| Tidak Iri Hati dan Mengejar Nama |
| Qing Yan | Jumat, 27 November 2009 |
|
Lu Yuqin adalah penasihat politik penting Kaisar Taizhu, pendiri Dinasti Song. Lu Yuqin dikenal sebagai dermawan berbudi yang tidak iri hati pada orang lain. Sebelum Kaisar Zhao Kuangyin mendirikan Dinasti Song, Lu mengabdi pada Dinasti Zhou. Ketika Zhao Kuangyin mendengar kemampuan Lu Yuqin, ia mengambil Lu sebagai seorang penasihat. Zhao Kuangyin kemudian mendirikan Dinasti Song dan menjadi Kaisar Zhu, bersama dengan Lu Yuqin, Zhao Pu dan Li Chuyun, bersama-sama mendirikan Dinasti Song. Kecuali Lu, semua anggota pendiri, seperti Zhao Pu dan Li Chuyun, diberi posisi tinggi oleh Kaisar Zhu, hanya Lu yang tidak. Rata-rata orang mungkin akan menaruh dendam terhadap Kaisar Zhu, tapi Lu tidak. Tak lama kemudian, Li Chuyun diturunkan dari kedudukannya di negara bagian Zizhou, dan ketika Lu Yuqin kembali dari sebuah perjalanan, Kaisar Taizu memanggil Lu untuk bertanya kepadanya tentang Li Chuyun. Jika Lu Yuqin iri hati terhadap Li Chuyun, dia bisa saja mengambil kesempatan untuk berbicara buruk tentangnya. Sebaliknya, dia mengatakan kepada Kaisar Taizhu untuk mempertahankan posisi Li. Pada akhirnya, Kaisar Taizu setuju dengan pendapat Lu. Kemudian Zhao Pu menyerang Kaisar Taizu dalam perdebatan. Rekan-rekannya di istana menjauhi Zhao Pu dan mencelanya, berharap menggunakan kesempatan ini mendapat kedudukan lebih tinggi. Lu satu-satunya yang memberi alasan kepada Kaisar Taizu atas nama Zhao Pu, sehingga Taizhu tenang. Lu Yuqin menjadi terkenal karena kemurahan hati, kejujuran, dan tidak irihati. Dia sangat dipuji sebagai tetua yang saleh. (Erabaru.net/art) |
Google Custom Search
Ingin berita terkini EB muncul di Beranda Anda?
Ayo, gabung bersama ratusan penggemar lainnya!
Cari Artikel di Era Baru :
- 8.000 Perempuan Kongo Diperkosa
- Keberhasilan Operasi Ginjal Di Indonesia Diatas 90%, Ngapain Harus Ke Luar Negeri?
- Kisah Valentine Tiongkok: Cinta Niu Lang dan Bidadari
- Obama Juluki Badai Timur Laut "Snowmageddon"
- Ledakan Pembangkit Listrik di Connecticut, 5 Tewas dan 26 Luka-luka
- Panitia Angket Segera Investigasi Bank Century
- Upah Tak Dibayar, Pekerja Migran China Protes
- Keledai dan Pemiliknya
- Tidak Mengenali Siapa Dirimu
- Aktivitas Ledakan Bintang Dalam Galaksi Berakhir
- Panjang Umur Harus Mengutamakan Akhlak dan Selaras dengan Alam
- Berikan Anak Hadiah Seumur Hidup
- Letusan Dahsyat Gunung Berapi Nyaris Akibatkan Bumi Kiamat
- Misteri Benda Angkasa Mirip Ubur-ubur
- Kucing Peliharaan "Ramalkan Kematian"
- Tersesat di Dasar Laut Selatan II
- Gempa Bumi Bencana yang Tak Bisa Diramalkan dan Mematikan
- Tekhnologi Scanner Ungkap Misteri Mumi 4.000 tahun
- Roche 'Perusahaan Terburuk Tahun Ini'
- Aktivitas Ledakan Bintang Dalam Galaksi Berakhir
- Tersesat di Dasar Laut Selatan III
- Nepal Rolwaling Trek, Perjalanan ke Lembah Terpencil
- Perang Cyber China Vs AS
- Dua Koin Nikel dan Lima Penny


Dalam kebudayaan tradisional Tiongkok, diyakini bahwa setiap orang memiliki nasibnya sendiri dan keberuntungan sesuai dengan apa yang telah dilakukan dalam kehidupan sebelumnya. Keyakinan seperti itu juga lazim di dunia kultivasi. Hal ini diyakini bahwa seseorang yang merugikan orang lain karena iri hati atau merasa diperlakukan tidak adil tidak akan mengubah nasibnya. Sebaliknya, hal ini akan menciptakan karma dan mengurangi pahala pada kehidupan berikutnya. Dengan pemikiran ini, seseorang harus berusaha untuk menjadi lebih murah hati dan pemaaf, melepaskan kecemburuan, karena hanya akan merugikan orang lain dan dirinya sendiri.



Mozilla Firefox