Era Baru News >> Featured News >> Opini >> Pendidikan di Zaman Tiongkok Kuno
Pendidikan di Zaman Tiongkok Kuno Array Cetak Array  Surel
Ditulis oleh Clearwisdom.net   
Selasa, 17 April 2012 15:52

alt

Pada 2011 lalu, seorang profesor asal China pada sebuah forum di Davos, Swiss membahas alasan mengapa sistem pendidikan di China telah gagal dalam beberapa dekade terakhir.

Dia menunjukkan bahwa pemerintah China tidak menganggap penting pada karakter moral siswa. Dia mengatakan, “Sejak SD kita semua telah diajarkan untuk berbohong. Kita secara bertahap telah menjalani jalur itu langkah demi langkah.”

Profesor itu mengungkapkan dasar yang valid. Meskipun lembaga pendidikan tinggi dan mahasiswa dapat ditemukan di mana-mana di China, sangat sedikit bakat sejati yang muncul. Sebaliknya, kecurangan akademik tersebar secara luas.

Jadi, meskipun siswa memiliki nilai yang tinggi, hanya ada sedikit unsur akademik di belakang nilai itu. Apa alasan dibalik semua ini? jawabannya akan menjadi jelas ketika kita membandingkan sistem pendidikan Tiongkok kuno dengan China saat ini.

Seorang sarjana zaman dahulu pernah berkata, “Saat membentuk sebuah negara atau mendidik seseorang, mengajar adalah yang utama.”

Budaya Tionghoa sebenarnya didirikan di atas kehidupan luhur. Oleh karena itu, semua orang termasuk kaisar menganggap kultivasi diri sebagai dasar dalam menjalani hidup yang sukses. Mengajar berarti mendidik orang. Bagian paling penting dari mengajar adalah untuk menumbuhkan kebajikan yang mulia.

Hal itu, sebagaimana dinyatakan dalam Analect of Confusius (Lun Yu), “Belajar pengetahuan bukanlah akar dari pengajaran. Yang utama adalah untuk mengkultivasi kebajikan, seperti sikap bakti, kasih persaudaraan, belas kasih, rasa hormat, dan ketulusan. Jika waktu memungkinkan, orang dapat mempelajari beberapa pengetahuan lain setelah itu.”

Kitab Ajaran Besar atau Dā-xúeDā-xúeDā-xúeDā-xúe, yang aslinya adalah satu bab dalam Buku Ritual atau Lǐjė, konon ditulis oleh murid-murid Konfusius. Ajaran Besar, Doktrin Jalan Tengah yang juga termasuk dalam Buku Ritual, The Analects of Confucius, dan The Mencius bersama-sama membentuk Empat Buku pada masa sarjana berikutnya.

Pada zaman Tiongkok kuno, anak-anak mulai bersekolah ketika mereka berusia delapan tahun. Mereka diajarkan aturan perilaku dasar dan keterampilan hidup, termasuk cara menyapa seseorang dan bagaimana melakukan pekerjaan rumah tangga sehari-hari. Mereka juga mempelajari bidang musik, memanah, kaligrafi China, dan matematika.

Ketika mereka berusia 15 tahun, mereka mempelajari bentuk pendidikan yang lebih tinggi, yang mensyaratkan untuk mempelajari cara meluruskan hati, kultivasi diri, mengurus keluarga, dan ilmu pemerintahan. Mereka melakukan ini agar menjadi individu yang terkultivasi-baik dengan karakter yang mulia.

Pendidikan pada zaman kuno, Mereka menekankan kultivasi diri dalam segala hal yang anak-anak lakukan termasuk hubungan pribadi, masalah antar negara, dan memerintah negara.

Kalimat pertama dalam Ajaran Besar menyatakan bahwa tujuan pembelajaran adalah, “Untuk menumbuhkan kebajikan besar yang diberkati oleh langit dan mencapai tingkat keadaan jiwa yang penuh belas kasih.” Belas kasih bisa sangat berguna dalam memimpin orang. Untuk memimpin orang dengan sukses, orang harus dekat dengan mereka dan mengasihi mereka.”

“Kaisar harus berbelas kasih; seorang pejabat harus menghormati kaisar; anak harus berbakti kepada orang tuanya; orang tua harus memiliki sifat kasih sayang, dan teman harus tulus satu sama lain. Ketika itu, semua orang berusaha mencapai keadaan jiwa yang penuh belas kasih untuk sesama.”

Dalam Ajaran Besar ada juga dinyatakan bahwa “Mendorong kebajikan muncul setelah memerintah negara, “Memerintah negara muncul setelah mengatur keluarga; dan mengatur keluarga muncul setelah kultivasi diri.”

Kultivasi diri difokuskan kepada kultivasi kebajikan dan nilai etika. Orang kuno mempelajari prinsip materi untuk memperoleh pengetahuan dan mencari Tao (Jalan). Mereka mengkultivasi pikiran mereka, memurnikan hati mereka, dan dengan tulus mengkultivasi diri mereka.

Seseorang dengan kebajikan besar, perilaku lurus, dan pengetahuan akan secara otomatis memiliki kemampuan untuk mengatur keluarganya, memerintah negara, dan memimpin dunia dengan cara damai.

Tujuan pendidikan pada zaman itu adalah untuk membesarkan anak agar menjadi mandiri dan menjadi orang dewasa yang bermartabat dengan kebajikan besar dengan cara kultivasi diri yang sejati. Menilai apakah seseorang itu berkemampuan atau tidak, tidak ada hubungannya dengan usia, pengetahuan, kekuatan, kekayaan, atau kebangsawanan.

Sebaliknya semuanya berhubungan dengan karakternya. Keunggulan Ajaran Besar terletak pada aspek mendorong kebajikan, yaitu mensyaratkan orang untuk menghapus sifat negatif dari pikiran mereka dan terus-menerus meningkatkan standar moral mereka.

Dengan demikian, orang bijak berdiri di antara langit dan bumi dengan bermartabat. Dia penuh belas kasih, bijaksana, dan berani. Seberapa besar tanggung jawab yang bisa diemban seseorang tergantung pada seberapa luas hatinya, seberapa besar kebajikannya, dan seberapa baik bakat dasarnya.

Sebuah keluarga, negara, atau dunia, meskipun berbeda cakupannya, mengikuti prinsip yang sama. Dengan demikian, makmur atau merosot, dan berhasil atau gagalnya pengelolaan sebuah keluarga, negara, atau dunia, semua terkait erat dengan kultivasi seseorang.

Prinsip ini dapat diperluas dan berlaku untuk memerintah negara dan memimpin dunia dengan damai. Seseorang yang pengasih, ketika memimpin orang, haruslah penuh belas kasih. Oleh karena itu, orang yang berkultivasi dengan baik, orang yang mulia dapat mengelola keluarganya dengan baik dan juga dapat memerintah negara dengan baik.

Orang itu pasti akan merekrut orang-orang berbakat dengan kebajikan besar dan memimpin dunia dengan damai. Jika semua orang menekankan pentingnya kultivasi diri, mengemban tanggung jawab pribadinya, dan dari diri sendiri melakukan dengan baik, maka dunia akan damai.

Sebaliknya, jika tidak ada yang mengkultivasi dirinya sendiri tapi selalu memikirkan bagaimana mengontrol orang lain, mereka tidak akan bisa meningkat. Akibatnya, pejabat di posisi yang lebih tinggi akan memiliki kebajikan atau kemampuan yang sangat rendah dan secara terus menerus mengandalkan penindasan dan penyiksaan untuk memerintah orang.

Di Tiongkok kuno, banyak orang menitik-beratkan pada kebajikan. Mereka merangkul seluruh dunia, memikirkan negara dan rakyat mereka, dan mencari Jalan Besar untuk hidup mereka.

China masa kini, siswa dipaksa mempelajari budaya Partai Komunis China (PKC) dan sejarahnya yang palsu. Ketika kebohongan ada di mana-mana, bagaimana kebenaran dapat disebarkan? jika pemikiran mandiri tidak ada, maka bagaimana seseorang bisa mendorong munculnya kreativitas?.

Pertunjukan Shen Yun Performing Arts dengan kemurnian, kebaikan, dan keindahannya, telah menghidupkan kembali esensi peradaban China yang telah dihancurkan PKC ketika mereka mengambil alih China. Pertunjukan Shen Yun di seluruh dunia memukau seluruh dunia, mengembalikan kembali ketertarikan akan budaya tradisional Tionghoa yang sejati. (Clearwisdom/art)

 

Bagikan halaman ini ke :

|