| AS Masih Berharap Iran Ubah Pikiran Soal Nuklir |
| Era Baru News | Sabtu, 21 November 2009 |
|
Washington, 21/11 - Amerika Serikat, Jumat, mengatakan Washington berharap Iran masih mau menerima pembentukan kepercayaan kesepakatan nuklir, pada saat negeri itu berencana bertemu lagi dengan lima negara kuat lain guna membahas langkah-langkah untuk menghentikan penentangan Teheran. Dalam pertemuan di Brussels, Jumat, keenam negara kuat menyampaikan ketidak-puasan bahwa Iran "tidak menanggapi secara positif" kesepakatan untuk pengiriman bahan bakar nuklir yang sudah diperkaya tingkat rendah ke luar negeri, atau menyepakati perundingan baru. Namun wakil juru bicara Departemen Luar Negeri AS Robert Wood mengatakan bahwa AS dan mitra perundingannya, Rusia, China, Inggris, Prancis dan Jerman, berpendapat belum saatnya menutup pintu dialog. Ketika berbicara kepada para wartawan di Washington, Wood mengatakan bahwa keenam negara kuat akan mengadakan pertemuan lain guna membahas "langkah-langkah selanjutnya". Namun dia menambahkan bahwa belum ada tanggal yang pasti bagi pertemuan itu. Pada waktu lalu, AS mengajukan kemungkinan putaran perundingan lain mengenai sanksi terhadap Iran itu. "Kami tentu mengharapkan bahwa mereka akan mengubah pikiran mereka," kata Wood, saat seorang wartawan menanyakan bahwa ada keraguan untuk segera membahas langkah-langkah baru yang diperlihatkan oleh enam negara besar tersebut, untuk mendapatkan jawaban positif dari Teheran. Rencana pengiriman uranium yang sudah diperkaya dalam tingkat rendah ke luar negeri, berdasarkan kesepakatan yang didukung Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), bertujuan untuk menghilangkan kekhawatiran bahwa Iran masih melakukan penambahan cadangan nuklirnya. "Ini pada dasarnya adalah sesuatu yang harus Iran sepakati," kata Wood kepada para wartawan. Di Jenewa 1 Oktober, Iran mengatakan bahwa Teheran telah siap untuk mengirim sebagian besar uraniumnya yang sudah diperkaya dalam tingkat rendah ke Rusia, untuk diperkaya lebih lanjut. Bahan baku itu kemudian akan dijadikan bahan bakar untuk reaktor riset Teheran yang ditangani oleh Prancis. "Saya tak tahu mengapa Iran tak bisa mengatakan `ya` sampai sekarang. Semua itu dilakukan berkaitan dengan ... situasi politik di dalam negeri di Iran. Namun, untuk itu, sungguh sulit untuk mengatakan," kata Wood. Pemimpin Iran telah menghadapi aksi-aksi protes sejak Mahmoud Ahmadinejad terpilih kembali menjadi presiden, Juni lalu, peristiwa yang disengketakan secara luas. (Ant/top)
|
Cari Artikel di Era Baru :
Ingin berita terkini EB muncul di Beranda Anda?
Ayo, gabung bersama ribuan penggemar lainnya!

- Tips Memperpanjang Umur Baterai Laptop
- Bagian Tubuh Atas Sakit Diobati dengan Bagian Tubuh Bawah
- Polisi Belum Temukan Bom Rakitan Dulmatin
- Pabrik Nuklir Bocor VS Hak-hak Negara Bagian
- Gempa Chili Geser Kota Hingga 10 Kaki
- Otobiografi Dalai Lama Diterbitkan Dalam Bahasa China
- Komnas HAM Panggil Dubes China untuk Indonesia
- Tanduk Misterius Seorang Nenek
- Saat Menstruasi Jangan Minum Teh Hijau
- NASA Rilis Gambar Pertama Dari Pemetaan Antariksa
- Teknologi Modern Berdampak Pada Menurunnya Kemampuan Fisik Manusia
- 7 Sen
- Misteri Penampakan Naga
- Cara Mengecilkan Perut
- 'Udumbara' Bunga Budha Langka, Ditemukan di Tiongkok
- Tanduk Misterius Seorang Nenek
- NASA Rilis Gambar Pertama Dari Pemetaan Antariksa
- Saat Menstruasi Jangan Minum Teh Hijau
- Artikel Tentang ‘Udumbara’ Lenyap Dari Media China
- Baku Tembak Polisi dan Teroris, Sepuluh Orang Tumbang
- Jamur yang Bisa Membuat Menari
- Menimbang Sejenak Ajaran Lurus
- Teknologi Modern Berdampak Pada Menurunnya Kemampuan Fisik Manusia
- Latihan Militer Teroris di Aceh Dikendalikan Dulmatin



Mozilla Firefox