| Sikap Seorang Pejabat |
| Qingyan | Senin, 16 November 2009 |
|
Adipati Dan adalah adik laki-laki dari raja Wu. Pada tahun pertama Dinasti Zhou Barat (1046-771 SM) Boqin, dinobatkan menjadi Raja. Tiga tahun setelah Boqin menjabat, ia melaporkan kepada Adipati mengenai aturan yang dibuatnya selama masa pemerintahannya. Adipati bertanya kepadanya, “Mengapa anda lama baru datang kemari?” Boqin berkata, “Saya sedang merubah biaya pengeluaran dan pemasukan Kerajaan Lu, merubah etika mereka. Saya membutuhkan tiga tahun untuk merubah biaya pengeluaran dan pemasukan, dan juga sedang menyusun etika kemasyarakatan. Itulah sebabnya anda tidak bisa melihat saya dalam waktu yang lama.” Pada waktu itu Jiang Ziya dinobatkan menjadi raja di Kerajaan Qi. Hanya dalam lima bulan Jiang Ziya memerintah kerajaannya, ia kembali untuk melaporkan kepada Adipati tentang aturannya. Adipati bertanya kepadanya, “Mengapa anda kembali dengan cepat?” Jiang Ziya menjawab, “Saya menyederhanakan formalitas antara penguasa dan pelayan dan mengatur kerajaan menurut biaya pengeluaran dan pemasukan mereka.” Jiang Ziya kemudian mendengarkan tentang laporan Boqin kepada Adipati. Ia mengela nafas panjang,”Keturunan Kerajaan Lu akan menyerah pada masa yang akan datang kepada tetangganya yang di Utara, Kerajaan Qi! Jika cara menguasa tidak disederhanakan, orang-orang itu tidak akan ingin mendekat dengan penguasa mereka. Jika mereka ramah tamah dan terbuka, orang-orang itu pasti akan memberi banyak masukan berharga.” Kenyataannya, hal ini tidak hanya berlaku bagi penguasa sebuah negeri, namun juga bagi orang biasa secara umumnya. Bila seseorang bersikap seperti Boqin, arogan, sulit ditemui dan menganggap diri sendiri sudah tinggi dibandingkan orang lain, siapa yang mau dekat dengannya? Orang lain pasti akan menjauhinya. Sebaliknya, bila seseorang ramah dan terbuka, menghargai orang lain dengan rendah hati dan sikap yang lembut, orang akan dengan sendirinya merasa senang berada didekatnya dan bersedia mendengarkannya. Jika pejabat ramah, terbuka dan tidak arogan, orang-orang akan dekat dengannya. Jika dia angkuh dan pamer diri, orang-orang akan menjauhi dia. Inilah alasan kenapa Jiang Ziya berkata bahwa Kerajaan Lu akan menyerah kepada Kerajaan Qi di masa mendatang. (Erabaru/ngrh) |
Cari Artikel di Era Baru :
Ingin berita terkini EB muncul di Beranda Anda?
Ayo, gabung bersama ribuan penggemar lainnya!

- Pabrik Nuklir Bocor VS Hak-hak Negara Bagian
- Gempa Chili Geser Kota Hingga 10 Kaki
- Otobiografi Dalai Lama Diterbitkan Dalam Bahasa China
- Komnas HAM Panggil Dubes China untuk Indonesia
- Latihan Militer Teroris di Aceh Dikendalikan Dulmatin
- Tanduk Misterius Seorang Nenek
- Saat Menstruasi Jangan Minum Teh Hijau
- NASA Rilis Gambar Pertama Dari Pemetaan Antariksa
- Teknologi Modern Berdampak Pada Menurunnya Kemampuan Fisik Manusia
- 7 Sen
- Misteri Penampakan Naga
- Membayangkan Plum Dapat Menghentikan rasa Haus
- Misteri Penampakan Naga
- Korban Penyergapan Teroris Aceh Bertambah
- Cara Mengecilkan Perut
- 'Udumbara' Bunga Budha Langka, Ditemukan di Tiongkok
- Tanduk Misterius Seorang Nenek
- Gempa Chili Telah Memperpendek Rentang Hari
- NASA Rilis Gambar Pertama Dari Pemetaan Antariksa
- Artikel Tentang ‘Udumbara’ Lenyap Dari Media China
- Saat Menstruasi Jangan Minum Teh Hijau
- Baku Tembak Polisi dan Teroris, Sepuluh Orang Tumbang
- Jamur yang Bisa Membuat Menari
- Menimbang Sejenak Ajaran Lurus
Di dalam kebudayaan dewata, sikap ramah dan terbuka (rendah hati) adalah merupakan suatu penjelmaan peningkatan moral yang tinggi; dan juga perwujudan sikap menghargai orang lain. Orang-orang akan menaruh hormat dan senang terhadap orang seperti ini, dan mau mendengarkan dia. 

Mozilla Firefox