Jakarta - Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) meluncurkan varietas baru kedelai unggul dengan ukuran biji super besar dengan berat 23,4 gram per 100 butir yang diberi nama Mutiara 1.
Sebuah penelitian berskala internasional yang memanfaatkan teknologi komputer merekayasa ulang teknik menangkap mangsa burung Moa, spesies burung purba yang hidup di masa prasejarah.
Seekor ikan paus yang tertangkap di lepas pantai Taiwan, pada 1995, ditemukan sedang mengandung 304 embrio dengan tahapan pertumbuhan yang berbeda. Beberapa diantaranya ada yang masih terbungkus dalam telur.
Dua ilmuwan, yakni Dr. Jennifer Schmidt dari Universitas of Illinois, Chicago dan Dr. Shoou-Jeng Joung dari National Taiwan Ocean University, telah menghabiskan waktunya bertahun-tahun untuk mengembangkangkan DNA menandai genetika sejumlah ikan paus, menyimpan serta menentukan garis keturunan dari 29 embrio tersebut.
"Masing-masing embrio ini memiliki usia berbeda, tidak seperti pada spesies hewan lain, yang memiliki pejantan sama," ujar Schmidt dalam sebuah jumpa pers.
Ditemukan bahwa paus betina menyimpan sperma setelah terjadinya suatu proses perkawinan hingga kemudian membuahi telurnya sendiri.
"Kami sangat berhati-hati dalam menarik suatu kesimpulan dari masing-masing paus yang baru lahir, karena data menunjukkan paus betina menyimpan sperma setelah terjadinya suatu proses perkawinan hingga kemudian membuahi telurnya sendiri," tambah Schmidt.
Hal ini sebelumnya diketahui bahwa sebagian besar ikan hiu dibuahi oleh lebih dari satu pejantan. Penelitian tersebut diterbitkan secara online dalam Endangered Spesies Research. (EpochTimes/sua)
Pasifik Selatan - Para ilmuwan mengklaim bahwa, gempa ganda yang dahsyat mengakibatkan bencana tsunami yang menghancurkan sebagian Pasifik Selatan, pada 2009 lalu.
Awal abad ke-21 ini, terdapat dua tahun peringatan yang penting, yaitu 2005 dan 2009. 2005 merupakan peringatan 100 tahun Einstein menemukan teori Relativitas, sedangkan pada 2009 adalah kurun waktu 150 tahun Darwin mengumumkan teori Evolusi.
Sejumlah Insinyur dari Universitas Stanford berhasil menemukan sebuah cara menggunakan energi surya secara efektif sehingga efisiensinya menjadi hampir tiga kali lipat dari angka sekarang.
Para peneliti telah merancang sikat gigi yang membersihkan gigi dengan prinsip reaksi kimia bertenaga surya pada mulut. Metode ini tidak memerlukan pasta gigi di dalam proses membersihkan gigi.