambar pengalaman masa lalu saya. Ini adalah hal-hal yang benar-benar terjadi pada orang-orang yang dekat dengan saya.” 

“Saya berharap dapat menggunakan bentuk seni untuk meningkatkan kesadaran akan penganiayaan yang sedang terjadi di Tiongkok [dan] untuk menyalakan keadilan di hati lebih banyak orang untuk menentang penganiayaan ini. Kemudian, suatu hari, penganiayaan ini akhirnya akan berakhir.” (Vv)

 

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

TERBARU

CERITA KEHIDUPAN