Saturday, January 22, 2022
HomeBERITA TIONGKOKProtes Lockdown Ekstrem Berkepanjangan Akibat Aturan Pemerintah, Warga Ruili, Yunnan, Tiongkok :...

Protes Lockdown Ekstrem Berkepanjangan Akibat Aturan Pemerintah, Warga Ruili, Yunnan, Tiongkok : Kami Ingin Hidup

Epochtimes.com

Kota Ruili, Yunnan,  di-lockdown karena epidemi selama hampir 7 bulan. Banyak orang sudah tak memiliki penghasilan. Pemerintah bahkan tidak memberikan bantuan.  Mereka kini berada di ambang kehancuran. Dari 2 hingga 3 November, sejumlah besar penduduk desa dari Desa Tunhong dan Desa Hemen di kecamatan Mengmao, Kota Ruili, Provinsi Yunnan, berkumpul di pintu masuk desa untuk memprotes. Mereka menuntut pembukaan lockdown, meminta subsidi dan dukungan dari aparat.

Penduduk desa di Desa Tunhong,  memprotes untuk membuka lockdown, agar mereka bisa bertahan hidup

Sejak pecahnya epidemi pada akhir Maret, Ruili  mengadopsi langkah-langkah pencegahan epidemi secara ekstrem seperti penutupan kota, karantina rumah, dan karantina hotel yang dibiayai sendiri. Dengan ditutupnya pabrik lokal, toko-toko  dan perdagangan, orang-orang di Ruili menghadapi tekanan luar biasa dalam hidup mereka.

Menurut Epoch Times, pada 2 November 2021, sekitar 200 penduduk desa dari Desa Tunhong datang ke pintu masuk desa untuk menggelar protes . Para penduduk desa memegang slogan  bertuliskan “Kami membutuhkan dukungan” dan “Kami membutuhkan subsidi.”

Penduduk desa marga Li mengatakan kepada reporter Epoch Times, bahwa pada 3 November,  pada hari itu ada sekitar 200 orang dan ada petugas polisi di tempat kejadian. Akan tetapi, tidak ada konflik yang terjadi. Akan tetapi, polisi membuat video selama proses berlangsung.

“Kemarin kami tidak diperbolehkan keluar, kami ingin keluar. Pemerintah meminta staf jaringan untuk menjaga kami. Pemerintah tidak menyelesaikan masalah makanan dan pakaian untuk kami. Jadi kami pergi ke desa dan mengatakan bahwa kami ingin hidup,” kata Mrs. Li.

Diketahui, aksi tersebut berlangsung hingga sekitar pukul 6 sore, Wakil Wali Kota Ruili dan Sekretaris Komite Politik dan Hukum mengunjungi lokasi kejadian. Li mengungkapkan bahwa kepala desa tidak dapat menyelesaikan masalah di tempat kejadian. Setelah wakil walikota dan sekretaris tiba, mereka berjanji kepada penduduk desa untuk menyelesaikan masalah dalam waktu tiga hari. Pada tanggal 3 November, masih ada anggota polisi di pintu masuk Desa.

Mrs Li mengungkapkan, bahwa selama periode manajemen ketat, penduduk desa terkurung selama 14 hari di rumah mereka dan tidak pernah meninggalkan gerbang. Sekarang segelnya sudah dilepas, tapi belum sepenuhnya terbuka.  Oleh karena itu, warga hanya bisa bergerak di desa. Penduduk desa tanpa memiliki pekerjaan dan sumber pendapatan.

“Penduduk desa benar-benar tidak bisa tinggal di dalam lagi, karena hampir setahun tidak ada pendapatan, dan kami telah di-lockdown dengan ketat  Sekarang kehidupan normal belum pulih. Kami semua perlahan melewatinya. Hingga kemarin mulai meledak,” ungkap Ms. Li.

Reporter The Epoch Times menelepon Departemen Propaganda Pemerintah Kota Ruili untuk berkonsultasi tentang solusi akhir protes penduduk desa di Desa Yibian. Seorang staf wanita yang menjawab telepon mengaku tidak mengetahui masalah tersebut. Ia meminta reporter untuk merujuk ke laporan.

Reporter meminta penanggung jawab untuk menjawab telepon.Staf mengklaim bahwa penanggung jawab tidak hadir, menolak memberikan informasi kontak penanggung jawab, dan menutup telepon.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

TERBARU

CERITA KEHIDUPAN