Home

Putri Qin Rongqian, menolak tawaran uang diam, dan terus melanjutkan tindakan hukum terhadap para penganiaya ayahnya.

Ayahnya, Qin Yueming, dibunuh oleh sejumlah sipir penjara pada bulan Februari 2011, ia dianiaya karena berlatih Falun Gong, sebuah latihan spiritual berdasarkan prinsip Sejati, Baik, dan Sabar, yang hingga kini masih dianiaya oleh Partai Komunis Tiongkok.

Putrinya telah menghubungi pengacara HAM ternama, Jiang Tianyong; dia menekan kompensasi melawan penguasa dan bersama-sama dengan Jiang mulai melitigasi di Heilongjiang, provinsi tempat tinggal keluarganya, melawan para penganiaya.

Pengadilan Tinggi Provinsi Heilongjiang gagal menanggapi kasus yang diajukan oleh Jiang pada tahun 2011, sehingga pasangan ini pergi ke Beijing untuk mengajukan petisi. Sekarang, beberapa bulan setelah upaya hukum  awal dimulai, para pejabat mendekati Qin Rongqian untuk "menyelesaikan masalah tersebut secara pribadi," kata sumber yang dapat dipercaya.

Taktik ini berbeda dari praktek yang biasanya dilakukan rezim terhadap Falun Gong—"merusak reputasi mereka, membangkrutkan mereka secara ekonomi-finansial, dan menghancurkan mereka secara fisik," yang awalnya dilakukan oleh Jiang Zemin—dan bisa menjadi tanda ketidakpastian pada bagian dari mereka yang terlibat dalam kampanye tersebut, apakah itu masih memiliki mata uang politik, atau apakah akan tetap menjadi prioritas bagi kepemimpinan baru Xi Jinping.

Mereka yang terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia berat terhadap para praktisi Falun Gong sekarang tidak yakin lagi pada sikap pemimpin baru terhadap penganiayaan, dan takut mereka mungkin bertanggung jawab atas kejahatan mereka atau menjadi kambing hitam atas perbuatannya, demikian dikatakan Zhang Sutian, analis urusan politik Tiongkok kepada The Epoch Times.

Mantan kaisar keamanan Zhou Yongkang, salah satu tokoh utama dalam penganiayaan terhadap Falun Gong, baru-baru ini dicopot sebagai kepala Komite Urusan Politik dan Legislatif, dan pensiun dari Komite Tetap Politbiro. Perombakan di eselon atas PKT ini membuat beberapa pejabat tingkat rendah menjadi cemas tentang status kampanye tersebut, menurut Zhang.

Hal ini dicontohkan di Provinsi Hebei baru-baru ini, ketika pejabat tinggi Kantor 610 menulis surat permintaan maaf kepada anak-anak dari sejumlah anggota senior Partai Komunis yang dianiaya karena mereka berlatih Falun Gong.

Kasus Luar Biasa

Setelah Qin meninggal di penjara, istrinya Wang Xiuqing dan putrinya Qin Hailong bertekad untuk menelusuri kebenaran tentang kematiannya, tetapi rezim menghukum mereka berdua 1,5 tahun di Kamp Kerja Paksa Qianjin di Harbin, Provinsi Heilongjiang.

Dengan bantuan beberapa pengacara, putri lain Qin Yueming, Qin Rongqian berhasil mengajukan gugatan terhadap pemerintah dan departemen peradilan bertanggung jawab, dan menuntut penyelidikan atas penyebab kematian ayahnya.

Dia juga mengumpulkan tanda tangan dan cap jempol merah dari 15.000 penduduk di Provinsi Heilongjiang timur laut Tiongkok dalam petisi yang mendesak rezim komunis untuk menyelidiki kasus ayahnya serta membebaskan ibu dan adiknya dari penjara.

"Setiap tanda tangan dan cap jempol dari Anda, kebaikan dan perhatian terhadap masalah ini, akan membantu keluarga saya menemukan keadilan bagi ayah saya dan kebebasan bagi adik dan ibu saya," tulis Qin dalam permohonannya.

Dalam budaya Tiongkok, cap jempol secara tradisional dibuat pada kesempatan untuk bersumpah dan penandatanganan kontrak.

Kematian Qin Yueming telah diekspos di luar Tiongkok, dan telah dibahas oleh beberapa media luar negeri. Kasus ini juga telah menarik perhatian organisasi dunia  seperti Amnesty International.

Taktik Konyol

Di bawah pengawalan polisi setempat, direktur Kantor 610 Jinshantun di Kota Yinchun, Qin Handong, datang untuk melihat Rongqian pada 14 Oktober 2012.

"Saya hanya melakukan kunjungan karena Kongres Partai ke-18 akan diadakan segera. Saya ingin menyelesaikan kasus ini secara pribadi sesegera mungkin, " dilaporkan oleh seorang saksi yang mendengar percakapan itu.

Namun, Qin Rongqian tidak tertarik dalam proposal tersebut dan menolak tawaran untuk menyerah dalam mencari keadilan.

Pada 19 Oktober lalu, dua perwakilan dari Kantor 610 Provinsi Heilongjiang, mengklaim menjadikan "khusus dalam penelitian psikologis dan didedikasikan untuk mengubah Falun Gong," mengunjungi istri Qin dan putri lainnya di Kamp Kerja Qianjin.

Para perwakilan tersebut mengatakan mereka akan membantu para wanita itu menangani kasus ini, dan juga bisa memfasilitasi pembebasan mereka. Tapi ibu dan anak itu menolak untuk bekerja sama.

Pada 26 Oktober, empat perwakilan, termasuk direktur kamp kerja paksa, Wang Yaluo, bertemu dengan wanita tersebut.

"Dengar, Kongres Partai ke-18 akan segera dimulai, kami ingin menyelesaikan kasus Qin Yueming secepat mungkin," sebagaimana dikutip oleh orang dalam.

"Kami dapat membantu Anda melepaskan, membantu dengan perumahan Anda di [Jinshantun, Yichun], dan memberikan kalian bertiga pekerjaan yang Anda tidak akan pernah perlu khawatir tentang kehilangan."

Ketika direktur melihat kedua wanita itu tidak menerima rencana mereka, ia mengusulkan memberi mereka pembebasan bersyarat sehingga mereka bisa mendiskusikan masalah ini dengan Qin Rongqian, putri lain Qin.

"Saya bisa memberikan pembebasan bersyarat 10 hari ', dan Anda boleh kembali jika tidak berhasil," kata Wang Yaluo.

Sementara itu, direktur Kantor Kompensasi di Pengadilan Tinggi Heilongjiang Provinsi, Zhang Yinfeng, juga memohon kepada istri Qin untuk menyelesaikan kasus ini dengan cara kompensasi. Dia menyarankan itu bisa ditangani seperti kasus praktisi Falun Gong lain, yang disiksa hingga meninggal setelah 29 hari penahanan, dan yang keluarganya menerima 840.000 yuan (US $ 135,000) sebagai kompensasi.

"Silakan mempertimbangkan hal itu. Anda dapat menghubungi saya kapan saja Anda inginkan. Pintu saya selalu akan terbuka lebar untuk Anda, "katanya kepada mereka, menurut sumber tersebut.

Sumber tersebut mengatakan bahwa keluarga Qin Yueming meyakini tawaran itu adalah rekayasa dari pejabat Partai korup yang merasa di bawah tekanan. Karena itu, mereka tidak berencana untuk mengambil salah satu tawaran. (EpochTimes/sua)

Read the original Chinese article.

Bagikan ke teman-teman :

berita kehidupan, nasional, internasional

erabaru footerErabaru (Epoch Times Indonesia) hadir dalam bentuk media cetak dan situs online. Kami menempatkan kepentingan pembaca sebagai prioritas utama. Semangat kami adalah memberikan kontribusi bagi pembaca agar dapat meningkatkan kehidupan mereka dan meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap kehidupan sesama baik dalam lingkup lingkungan sekitar maupun lingkup dunia. Jaringan reporter kami tersebar di berbagai belahan dunia, meliput berita lokal yang otentik dan berhubungan dengan dunia global. Kemandirian kami memungkinkan kami dapat memberikan laporan secara luas, fakta yang dapat dipertanggungjawabkan dan menyajikan keberagaman pandangan.