|
Japan Folklore
|
Minggu, 07 Maret 2010 |
|
Zaman dahulu di suatu tempat hiduplah sepasang kakek-nenek. Setiap hari, kakek ke hutan mengumpulkan kayu bakar, sedangkan nenek ke sungai mencuci. Ketika nenek sedang mecuci, dari hulu sungai hanyutlah momo (buah peach) Nenek memungut momo itu.
|
|
Era Baru
|
Senin, 22 Februari 2010 |
|
Dahulu kala, di sebuah sumur yang dangkal, hiduplah seekor katak. Setiap hari ia hidup nyaman, santai dan merasa ia benar-benar sangat beruntung. Suatu hari di jalan lewatlah seekor kura-kura, dan katak ini menyapanya
dengan gembira, mengajaknya untuk bertamu ke rumahnya. Katak itu
berkata, “Saya bisa bermain-main yang saya suka, ketika lelah
beristirahat di sebuah lubang di dinding sumur. Disini ada udang kecil
dan serangga untuk dimakan, ayo lihatlah sumurku, ini adalah surga saya
di muka bumi.”
Mendengar cerita ini, kura-kura sangat ingin untuk pergi dan melihat tempat yang sepertinya sangat indah itu. Tapi saat sampai, ia terlalu gemuk, dan tidak bisa masuk ke dalam lubang sumur. Sambil mendesah ia berkata kepada katak cerita tentang laut, "Laut, apakah kamu pernah melihat laut? Laut adalah hamparan besar biru. Kita bisa berenang menuju tempat-tempat jauh yang belum pernah anda bayangkan, kita bisa berenang ke bawah namun tidak pernah mencapai bagian paling dasarnya. Laut sangat dalam dan besar. Hanya ketika kita berada di laut dapat kita benar-benar merasa benar-benar bebas dan bahagia. " Katak mendengar ini tercengang. Dia begitu terkejut ia hanya bisa menatap dari kejauhan dengan matanya yang membesar. Jadi adik-adik, kita harus memiliki visi hidup yang luas dan besar, tidak memiliki visi hidup seperti katak dalam sumur, hanya melihat surga kecilnya saja di muka bumi. Orang yang memiliki pikiran luas, siap menghadapi tantangan, rajin belajar dan selalu mengembangkan diri untuk maju. (Erabaru/yqm)
|
|
Erabaru
|
Senin, 08 Februari 2010 |
|
Seekor keledai dituntun oleh pemiliknya melewati
sebuah jalan yang sempit di pinggiran jurang. Sang Keledai tiba-tiba memutuskan
untuk tidak memperdulikan tuntunan dari pemiliknya dan mencoba untuk memilih
jalan yang diinginkannya. Dia bisa melihat jalan yang ada di bawah jurang, dan
berpikir bahwa jalan yang tercepat untuk mencapai jalan di bawah jurang adalah
dengan cara menuruni jurang tersebut. Saat dia ingin turun,
pemiliknya dengan cepat menangkap ekornya dan menahan serta menarik mundur
keledai tersebut agar tidak turun ke dalam jurang, tetapi sang Keledai yang
keras kepala dan bodoh terus meronta-ronta sekuat tenaga.
|
|
Oleh Jie Yi
|
Rabu, 20 Januari 2010 |
Mo-tse, yang juga disebut Mo Di, tinggal di Negara Song
(abad ke-11 SM - 286 SM), selama Periode Negara Perang. Ia menjabat sebagai Da
Fu (kepala staff) dari negara Song. Ia memberi teladan dengan gaya
hidupnya yang sederhana dan hemat. Dia menulis sepuluh buku selama hidupnya. Ia
kemudian dikenal sebagai Mo-tse, nama khusus untuk menghormati posisinya dalam
sejarah.
|
|
Dongeng Aesop
|
Senin, 18 Januari 2010 |
|
Seekor kerbau datang ke sebuah kolam yang penuh dengan alang-alang untuk minum. Ketika dia menginjakkan kakinya yang berat ke atas air, secara tidak sengaja dia menginjak seekor kodok kecil sehingga masuk ke dalam lumpur. Ibu kodok yang tidak melihat kejadian itu selanjutnya mulai merasa kehilangan satu anakknya dan bertanya kepada anak kodok yang lainnya apa-apa saja yang terjadi dengan anak kodok itu.
|
|
Dongeng Aesop
|
Senin, 11 Januari 2010 |
|
Seekor burung Elang, dengan kekuatan sayapnya menyambar seekor anak domba dengan kukunya dan membawanya pergi jauh ke angkasa, seekor burung gagak melihat kejadian itu, dan terbayang dibenaknya sebuah gagasan bahwa dia mempunyai kekuatan untuk melakukan hal yang sama dengan burung elang tersebut.
|
|
Era Baru
|
Sabtu, 26 Desember 2009 |
|
Ada dua bersaudara, yang tua bernama Zhang Eryou dan yang muda bernama Zhang Sanchen. Saat Eryou meninggal, meninggalkan seorang anak lelaki muda. Sanchen menerima tanggung jawab penuh untuk menyayanginya.
|
|
Era Baru
|
Selasa, 08 Desember 2009 |
|
Ketika seseorang menilai terlalu tinggi dirinya, ia sering diingatkan: “Jangan seperti Belalang yang berusaha untuk menghentikan kereta.” Pepatah ini berasal dari sebuah kejadian yang terjadi di periode musim semi dan gugur di Tiongkok kuno.
|
|
|
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>
|
|
Halaman 1 dari 31 |