Era Baru News >> China News & Culture >> China Update >> Epidemi H1N1 Ditutup-tutupi Para Pejabat China
Epidemi H1N1 Ditutup-tutupi Para Pejabat China
Oleh: Fang Xiao Minggu, 22 November 2009

Kasusnya H1N1 telah ditemukan di banyak tempat di China, dan sepertinya pemerintah lokal setempat memilih untuk tidak mau tahu keseriusan dari epidemi ini. Di Provinsi Guangdong dan Jiangxi, pasien di diagnosa mengidap H1N1 setelah mereka meninggal.

Wabah besar di Sekolah Menengah di Hubei

Seorang warga dari Kota kecil Bao'an, Huangshi di Provinsi Hubei mengatakan kepada The Epoch Times bahwa 3.000 siswa pada sekolah SMA 3 Daye ikut terjangkit H1N1. Sekolah telah menutup kelas selama seminggu sejak tanggal 18 November.

Warga lain mengatakan 70.000 warga Bao'an belakangan ini telah mengalami hujan dan badai salju, hujan  badai dan angin topan ganas. 'Sekarang H1N1 menyerang, dan kami khawatir dan ketakutan. Kami bersembunyi dirumah bahkan tidak berani keluar rumah."

The Epoch Times menghubungi pejabat di Kantor Hubungan Akademi di Sekolah Menengah Ketiga Daye. Seseorang yang menjawab telepon mengatakan tidak ada para senior yang masuk sekolah. Ketika ditanyakan jumlah kasus H1N1, orang itu menghindar dan menutup telepon.

Seorang pejabat dari Balai Kota Bao'an mengatakan kepada The Epoch Times dalam wawancara telepon dia tidak tahu kalau ada kasus H1N1 di kotanya.

Diagnosa setelah kematian

Pada tanggal 17 November, kematian pertama dari H1N1 dilaporka dari Provinsi Jiangxi. Virusnya diketahui setelah pasien meninggal dunia-tiga hari setelah munculnya gejala.

Menurut pernyataan dari Departemen Kesehatan di Provinsi Jiangxi, pasien itu adalah seorang wanita berumur 18 tahun dan musid dari Kota Nanchang. Pada tanggal 14 November dia mengalami gejala panas badan, pusing dan batuk-batuk dan hidung keluar ingus. Dia di rujuk kerumah sakit di Kota Nanchang pada tanggal 16 November dan meninggal pada jam 4 pagi. Pada hari berikutnya tanggal 17 November jam 8 pagi Pusat Pengendalian Penyakit Menular di Nanchang memastikan bahwa korba meninggal karena terjangkit virus H1N1.

The Associated Press melaporkan kasus yang sama di Provinsi Guangdong.

The Epoch Times menghubungi bagian gawat darurat dari Rumah Sakit tersebut untuk mendapatkan informasi lebih lengkap, tetapi di anjurkan ke departemen yang lain. Ketika wartawan kami berbicara dengan Direktur Kantor, menanyakan mengapa diagnosa H1N1 baru diketahui setelah pasien meninggal, menyatakan dia tidak tahu tentang hal itu, dan menutup telepon.

Dalam wawancara dengan The Epoch Times, Andrew Cheng, anggoa dari Dewan Hubungan Kesehatan Umum di Badan Legislatif Hong Kong, ditanyakan tentang apakah pejabat China secara sengaja menutupi Epidemik. Cheng meminta para penguasa untuk tidak mengulangi kesalahan yang dibuat ketika berjangkitnya epiemik SARS.

Saya berharap agar pemerintahan pusat tidak menutup mata dan pura-pura tidak terjadi apa-apa. Ketika terjadi musibah dan epidemik, rezim Komunis China selalu menanganainya dengan cara yang sama seperti penanganan SARS bahkan lebih buruk. Pemerintah harus mendapatkan informasi dari yang paling dalam, dari pada pura-pura mengatakan tidak terjadi apa-apa."

Cuaca dibeberapa tempat di China menjadi sangat dingin belakangan ini. Laporan dari Harian The Guangzhou bahwa Zhong Nanshan, anggota dari Insinyur Akademi China, mengatakan perubahan mendadak dari cuaca akan menyebabkan datangnya musim flu yang lebih awal. Zhong juga menyatakan keraguannya terhadap laporan para pejabat atas kematian dari kasus H1N1. "Menutupi kebenaran akan menyebabkan bencana yang lebih besar," katanya.

Read the original Chinese article.

 

Klub Bisnis Internet Berorientasi Action

Bagikan halaman ini ke :

| |

Cari Artikel di Era Baru :

Ingin berita terkini EB muncul di Beranda Anda?

Ayo, gabung bersama ribuan penggemar lainnya!

eb mobile