| Aksi Protes Aktivis China di Bandara Jepang Berakhir |
| Oleh: Yu Yin | Jumat, 05 Februari 2010 |
|
Mr. Feng memasuki Jepang dua hari berikutnya dan akan tinggal di rumah saudaranya sebelum bertolak kembali ke Shanghai pada Tahun Baru China, 14 Februari mendatang. Pemerintah Jepang memulai negosiasi dengan rezim komunis China karena masalah ini harus ditangani bersama setelah aksi uniknya menjadi sorotan media internasional sebelum Natal tahun lalu. Sejumlah elemen masyarakat, baik secara individu maupun organisasi telah mengunjungi Feng di bandara itu, dengan memberikan donasi berupa uang dan mi instant serta kebutuhan sehari-hari lainnya. Ia terus berhubungan dengan basis pendukungnya lewat Twitter, di mana ia memperoleh sekitar 14.000 dukungan. "Kini saya sangat tenang karena ini adalah hak-hak saya," katanya kepada wartawan Sound of Hope. "Saya tidak berpikir, pemerintah China akan menciptakan situasi seperti ini lagi; Tidak akan ada lagi hal sangat bodoh yang dilakukan pemerintah dengan menghalangi seorang warga memasuki negaranya pada masa mendatang....cukup sekali ini saja," imbuhnya. Sebelum Mr. Feng memulai aksinya di bandara Tokyo, ia telah delapan kali ditolak memasuki China sejak Juni lalu karena upaya advokasi hak-haknya. Selama tiga bulan Mr. Feng terkurung di dalam ruang kaca bandara tersebut. Ia tidur di bangku bandara dan tidak mendapatkan udara segar maupun sinar matahari. "Hari-hari yang menyedihkan," ujarnya. "Saya tidak dapat tidur dengan baik dan tidak pernah mandi selama 90 hari ini. Suasana benar-benar membosankan. Dapat saya katakan pengalaman itu lebih menyakitkan dibandingkan di penjara. Sebagai aktvisi, ia diketahui telah pernah dipenjara di China. Alasan mengapa ia tetap bertahan dan bahkan berhasil kembali ke rumah: "Saya telah menduga bahwa hasilnya akan seperti ini. Ini hanyalah soal waktu. Saya layak memperoleh hak-hak saya sebagai warga negara China." (EpochTimes/SOH/sua) |
Jepang - 2 Februari lalu, aktivis China, Feng Zhenghu, mengumumkan bahwa ia telah mengakhiri aksinya di Ban dara Internasional Narita, Jepang, setelah partai komunis China mengijinkan ia kembali pulang ke China. Ia terkurung di 'ruang kaca' bandara tersebut sejak November tahun lalu.

Mozilla Firefox